Ternyata Ibadah Kita Belum Apa-apa
Tribun Batam - Minggu, 6 November 2011 13:05 WIB
Share |
Ustaz-Muhith-Marzuqi-SPdi.jpg
Tribun Batam/ Candra P. Pusponegoro
Ustaz Muhith Marzuqi SPdi
Renungan Idul Adha 10 Dzulhijah 1432 Hijriah
Oleh: Ustaz Muhith Marzuqi SPdi


MEMASUKI bulan Dzulhijjah, seluruh umat Islam di dunia berkesempatan untuk menunaikan rukun Islam yang terakhir, ibadah haji. Bisa disebut sebagai rukun yang paling puncak. Saat itu, umat muslim berkumpul di kota Makkah Arab Saudi untuk melaksanakan proses-proses ritual ibadah haji. Diawali dengan wukuf di Arafah hingga thawaf wada’ atau thawaf perpisahan.

Ritual haji menegaskan citra Islam sebagai agama yang egaliter, artinya menempatkan prinsip persamaan sebagai sesuatu yang harus dijunjung tinggi. Dalam pelaksanaan ibadah itu, umat islam berkumpul dengan menanggalkan segala macam status yang disandangnya.

Mereka tidak memandang status sosial, baik kaya atau miskin, pejabat atau rakyat, kulit hitam atau kulit putih, semuanya melakukan karena Allah semata.


Pada bulan ini, bulan kurban kita diingatkan pada sebuah kisah tentang keimanan, kesabaran dan ketaatan absolut seorang nabi Ibrahim yang demi perintah Tuhannya yang rela mengorbankan anaknya Ismail.

Di mana saat itu Nabi Ibrahim memperoleh mimpi secara berulang-ulang untuk menyembelih anaknya. Nabi Ibrahim pun pergi menemui  putranya dan menyampaikan apa yang diperintahkan oleh Allah melalui mimpinya.

Semula Nabi Ibrahim khawatir atas jawaban anaknya, tapi Nabi Ismail menjawab: “Ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Betapa terharunya beliau mendengar jawaban dari anaknya yang saleh sehingga makin menambah rasa sayangnya sekaligus menambah kesedihannya karena teringat bahwa beliau akan kehilangan anak yang dikasihinya.

Akhirnya keduanya membulatkan tekad dengan penuh keimanan dan ketaatan untuk melaksanakan perintah Allah tersebut. Parang yang sangat tajam disiapkan lalu mereka berangkat menuju suatu tempat untuk melaksanakan perintah tersebut.

Saat-saat terberat bagi Nabi Ibrahim pun tiba, dengan mengumpulkan segenap keyakinan dan dengan penuh kepasrahan Nabi Ibrahim pun mengayunkan parang ke leher Ismail dan mulai menyembelihnya.

Namun apa yang terjadi, parang yang sangat tajam menjadi tumpul dan tidak mampu melukai leher Ismail. Tidak ada setetes darah mengalir dari leher Ismail. Nabi Ibrahim mengulangi dan tetap saja Ismail tidak terluka sedikitpun. Hingga akhirnya Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk tidak meneruskan penyembelihan Ismail, yang kemuidian digantikan Allah dengan seekor hewan sembelihan yang besar.

Sungguh sebuah kisah yang sangat luar biasa yang barangkali tidak akan ada seorang pun dari kita yang sanggup menyamai kepasrahan, ketaatan, dan keimanan absolut  Nabi Ibrahim sehingga kisah ini diabadikan dalam Al Quran yang artinya:

“Dan Ibrahim berkata: ”Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu. Ia pun menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu: Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).

Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian.” (Ash Shaaffaat: 99-108)

Hikmah apa yang bisa kita petik dari kisah mereka? Beberapa pelajaran luar biasa yang bisa kita peroleh, namun di sini kita akan coba mempersempit dan mengambil empat poin untuk kita jadikan bahan renungan dalam kehidupan kita. Antara lain rasa keimanan, kesabaran, keikhlasan, dan solidaritas sosial. Sebab hakikat dan pelajaran dari nabi Ibrahim dan Ismail menjadi suatu rujukan mengapa kita harus berkurban.

Pertama keimanan, dalam kisah tergambar dengan jelas sikap Nabi Ibrahim dan Ismail dalam memahami perintah dari Tuhannya. Keimanan datang dari sebuah keyakinan di mana dalam hal ini Nabi Ibrahim meyakini bahwa perintah yang datang dari Tuhannya adalah sebuah kebenaran yang mutlak harus dipatuhi olehnya sebagai hambaNya. Namun demikian bukan berarti bahwa Nabi Ibrahim tidak menggunakan akal dan logikanya dalam memahami perintah Allah.

Dapat kita lihat ketika Nabi Ibrahim mendapat mimpi yang memerintahkan beliau untuk menyembelih anaknya, beliau tidak serta merta mengamini dan kemudian tanpa pikir panjang melaksanakan perintah tersebut. Dalam kapasitasnya sebagai seorang nabi  Ibrahim tetap seorang manusia yang dikaruniai akal. Nabi Ibrahim pun akhirnya meyakini kebenaran mimpinya setelah mimpi itu terulang tiga kali, ini menandakan bahwa keimanan bukanlah sekedar taklid buta (ikut secara mutlak tanpa berfikir).

Tetapi keimanan haruslah dibarengi dengan ilmu yang dapat mendukung ketika akal pikiran kita mencoba untuk menelaah keimanan tersebut dari sisi ilmiah. Bagaimana relevansinya dengan fenomena terjadinya rentetan bencana yang seolah tiada henti di Indonesia? Bencana atau musibah haruslah kita yakini sebagai sebuah ketentuan atau takdir dari-Nya entah itu sebagai ujian, cobaan atau hukuman, kita sebagai seorang muslim wajib mengimaninya sebagai sebuah takdir.

Kedua kesabaran, seberapa besar sebenarnya kesabaran yang dimiliki oleh seorang manusia? Tidak ada ukuran yang pasti, sebagian berpendapat kalau sabar tidak ada batasnya namun banyak juga yang bilang kalau sabar juga ada batasnya lantas kalau ada batasnya bukannya berarti tidak sabar? Susah untuk menjawabnya memang dan gak usah berpolemik panjang karena tidak akan ada habisnya.

Tapi coba kita tengok kisah di atas, sepertinya kisah dua manusia unggul tersebut boleh kita jadikan sebuah acuan untuk mengukur derajat sebuah kesabaran dan bagaimana menyikapi sesuatu hal atau peristiwa dengan sabar. Lihatlah ketika Nabi Ibrahim akhirnya meyakini datangnya perintah Allah untuk menyembelih anaknya, bisakah kita bayangkan apa yang berkecamuk di dalam hatinya, bisakah kita bayangkan bagaimana perasaannya? Saya pribadi tidak bisa membayangkannya karena bagi seorang hamba biasa itu terlalu berat.

Lalu coba kita lihat apa yang diucapkan Ismail ketika ayahnya menyampaikan perintah tersebut “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu: Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Bisakah kita bayangkan kalau itu anak kita atau bayangkan kalau kita yang berperan sebagai Ismail. Lagi-lagi buat saya terlalu jauh untuk bisa menempatkan diri pada situasi seperti itu, terlalu jauh buat seorang hamba biasa untuk menjangkau kepatuhan dua insan yang luar biasa ini.

Kita hanya bisa mengambil pelajaran bahwa kesabaran itu datang ketika kita memahami kebenaran dari perintah Allah, ketika kita meyakini dan mengimani ketentuan yang datang dari-Nya. Kepatuhan, ketaatan dan kepasrahan Nabi Ibrahim dan Ismail bukanlah asal patuh, asal taat, asal pasrah tapi semua itu adalah hasil dari pemahaman atas keyakinan dan keimanan yang mutlak kepada Allah, keyakinan dan keimanan bahwa sesungguhnya segala yang datang dari Allah adalah sebuah kebenaran. Patutlah kisah ini dijadikan cermin bagi kita untuk memahami bagaimana seharusnya sabar itu, sabar bukan sekedar menahan marah, menahan emosi tapi lebih dari itu sebuah kesabaran haruslah datang dari jiwa yang dipenuhi akan keyakinan dan keimanan atas kebenaran yang datang dari Allah.

Ketiga keikhlasan. Sulit memang untuk mengukur kadar keikhlasan kita ketika melakukan sesuatu. Karena sebagai manusia apa yang kita lakukan seringkali berhubungan dengan kepentingan diri kita sendiri dan memang tidak ada sesuatu hal yang bisa dijadikan sebagai tolok ukur keikhlasan amal kita. Namun tidak ada salahnya kalau kita mencoba bercermin dari kisah Nabi Ibrahim dan Ismail untuk sekedar mengambil pelajaran bahwa ketika Nabi Ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih anaknya dan setelah melalui pergolakan batin yang luar biasa. Dan akhirnya beliau memantapkan hati untuk melaksanakan perintah tersebut dengan ikhlas yang dalam hal ini beliau menyadari bahwa Allah yang telah memberinya anugerah keturunan yang sangat didambakannya dan Allah pula yang akan mengambilnya kembali.

Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah dengan hati yang tulus dan merelakan putra tercintanya diminta kembali oleh Sang Penciptanya karena beliau percaya bahwa “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raaji’uun--Sesungguhnya segala sesuatu adalah milik Allah dan kepada-Nyalah semuanya akan kembali. Harta, kekuasaan, jabatan, hidup dan mati, keturunan dan segala anugerah kenikmatan yang kita rasakan, pada hakikatnya adalah milik Allah dan setiap saat atau kapanpun Allah menghendaki maka Dia berhak untuk mengambilnya kembali.

Pada saat itulah kita diuji apakah kita sanggup merelakan apa yang menurut kita adalah milik kita sendiri untuk diambil kembali oleh pemiliknya yang hakiki. Atau ketika kita memiliki nasib yang kebetulan lebih beruntung dari saudara-saudara yang lain dengan diberi anugerah harta atau rezeki yang lebih baik dari orang lain sanggupkah kita dengan sadar dan rela untuk berbagi kepada sesama tanpa harus berpikir berapa liter keringat kita yang terkuras untuk mencari rezeki, tanpa harus menghitung berapa jauh jarak perjalanan yang kita tempuh, berapa banyak waktu yang digunakan untuk bekerja mencari rezeki, berapa besar pengorbanan kita untuk mencapai kesuksesan.

Di bulan Dzulhijjah ini disunnahkan bagi sebagian dari kita yang mampu untuk mengikhlaskan sebagian dari hasil jerih payahnya  untuk dikorbankan demi berbagi kepada sesama, tidak mudah memang untuk begitu saja memberikan apa yang sudah kita perjuangkan dengan susah payah lantas begitu saja kita korbankan demi orang lain, namun bila kita ingat kembali di bulan ini ribuan tahun yang lalu seorang ayah rela mengorbankan anaknya demi perintah Tuhannya, sungguh apa yang kita korbankan kali ini tidak ada sedikitpun bandingannya dengan keikhlasan berkorbannya Nabi Ibrahim dan Ismail.

Keempat solidaritas social. Di hari Idul Adha dan pada tiga hari berikutnya disunnahkan bagi muslim yang mampu untuk berkurban dengan menyembelih hewan ternak berupa kambing (domba) atau sapi atau unta. Kemudian daging hasil sembelihan tersebut dibagikan kepada orang lain yang tentunya lebih diutamakan untuk masyarakat sekitar dan kalangan yang kurang mampu. Ini adalah bukti bahwa agama Islam adalah agama yang menjunjung tinggi kebersamaan, kepedulian terhadap sama dan solidaritas sosial.

