Jumat, 4 September 2015

Ponpes Hidayatullah Sememal Karimun Cetak Guru Sendiri

Kamis, 17 Februari 2011 17:55

Ponpes Hidayatullah Sememal Karimun Cetak Guru Sendiri
Tribunnews Batam / Rachta Yahya
Panti Asuhan dan Ponpes Hidayatullah Sememal Karimun.


KARIMUN, TRIBUN- Tidak dapat dipungkiri, peranan pondok pesantren (ponpes) di dalam masyarakat sangat lah besar terutama dikalangan akar rumput. Mereka (ponpes) dengan cara mereka sendiri mampu sedikit-banyaknya membantu pemerintah dalam upaya pengentasan buta aksara.

Ponpes Hidayatullah, Sememal, Kelurahan Pasirpanjang, Kecamatan Meral misalnya, meski dalam perjalanannya, ponpes yang juga sekaligus menjadi panti asuhan ini tidak sedikit mengalami kendala dalam memutar roda perekonomian mereka, ternyata mampu menciptakan kader-kader yang memiliki ilmu pengetahuan tinggi terutama dari sisi ilmu pengetahuan agama Islam.

Dan tidak mau muluk-muluk, harapan pihak panti asuhan/ponpes minimal menjadi tenaga pengajar untuk kalangan panti/ponpes sendiri.

"Alhamdulillah, anak-anak yang telah kita bina disini, telah mampu berbuat banyak, minimal menjadi tenaga pengajar pelajaran agama Islam untuk kalangan kita sendiri," ujar Syaifuddin, seorang pengasuh ponpes Hidayatullahak belum lama ini.

Saat ini, dikatakan Syaifuddin, panti/ponpes yang dirikan pada tahun 2003 tersebut, memiliki 10 dari 13 tenaga pengajar yang merupakan anak asuh panti/ponpes Hidayatullah sendiri. Mereka pada umumnya mengajar untuk pelajaran ilmu agama Islam. Sementara sisanya, sekitar 3 orang untuk ilmu pengetahuan umum direkrut dari luar.

Meski berada di daerah bagian ujung pulau Karimun, namun bukan berarti panti asuhan dan ponpes Hidayatullah fokus menerima anak-anak yatim, yatim piatu dan anak-anak kurang mampu di Kabupaten Karimun saja. Dari 55 orang santrinya, sebagian diantaranya merupakan anak-anak kurang beruntung dari daerah lainnya di Indonesia seperti Medan.

"Jumlahnya santri kita saat ini ada lebih kurang 40 orang di didik di sini (panti asuhan/ponpes, red) hingga tingkat pendidikan setara SMP, dan 15 orang lagi mengikuti pelajaran di luar panti atau pondok pesantren. Mereka pada kebanyak berasal dari Karimun tapi ada juga yang berasal dari daerah lain di Indonesia seperti Medan," terang Syaifuddin.

Halaman12
Editor: Dedy Suwadha
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas