Minggu, 21 Desember 2014
Tribun Batam

Hakim Sorta Ria : Wanita Sekarang Kebablasan

Kamis, 21 April 2011 16:05 WIB

Hakim Sorta Ria : Wanita Sekarang Kebablasan
tribunnewsbatam/ abdul rahman mawazi
Hakim Sorta Ria Neca SH Mhum....
Laporan Abd Rahman Mawazi, wartawan Tribunnewsbatam

BATAM, TRIBUN
- Emansipasi atau kebangkitan wanita yang diprakarsai oleh RA Kartini patut menjadi semangat bagi kaum hanya. Hal itu juga diungkapkan oleh hakim PN Batam, Sorta Ria Neca SH Mhum kepada Tribun, Rabu (20/4/2011).

Baginya kodrat tidaklah bisa dipungkiri oleh siapapun, termasuk juga perempuan yang tidak bisa menjadi menjadi pria. Namun, karir tidaklah menjadi pembeda antara perempuan dan laki-laki. Perempuan tidak hanya berkutat di seputaran sumur, dapur, dan kasur saja, melainkan juga bisa melakukan aktivitas karir di luar rumah.

"Kartini punya cita-cita agar perempuan tidak hanya berada di belakang laki-laki saja, tetapi juga sederajat dan punya harga diri dalam karir dengan kodrat kewanitaannya. Kalau dipikir-pikir, perempuan itu lebih telaten dari laki-laki," ujar perempuan kelahiran Solok, 27 Februari 1968 silam itu.

Ia pun mencontohkan dirinya yang telah berkarir menjadi hakim sejak 1992. Ketika di rumah, ia menjadi ibu rumah tangga dan suami adalah kepala rumah tangga. Ia pun akan melakukan aktivitas sesuai sebagaimana layaknya ibu rumah tangga. Namun ketika menjadi hakim, ia akan melaksanakan tugasnya sesuai amanat yang diemban.

Ada satu pengalaman yang menarik perhatiannya ketika menangani kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Saat itu, ada seorang ibu yang tega menyiksa anaknya yang lahir karena pemerkosaan yang ia alami. Setiap kali marah, kemarahannya dilampipaskan kepada sang anak, bahkan si anak pernah di masukkan dalam karung.

"Itu tidak benar, semestinya seorang ibu memberikan contoh yang baik bagi anak. Zaman sekarang ini, sepertinya perempuan banyak yang kebablasan. UU KDRT memang lebih banyak melindungi perempuan, tetapi hal itu mesti tidak disalah artikan," ujarnya.

Ia pun berharap para wanita tidak hanya memaknai emansipasi secara sempit, melainkan lebih luas dan tentunya juga sesuai dengan norma-norma agama dan sosial yang berlaku. "Marilah kita menjadi wanita modern, tetapi tetap memahami kodrat kewanitaannya," pesannya.
Editor: Dedy Suwadha

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas