• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 1 November 2014
Tribun Batam

Warga Pendatang: Kalau ke Jambi, Lebih Saya Baik Pindah

Jumat, 21 Oktober 2011 22:29 WIB
Warga Pendatang: Kalau ke Jambi, Lebih Saya Baik Pindah
tribunnewsbatam/ abdul rahman mawazi
Gapura Kepri di Pulau Berhala
Laporan Abd Rahman Mawazi, wartawan tribunnewsbatam.com

Prasasti berbahan marmer itu masih berdiri kokoh tidak jauh dari pemukiman warga pulauBerhala. Kondisinya masih terawat dengan cat yang didominasi warna hijau. Perasasti itu pun batasi dengan pagar besi guna menghindari gangguan tahan jahil yang ingin merusaknya. Itulah prasasti yang disebut menjadi dasar pulau Berhala masuk dalam wilayah administratif pemerintah propinsi Kepulauan Riau.

 

“Pulau Berhala dan pulau-pulau di sekitarnya adalah bagian dari daerah kerajan Lingga Riau berdaarkan contract met den Sultan van Lingga Riuwen Onder Hooriq Heden. dd  I Desember 1857.” Begitulah bunyi tulisan yang terpahat pada marmer kekuning-kuningan itu. Di bagian atas tulisan terdapat lambang Garuda Pancasila.

 

Menurut keterangan warga, prasasti itu dibangun sekitar 2000-an awal ketika mencuat mencuat kabar perebutan pulau Berhala antara pemerintah kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tatnjabtim) dengan pemerintah Kabupaten Kepulauan Riau (sebelum Kepri menjadi propinsi sendiri).  Prasasti itu menjadi penegas tentang pulau Berhala dan pulau-pulau di sekitarnya.

 

Warga pulau Berhala mengakui bahwa kebanyakan pemilik tanah di pulau tersebut adalah orang-orang dari Jambi. Mereka memiliki bukti sah dari surat bertuliskan Arab Melayu pada zaman kerajaan tempo dulu. Apalagi bila dikaitkan dengan sejarah Paduka Berhala yang turun temurunnya saat ini terdapat di tanah Jambi. Turunan yang terkenal itu Orang Kayo Hitam yang hingga saat ini masih banyak dijumpai di Jambi.

 

Akan tetapi, mencuatnya kabar tentang adanya keputusan mentri yang mengesahkan pulau Berhala sebagai wilayah administratif pemkab Tanjabtim membuat warga terusik. Mereka berpegangan pada prasasti yang didirikan oleh pemerintah propinsi Riau itu.

 

“Itu kan sudah jelas. Dulu zaman kerajaan pulau ini kan masuk wilayah kerajaan Lingga Riau. Jadi semestrinya memang ikut ke Kepri lah. Kalau masuk ke Jambi, lebih baik saya pindah,” ujar Bahasir, ketua RT setempat, dengan nada tegas.

 

Ia tidak maen –maen dengan ucapannya itu. Pria yang mengaku dari pulau seberang itu memang sengaja datang dan menetap ke pulau Berhala karena ada sanak familinya yang sudah menetap di pulau itu. Bahkan, seorang pamannya yang hidup pada masa penjajahan dulu masih menetap di pulau tersebut.  “Saya memang tidak tau banyak tentang sejarah, tapi paman saya masih ada. Dia dulu pernah bekerja sama Jepun (Jepang). Dia pasti tau sejarahnya,” ujarnya.

 

Seorang warga asal Tanjambtim yang ditemui Tribun, mengaku memiliki tanah di pulau itu. Namun, sebagian tanah-tanah itu sudah dibeli oleh pemerintah Kepri dan juga pemerintah Jambi. “Yang punya tanah itu mertua saya. Surat-suratnya masih ada, masih pakai bahasa Arab Melayu. Memanglah, kalau dari dulu-dulu yang saya tau Berhala ini masuk Riau. Tetapi entahlah. Saya pun heran. Mestinya masuk Riau sajalah,” ujar kakek yang sengaja datang ke Berhala untuk berjualan saat pemerintah Lingga menyelenggarakan Lingga Fishing Festival selama tiga hari di sana.  

 

Kepada desa pulau Berhala Enci Syarif, pun mengaku heran mengapa pemerintah pusat bisa begitu saja menetapkan Berhala sebagai wilayah dari Tanjabtim. Padahal, selama ini tidak pernah ada uturasan dari pusat yang datang ke Berhala untuk melihat langsung kondisi pulau yang mememiliki potensi bahari itu. Menurutnya, pemerintah pusat hanya mendengar dari satu sisi saja, yakni pemerintah Jambi dan tidak mengkrosceknya lagi.

 

“Tidak ada orang dari pusat yang datang ke sini. Tau-tau, katanya sudah masuk wilayah Jambi.  Kepmen itu tidak adil. Itu keputusan sepihak,” ujar Encik Syarif dengan nada tinggi. Oleh karena itu, ia berharap agar pemerintah Kepri proaktif dalam mendapatkan pulau Berhala ini. “Kabar itu sungguh sangat menyedihkan kami. Kami dukung Kepri untuk memperjuangkannya,” ucap Syarif lagi. (Abd Rahman Mawazi)

Editor: Dedy Suwadha
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas