Citizen Journalism, Heri Exarial BPD Hipmi Kepri
Penyusunan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi
Indonesia. (MP3EI) yang diluncurkan oleh Presiden merupakan roadmap
kebijakan ekonomi SBY dalam jangka panjang. Dengan visi “Mewujudkan
Masyarakat Indonesia yang Mandiri, Maju, Adil, dan Makmur”.
Cetak biru
kebijakan ekonomi, khususnya program investasi untuk tujuan percepatan
pembangunan ekonomi Indonesia diletakkan sebagai fundamental nilai
implementasi tentang arah pembangunan ekonomi Indonesia ke depan. Untuk
itu dibutuhkan perubahan pola pikir (mindset) yang didasari oleh
semangat “Not Business As Usual”.
Perubahan pola pikir paling
mendasar adalah pemahaman bahwa pembangunan ekonomi membutuhkan
kolaborasi bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN,
BUMD dan Swasta dalam semangat Indonesia Incorporated. Perlu dipahami
juga kemampuan pemerintah melalui ABPN dan APBD dalam pembiayaan
pembangunan sangat terbatas. Di sisi lain, semakin maju perekonomian
suatu negara, maka semakin kecil pula proporsi anggaran pemerintah dalam
pembangunan ekonomi.
Dinamika ekonomi suatu negara pada
akhirnya akan tergantung pada dunia usaha yang mencakup BUMN, BUMD, dan
swasta domestik dan asing. Melalui langkah MP3EI, percepatan dan
perluasan pembangunan ekonomi akan menempatkan Indonesia sebagai negara
maju pada tahun 2025 dengan pendapatan per kapita yang berkisar antara
USD 14.250 - USD 15.500 dengan nilai total perekonomian (PDB) berkisar
antara USD 4,0-4,5 triliun. Untuk mewujudkannya diperlukan
pertumbuhan ekonomi riil sebesar 6,4 - 7,5 persen pada periode
2011-2014, dan sekitar 8,0 - 9,0 persen pada periode 2015-2025.
Pertumbuhan ekonomi tersebut akan dibarengi oleh penurunan inflasi dari
sebesar 6,5 persen pada periode 2011-2014 menjadi 3,0 persen pada 2025.
Kombinasi
pertumbuhan dan inflasi seperti itu mencerminkan karakteristik negara
maju. Visi 2025 tersebut diwujudkan melalui 3 (tiga) misi yang menjadi
fokus utamanya, yaitu:
Pertama, peningkatan nilai tambah dan
perluasan rantai nilai proses produksi serta distribusi dari pengelolaan
aset dan akses (potensi)SDA, geografis wilayah, dan SDM, melalui
penciptaan kegiatan ekonomi yang terintegrasi dan sinergis di dalam
maupun antar kawasan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.
Kedua,
mendorong terwujudnya peningkatan efisiensi produksi dan pemasaran serta
integrasi pasar domestik dalam rangka penguatan daya saing dan daya
tahan perekonomian nasional.
Ketiga,
mendorong penguatan sistem inovasi nasional di sisi produksi, proses,
maupun pemasaran untuk penguatan daya saing global yang berkelanjutan,
menuju innovation-driven economy.
MP3EI berisi tentang
rencana investasi, yang akan dilakukan oleh pemerintah, oleh Badan-badan
Usaha Milik Negara dan oleh swasta nasional, yang jumlahnya hampir
mencapai 3000 triliun. Dalam program MP3EI ini, pemerintah berharap bisa
mengundang investasi senilai Rp.4.000 triliun selama 2011-2014.
Dari
sisi BUMN, mereka menargetkan sebanyak 6,6 juta lapangan kerja bisa
tersedot dari target investasi BUMN selama 2011-2014. Total nilai
investasi (capex) selama periode itu akan mencapai Rp.835,6 triliun
sesuai MP3EI. Sementara kalangan pengusaha di dalam negeri sudah siap
mendukung seluruh proyek percepatan dan perluasan pembangunan dan
berkomitmen untuk menggelontorkan dana investasi sebesar US$ 100-150
miliar atau sekitar Rp1.350 triliun. Khusus untuk tahun
ini, BUMN siap berinvestasi Rp.133 triliun.
Peluncuran MP3EI
ditandai dengan dimulainya proyek-proyek ground breaking yang
pencanangannya akan dipusatkan pada empat lokasi, yaitu Sei Mangke
(Sumatera Utara), Cilegon (Banten), Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat),
dan Timika (Papua) dengan pembangunan 17 proyek besar, yaitu:
1. Sei Mangke (Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara) Di
lokasi direncanakan akan dibangun proyek pembangunan Kawasan Industri
Kelapa Sawit Sei Mangke yang akan dilaksanakan oleh PT. Perkebunan
Negara III (PTPN III). Dengan nilai investasi Rp 2,5 triliun dimulai
tahun ini dan diperkirakan selesai pada 2014. Proyek Pembangunan Pusat
Listrik Tenaga Air (PLTA) Peusangan 1 dan 2 dengan daya 2Ă—44 MW di
provinsi Nangroe Aceh Darusalam yang terletak di Takengon, Ibukota
Kabupaten Aceh Tengah di dataran tinggi Gayo. Proyek ini rencananya akan
dibiayai oleh JICA dengan estimasi biaya Rp.1,53 triliun.
