A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

RSUD Embung Fatimah Layaknya Seperti Losmen - Tribun Batam
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 3 September 2014
Tribun Batam

RSUD Embung Fatimah Layaknya Seperti Losmen

Minggu, 5 Juni 2011 15:56 WIB
RSUD Embung Fatimah Layaknya Seperti Losmen
tribunnewsbatam/ nazarudin napitu
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah
Laporan Kartika Kwartya, wartawan Tribunnews Batam

TRIBUNNEWSBATAM.COM, BATAM
- Pemerintah Kota Batam baru saja meresmikan gedung baru RSUD Embung Fatimah pada 30 Mei 2011 lalu. Namun ternyata masih banyak hal dari segi bangunan yang menjadi sorotan DPRD Batam.

Anggota Komisi IV DPRD Batam, Udin P Sihaloho menyebutkan bangunan RSUD dengan anggaran Rp 76 miliar ini tidak bisa dikatakan sebuah rumah sakit. Karena banyak fasilitasnya yang tidak mendukung kemudahan akses proses medik.

"Tidak setperti layaknya rumah sakit. Malah bentuknya seperti hotel atau losmen," kata anggota Komisi IV lain, Rusmini Simorangkir menyambung pernyataan Udin sebelumnya.

Poin-poin yang menjadi perhatian antara lain tidak adanya tangga umum untuk akses pengunjung rumah sakit. Sementara lift yang tersedia hanya satu unit (dua pintu) yang digunakan secara bersama untuk pengunjung dan pasien.

"Seharusnya di samping lift ini ada tangga. Sehingga ketika lift penuh antrian, orang punya akses alternatif. Dan lift ini," kata Udin ketika sidak ke RSUD Sabtu (4/6/2011).

Selain itu juga tidak ada akses alternatif untuk pasien dari poliklinik dan UGD ke ruang rawat inap. Akses yang ada hanya melalui lift dari lantai 2, yang harus melewati ruangan rawat inap.

Jika lift penuh maka pasien harus dibawa dari luar UGD di lantai 1 menuju ke Instalasi Rawat Inap di gedung sebelah. Sedangkan akses di luar tidak ada jalan atau selasar yang bisa melindungi pasien dari hujan misalnya.

"Seharusnya tidak boleh membawa pasien melewati ruang perawatan. Tapi belum ada akses lainnya," kata perawat UGD, Hamiko Rivai.

Masalah lain yang terungkap yaitu bentuk jendela di ruang rawat inap yang kurang aman, karena bentuk dan posisinya yang memungkinkan dilewati orang.

"Kalau seperti ini jendelanya pasien bisa lompat. Belum lagi bahaya bagi anak-anak. Seharusnya jendela yang di atas yang dibuka tutup. Kalau seperti ini bahaya," papar Rusmini.

Ketua Komisi IV, Riky Indrakari menyoroti tentang pintu masuk UGD yang akan menyulitkan bagi pasien darurat.

Masalah lain yang disoroti yaitu halaman parkir yang tidak akan mencukupi. Serta posisi jalan di depan RSUD yang rawan banjir.

"Ini juga, kenapa instalasi pengelolaan limbah diletakkan di depan. Biasanya di bagian belakang," tutur Riky.

"Bentuk rumah sakit ini tidak mencerminkan sebuah rumah sakit. Saya tidak setuju dengan lift ini. Pintu masuk bagi pasien dan umum juga seharusnya dibedakan. Saya yakin banyak ruang-ruang yang akan mubazir nantinya," tegas Udin.

Menurut informasi yang diperoleh dewan, pada Selasa ini Pemko akan melantik Direktur RSUD definitif menggantikan Buralimar yang sekarang menjabat sebagai Plt Direktur RSUD.

"Yang kita ingin lihat nanti, bagaimana perencanaan Direktur RSUD baru dalam mengelola rumah sakit dengan kondisi yang ada seperti ini," tutur Rusmini.

Ia menambahkan, untuk apa pengadaan alkes dengan menghabiskan anggaran Rp 84 miliar tapi tidak bisa dipakai karena kondisi bangunan seperti ini.

Tak hanya itu, Sumber Daya Manusia yang ada juga belum seluruhnya bisa mengoperasikan alat kesehatan yang akan dibeli pemerintah.

Akan lebih baik jika terlebih dulu diinventaris alkes mana yang benar-benar bisa digunakan dengan kondisi tersebut.

"Kalau kita punya alkes mahal-mahal tapi tidak bisa dipakai karena kondisi seperti ini mending tidak usah dulu. Kita sepenuhnya mendukung RSUD bisa berkelas jadi Tipe B. Karena kita juga maunya ke depan kita bisa berobat ke sini. Asal pelayanannya ditingkatkan. Fisiknya harus dibenahi dulu. Harus aksesable," tambah Rusmini.

Bahkan tidak menutup kemungkinan ke depannya RSUD ini bisa menjadi Perusahaan Umum Daerah. Sekaligus sebagai provider Jaminan Pelayanan Kesehatan bagi karyawan swasta yang jumlahnya ratusan ribu di seluruh Batam.

"Malah kalau jaminan kesehatan anggota dewan sudah bisa di RSUD kita lebih memilih di RSUD daripada uang yang dibayarkan pemerintah justru lari ke rumah sakit swasta," ujar Riky.
Editor: Dedy Suwadha
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
8519 articles 3 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas