Sabtu, 4 Juli 2015

Hikmah Berkurban "Jauhkan Diri dari Bermegahan"

Senin, 15 November 2010 21:52

Hikmah Berkurban
Ustadz Ahmad Ghozali, Imam Masjid Raya Baitussyakur Jodoh

Alhamdulillah kita bisa sampai pada Idul Adha tahun ini. Kita pun wajib merenungkan nilai-nilai pada Iedul Qurban ini sebagai bentuk penambahan nilai ketakwaan. Karena pada dasarnya kata Qurban sendiri memiliki makna mendekatkan diri kepada kepada Allah. Kata itu berasal dari kata Qaraba yang artinya berserah.

Setahun sekali, melalui Idul Adha ini, bagi umat muslim yang mampu diperintahkan untuk berkorban dengan bentuk pengorbanan binatang, baik itu sapi maupun kambing. Syariat ini berasal dari peristiwa pengorbanan hewan yang biasa dilakukan oleh Nabi Ibrahim alaihissalam. Ibrahim memang suka berkurban dengan ratusan bahkan ribuan hewan ternak yang dimiliki sebagai bentuk menjalankan perintah Allah.

"Jangankan harta, anak pun akan kukorbankan kalau itu perintah Allah," demikianlah kalimat yang Nabi Ibrahim kelaurkan ketika diatanya oleh umatnya. Sementara Ibrahim terus berdoa agar mendapatkan keturunan sebagai penerus dalam menyebarkan ajaran Allah.

Setelah beberapa tahun, Ibrahim pun ditagih janjinya oleh Allah ketika dikaruniai seorang anak. Ia diperintahkan menyembelih anak semata wayangnya, Ismail. Dengan pasrah ia pun melakukan persiapan untuk melaksanakan perintah Allah itu hingga kemudian pengorbanan diganti dengan hewan kembali atas perintah Allah.

Itulah syariat tentang perintah berkurban yang dalam tradisi umat islam dilakukan setahun sekali, yakni pada Iedul Fitri.  Ditengah bencana yang melanda negeri ini, patut jugalah kita melakukan pengorbanan dalam bentuk lainnya. Saudara-saudara kita di Wasior yang terkena banjir bandang, mereka di Mentawai yang terkena sapuan tsunami, dan mereka yang menjadi korban dari erupsi Merapai di Jogja juga memerlukan pengobanan bagi dari kita.

Apa yang mereka alami adalah bagian dari pada ujian kita juga. Bencana yang itu tak lain merupakan ujian bagi kita untuk meningkatkan ketakwaan.
Takdir Allah tidaklah bisa kita duga. Hanya Allah-lah yang mengetahui tentang kehendak-Nya. Jika Allah akan menurunkan bencana pada suatu kaum, Dia pulalah yang mengetahui kapan bencana itu terjadi. Lukman Al Hakim mengibaratkan bahtera kehidupan di dunia ini sebagai lautan yang sanga luas dan dalam yang menyebabkan banyak insan tenggelam di dalamnya.

Maka jadikanlah diri kita sebagai perahu yang diatasnya adalah bertakwa kepada Allah, sementara muatannya adalah iman dan layarnya adalah tawakkal.

Halaman12
Editor: Dedy Suwadha
KOMENTAR
berita POPULER
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas