Lusi Keliling Washington DC Pakai Becak Cuma 10 Dollar AS
Tribun Batam - Jumat, 4 November 2011 16:31 WIB
tribunnewsbatam/ istimewa
Lusi Keliling Washington DC Pakai Becak Cuma 10 Dollar AS
Citizen Jurnalisme Lusia Efriani alias Lusi Pembina UKM
Saya
mengikuti program International Visitor Leadership Program (IVLP)
tanggal 11 Agustus hingga 6 September keliling Amerika Serikat. Kisah
perjalanan mengunjungi berbagai lokasi bisnis, tempat wisata, kantor
pemerintah, museum, keramaian kota di Negeri Paman Sam sangat menarik
dan semoga bermanfaat bagi pembaca termasuk pemerintah dan pelaku usaha.
IVLP
ini merupakan program yang disponsori US Department State. Banyak
cerita lucu dan menarik selama saya berkeliling Amerika dari satu state
ke state lain. Sungguh pengalaman yang sangat berharga sepanjang hidup
saya. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca dan memotivasi
para generasi muda agar menggunakan masa mudanya dengan sebaik baiknya.
Dan khususnya para KKMB yang mungkin sampai sekarang kinerjanya belum
diakui oleh pemerintah Indonesia. Saran saya tetaplah berkarya,
lakukanlah yang terbaik dan yakinlah ada hadiah manis menanti Anda.
Program
IVLP bertujuan untuk membuat dunia menjadi lebih baik. Program ini
sedikit special karena pihak pemerintah Amerika yang memilih siapa siapa
saja yang pantas untuk mengikutinya. Alhamdulilah saya terpilih dalam
program IVLP untuk bidang "Economic Development” bersama satu peserta
berasal dari Medan bernama Muhammad Ishaq.
Dari sekian program
pelatihan atau training di luar negeri, program inilah yang menurut saya
cukup bagus dan menelan biaya besar untuk setiap peserta. Jujur
sebagai seorang Pembina UKM yang sering melakukan study banding ke
beberapa negara, pemerintah Amerika mempunyai metode yang sangat luar
biasa. Secara garis besar selama di sana saya mempelajari peranan NGO,
kewirausahaan, politik, bisnis internasional dan perdagangan,
eco-tourism, fishing industry, free trade zone, industrial park,
kebijakan kebijakan ekonomi dan pertanian.
Program ini sudah
berjalan selama 70 tahun, dan para alumninya hampir rata-rata adalah
presiden presiden di dunia, tokoh politik maupun tokoh terkenal dunia.
Alumni IVLP dari Indonesia antara lain Gus Dur dan Megawati, selain itu
Tony Blair Perdana Menteri Inggris dan M Yunus (founder Gramen Bank)
juga alumni dari program ini.
Keunikan program ini, kami tidak
perlu pintar bahasa Inggris karena telah dipersiapkan penerjemah dan
kami berpindah pindah dari satu state ke state lain selama menjalani
program. Selama melakukan perjalanan ini kami dicover asuransi yang
cukup
mahal, selain itu juga dibekali traveler cek untuk memenuhi kebutuhan
kami selama berada di Amerika.
Saya berkesempatan mengunjungi
Washington DC, Kalamazoo-Michigan, Plainwell-Michigan, Chicago Illinois,
Portland Maine, Los Angeles-California dan San Fransisco. Program
kepemimpinan yang sangat luar biasa, penggemblengan yang dikemas dengan
manis sehingga saya tidak merasa berat menjalani program yang
sebetulnya menguras otak, mental dan fisik.
Becak Di Sekitar White House
Washington
DC adalah kota pertama yang saya singgahi. Kota dimana tempat
pemerintahan Federal Amerika berpusat. Dan beruntung sekali hotel
tempat saya meginap hanya sekitar 2 blok dari “White House”. Di kota
ini saya diberi kesempatan berkunjung ke tempat-tempat penting dan
bertemu orang-orang penting.
Satu hari sebelum program dimulai,
penerjemah dari pihak US Department State mengajak kami berjalan jalan
ke
Smithsonian yaitu sebuah kawasan yang banyak dengan museum dan masuk ke
museum museum itu gratis. Di kota ini saya sempat berkunjung ke US
Department State dimana Hilarry Clinton berkantor dan sempat berdiskusi
dengan para penasehat ekonomi Presiden Obama dan Hilarry Clinton.
Bertemu
dengan salah satu anggota Dewan juga dan sempat berkunjung ke IFC World
Bank dan beberapa kantorpemerintahan yang lainnya. Kebiasaan saya
setiap selesai jam aktivitas, menyempatkan diri berjalan jalan sendiri
ke “White House” dan ini saya lakukan setiap hari. Karena banyak gedung
penting yang biasanya hanya bisa saya lihat di CNN sekarang saya puaskan
setiap hari berjalan jalan di Washington DC.
Saya punya
pengalaman lucu di kota ini. Di seberang jalan dekat “White House” ada
sebuah toko bernama “White House Gift Shop”. Saya melihat semua buku
tentang presiden Amerika lengkap di sini dan harganya sangat murah. Lalu
saya memborong
banyak buku. Sampai-sampai saya menjadi pusat perhatian para
pengunjung toko yang lain.
Kebetulan waktu itu liburan musim
panas sehingga banyak turis berkunjung ke Washington DC. Ada pengunjung
yang melihat saya kesulitan membawa buku buku yang saya beli dan dia
membantu saya memanggilkan pelayan toko. Pelayan toko ini juga agak
heran karena saya membeli banyak buku tentang Presiden Obama.
Pelayan
ini bertanya kenapa saya begitu banyak membeli buku-buku tentang
Obama. Lalu saya cerita kalo Presiden Obama dulu pernah bersekolah di
negaraku waktu dia kecil. Saat saya bercerita kepada si pelayan itu,
beberapa turis sempat tertarik mendengar cerita saya juga dan akhirnya
turis turis itu pada nimbrung mendengarkan cerita saya tentang presiden
Obama dan tentang Indonesia.
Bisa anda bayangkan saya benar
benar jadi pusat perhatian di toko itu. Saya memborong buku sebanyak 4
paper bag. Pelayan ini bertanya apa saya mau naik
taksi. Lalu saya jawab, hotel saya dekat sekali dari sini. Lalu dia
menawarkan untuk mengantar saya ke hotel. Tapi saya tak mau balik
soalnya mau jalan-jalan dulu.
Nah, akhirnya saya ada ide, saya
mau naik becak keliling-keliling di Washington DC. Jadi saya memutuskan
untuk naik becak. Waktu itu saya bilang kepada tukang becaknya kalau
hotel saya itu sangat dekat tapi saya mau keliling-keliling dulu. Saya
tanya berapa ongkosnya. Dia bilang 15 dollar US, akhirnya saya tawar dan
ongkos deal di harga 10 dollar.
Sambil berkeliling saya
bercakap-cakap dengan tukang becak yang berasal dari Perancis ini. Saya
lupa namanya tetapi dia bercerita bahwa sudah 6 bulan jadi tukang “becak
turis”. Saya Tanya apa penghasilannya cukup untuk hidup di Washington
DC dan dia menjawab cukup.
Saya jadi teringat nasib becak di negaraku. Keberadaan becak malah diusir dan sekarang makin langka. Sampai di hotel saya bayar
ongkos becak 20 dollar soalnya saya teringat tukang becak di negaraku. Jadi saya kasihan kepada tukang becak ini juga.
Editor : dedy suwadha