Dibangun proyek Broadband Access dan Through Broadband Access Plan oleh
PT. Telkom yang merupakan pemerataan Access Broadband untuk seluruh
wilayah Indonesia. Dimulai tahun ini hingga 2015.
2. Cilegon (Banten)
Proyek
Pembangunan Pabrik Baja Modern yang merupakan join operation antara PT
Krakatau Steel dan POSCO Korea Selatan. Investasinya berjumlah Rp 60
triliun untuk 2 tahap. Pencanangan Proyek FSRU (Floating Storage and
Regasification Unit) Jawa Barat. Nilai proyek Rp 59 triliun. Proyek
perluasan pabrik stamping, engine, casting, dan assembling kendaraan
bermotor oleh PT Astra Daihatsu Motor berlokasi di Kawasan Industri
Surya Cipta Karawang.
Nilai investasi Rp 2,4 triliun, produksi pertama
mulai beroperasi pada 2014.
Proyek jalan bebas hambatan Tanjung
Priok seksi E2 dan NS yang berlokasi di Jakarta. Proyek ini dibiayai
oleh JBIC, Pemerintah Pusat, Pemda, PT Angkasa Pura dan Jasa marga
dengan nilai investasi senilai
Rp.1,6 triliun. Proyek Chemical Grad Alumunium (CGA) berlokasi di
Tayan, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat sebagai rangkaian terakhir.
Pelaksana proyek ini adalah PT Antam Tbk yang diperkirakan selesai 2013
dengan nilai investasi Rp 4,3 triliun.
3. Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat) Proyek
Waduk Pandan Duri berlokasi di Kabupaten Lombok Timur, NTB. Investornya
melibatkan pemerintah pusat, dan pemda dengan nilai investasi Rp 728
miliar. Proyek Bendungan Titab yang akan dibangun di desa Ularan,
Buleleng, Bali. Dilaksanakan oleh pemerintah pusat yang didanai dari
APBN dengan nilai investasi sebesar Rp.481 miliar. Proyek perluasan
pembangunan bandara internasional Ngurah Rai dengan sumber dana oleh
BUMN dengan nilai proyek Rp 1,944 triliun.
4. Timika (Papua) Pencanangan
dibangunnya proyek jalan raya Timika-Enarotali sepanjang 135 kilometer.
Nilai investasi sebesar Rp.600 miliar yang akan dilaksanakan oleh
pemerintah Provinsi Papua dan pemerintah Kabupaten Merauke. Pembangunan
proyek jalan raya dari merauke-Waropko sepanjang 600 kilometer dengan
nilai investasi Rp.1,2 triliun. Proyek Pertambahan dan Pengolahan Nikel
dan Kobal dengan tenaga hidrometalurgi di Kabupaten Halmahera Tengah dan
Halmahera Timur, di Provinsi Maluku Utara. Proyek ini didanai oleh PT
Weda Bay Nickel senilai Rp.50 triliun.
Diharapkan dapat menyerap tenaga
kerja sebanyak 2500-3000 orang saat operasi. Proyek PLTS Miangas (150
kwp) dan proyek PLTS Sebatik (200 kwp) di Kalimantan Timur yang akan
dimulai pada 2011 oleh PLTN. Kedua proyek ini sebagai bagian dari
pembangunan proyek PLTS 100 pulau. Dengan ini diharapkan dapat
meningktakan elektrifikasi di wilayah Indonesia Timur dari 53,08%
menjadi 53,12%. Total proyek tersebut yaitu Rp.190 triliun yang akan
dibiayai melalui BUMN, swasta, Foreign Direct Investment (FDI), dan
APBN.
Diharapkan, ke-17 proyek tersebut dapat
menelan investasi sebesar Rp 4.000 triliun. Sebanyak 17 proyek itu
bagian dari serangkaian proyek ditahun 2014, yang akan menelan investasi
Rp.4.000 triliun.
Namun demikian publik berharap agar
Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia.
(MP3EI) tidak sekedar menjadi kertas kosong. Oleh karenanya pemerintah
diharapkan konsisten dalam menyelesaikan berbagai faktor penyumbat
(debottle necking) yang telah di identifikasi yakni kelambanan dalam
pelayanan birokrasi dan penyimpangan dalam rencana induk, egoisme dan
kebijakan daerah yang menghambat, serta investor tidak bonafid yang
tidak mampu merealisasikan komitmen investasinya, serta ketidak pedulian
dalam penyiapkan regulasi yang pro MP3EI dan kepentingan politik
tersembunyi yang mengalahkan kepentingan program yang telah disepakati.
Tinggal butuh ketegasan dalam menyelesaikan lima penyakit tersebut.***