Islam mengajarkan pengikutnya untuk berzakat yang termasuk salah satu rukun Islam, Islam juga mempunyai konsep sedekah, wakaf dan juga kurban di mana semua amal ini mempunyai konteks muamalah secara horisontal atau muamalah kepada sesama manusia. Ditengah kondisi masyarakat kita sekarang ini yang sangat terpengaruh oleh budaya liberal yang menimbulkan hasrat konsumerisme dan hedonisme jika kita mau untuk membuka mata kita, maka kita akan melihat ketimpangan yang ada di masyarakat.

Kita akan melihat betapa lebar kesenjangan antara kalangan yang mampu dengan yang tidak mampu, dan mungkin sebagian dari kita ada yang melihat dan tahu adanya ketimpangan dan kesenjangan sosial namun bersikap acuh tidak peduli terhadap keadaan yang terlihat di depan matanya atau mungkin malah merasa bahwa ini adalah sebuah proses alam perwujudan dari teori evolusi di mana yang kuatlah yang akan berada di puncak tangga rantai evolusi. Kita lupa bahwa hidup dan mati, sehat dan sakit, susah dan senang, harta kekayaan dan kekuasaan semua adalah milik Allah semata.

Kita seringkali beranggapan bahwa apa yang kita raih adalah hasil jerih payah sendiri dan melupakan Dia yang Maha Memiliki lah pemilik hakiki dari apa yang kita miliki sekarang ini. Di bulan ini dengan disunnahkan berkurban bagi kita yang mampu, mari kita manfaatkan keagungan hari raya ini dengan mengingat keimanan, keikhlasan, kesabaran dan pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail untuk berbagi kepada sesama kita.

Sekarang pertanyaan besar harus kita tujukan ke diri kita masing-masing? Seberapa jauh kita sudah menyelami dalamnya hikmah Idul Adha ini? Bagi yang mempunyai rezeki lebih dan melaksanakan kurban, apakah sudah dipahami makna dibalik menyembelih hewan kurban, atau apakah kurban itu hanya sebatas menyembelih kambing atau sapi lalu dibagikan dan sebagian disate kemudian setelah itu selesai.

Bagi yang sudah mampu secara finansial, fisik, mental dan moral, untuk melaksanakan ibadah haji apakah sudah disadari bahwa ibadah haji adalah level tertinggi, puncak dari segala ibadah yang karena beratnya ibadah yang satu ini Allah pun mewajibkan ibadah haji hanya bagi yang sudah “mampu” yang seharusnya juga berarti bahwa keimanan, ketakwaan, keikhlasan, kesabaran dan kepedulian terhadap sesama pun dapat mencapai level tertinggi, atau apakah ibadah haji hanya dianggap sebagi sebuah ritual biasa? Pergi ke Makkah, belanja oleh-oleh, pulang dengan selamat lalu syukuran besar-besaran sembari membagikan buah tangan dari negeri Arab (padahal biasanya bisa dibeli di pasar Jodoh) seolah menunjukkan inilah hasil beribadah haji. Dan setelah itu tamat, ibadah haji dianggap hanya masa lalu yang penting sekarang sudah bergelar haji, tanpa memikirkan implementasi nyata yang harus dilakukan di tengah masyarakat.

Terrnyata masih terlalu banyak kekurangan kita, masih sangat dangkal diri kita dalam memahami makna dari sebuah ibadah yang bagi sebagian besar kita hanyalah menjadi sebatas ritual dan rutinitas belaka. Apalagi kalau harus dibandingkan dengan para nabi dan rasul, sungguh rasanya terlalu jauh untuk dijangkau oleh kita yang senantiasa bergelimang dosa. Mudah-mudahan renungan dan hikmah Idul Adha ini dapat menambah pemahaman kita dan memberi nilai baru dalam memaknai dan mengambil hikmah dibalik sebuah ritual ibadah.

*Ustaz Muhith Marzuqi SPDi adalah Pengampu Kajian Tafsir Al Quran dan Al Hadis Masjid Raudhatul Jannah Bengkong Baru Batam Kepualauan Riau

Editor : imans_7811

© 2010 Tribunnews-Batam.com. All Right Reserved | Redaksi | Contact Us | Info iklan | Website By Ioezhe