Rabu, 28 Januari 2015

Pengalaman Naik Taksi Omperangan di Kota Mekah

Minggu, 24 Oktober 2010 23:35 WIB

Pengalaman Naik Taksi Omperangan di Kota Mekah
tribunnews batam / istimewa
Surya Makmur Nasution bersama istri di Mekkah.

Jamaah yang hendak berziarah kebeberapa tempat di Mekah harus puas hati dengan kondisi angkutan di sana. Angkutan transportasi penumpang di Mekah, seperti taksi dan angkutan kota, hampir sama dengan Batam. Sama-sama omprengan. Sopir taksi atau angkot boleh menaikkan dan menurunkan penumpang di mana saja.

Tidak hanya itu, satu taksi boleh beberapa penumpang dengan tujuan berbeda. Malah tempat duduk di taksi boleh diisi 4 atau 5 penumpang untuk bagian belakang dan dua penumpang di depan. Jadi, satu taksi boleh diisi 7 penumpang. Itulah pengalaman saya ketika hendak berziarah kebeberapa tempat bersejarah di Mekah, seperti Gua Hiro dan Tsur di Jabal Nur.

Jenis mobil taksi di Mekah, mulai tahun 90-an sampai seri terbaru tahun 2010, seperti Camry dan Altis. Ongkosnya pun tidak sama antara satu penumpang dengan penumpang lain. Jika penumpang yang satu tujuan, misalnya 5 orang, bisa menawar besaran ongkos ke sopir. Jika sopir menyampaikan 5 Riyal, dapat ditawar hingga dua riyal.

Hanya saja, ongkos taksi bisa berubah-ubah. Tidak ada ketentuan atau patokannya. Ongkos perorang, misalnya, dari Maktab Jarwal, tempat penginapan Kloter 1 Embarkasi Batam, ongkos rata-rata 2 riyal atau Rp 5000. Akan tetapi, tarifnya bisa saja jadi 5 riyal, karena penumpangnya hanya 3 orang. Taksi di Mekah tidak pakai argo sehingga penumpang harus pandai melakukan tawar menawar.

Masalahnya seringkali menjadi pertengkaran antara jemaah dan sopir karena kelemahan komunikasi. Sebab, tidak semua sopir mengerti bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Pernah satu kali, seorang penumpang yg tujuannya sama dengan saya ke Jarwal, harus membayar 5 Riyal, padahal saya dan teman hanya bayar 3 Riyal.

Berbeda dengan angkot, tarif kendaraan relatif stabil yakni 2 riyal perorang. Itu dimungkinkan karena jumlah penumpangnya mencapai 14 orang. Tarif penumpang di maktab-maktab lain pun hampir sama. Sebab, maktab tersebut berada di sekitar Masjidil Haram. Untuk maktab yg jauh, sekitar 4 sampai 7 kilo meter, biasanya disediakan bus angkutan. Namun, bus itu kurang praktis karena jam antar jemputnya sudah ditentukan. Sehingga jika jamaah mau berlama2 di Masjidil Haram, harus menggunakan kendaraan sendiri.

Bagi jamaah yang ingin menggunakan taksi atau angkutan disarankan tidak sendirian, apalagi perempuan. Jika mau turun pun, disarankan, penumpang perempuan lebih dahulu turun, baru kemudian laki-laki. Menurut Rizki, seorang pemandu pemotongan dam (bagi jemaah haji tamattuk), mobil bagi bangsa Arab bukanlah sesuatu yang mewah.

Halaman12
Editor: Dedy Suwadha
KOMENTAR ANDA

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas