Liputan Khusus Tribun Batam
Dunia Pendidikan Kaget Mengetahui Banyak Pelajar Terlibat Traffiking
Saya benar-benar terkejut mas setelah baca berita si Mona itu
TRIBUNNEWSBATAM.COM, BATAM - Kasus Mona, pelaku trafficking pelajar Batam atau yang dikenal dengan sebutan "mama ayam" benar-benar telah mengejutkan dunia pendidikan di Batam.
Retno Kepala Sekolah SMU Kartini Batam mengaku, sangat terkejut setelah membaca berita kasus Mona yang terjadi beberapa waktu lalu. Bahkan, ia tidak menyangka si mona alias si 'mama ayam' ternyata seorang siswi sekolah swasta di Batam.
"Saya benar-benar terkejut mas setelah baca berita si Mona itu. Saya ngak nyangka dia juga seorang siswi di Batam,"ungkap Retno saat ditemui Tribun Batam di kantornya. Sabtu (10/12).
Menurutnya, sebagai seorang kepala sekolah dan guru, seorang anak apalagi seorang pelajar haruslah di berikan pondasi agama, pendidikan budi pekerti yang kuat baik dari lingkungan keluarga maupun dari sekolahnya masing-masing. Sehingga anak-anak sekolah tidak mudah terjerumus ke pergaulan negatif.
"Alhamdullilah, syukurillah selama ini saya tidak pernah menemukan kasus seperti itu disekolah kami ini. Kalau diluar sekolah cuma Allah yang tahu. Dan semoga itu tidak ada,"ungkap ibu kepala sekolah berjilbab itu lagi.
Dalam mengantisipasi tindakan buruk di kalangan pelajar beragam cara dapat dilakukan. Retno sendiri mengatakan, dalam mendidik siswanya, ia bersama para guru lainnya sejak dini telah melakukan berbagai antisipasi agar anak didiknya tidak terjerumus kepada hal-hal yang negatif. Berbagai antisipasi aturan itu antara lain, menciptakan kondisi frendly antara guru dan siswanya, serta memberikan pelayanan prima seperti pendidikan budi pekerti, etika, saling menghormati sehingga antara guru dan siswa benar-benar saling mengenal antara guru dengan siswanya.
"Dengan menciptakan kondisi frendly, siswa bisa curhat apapun kepada gurunya. Jadi, guru disekolah benar-benar menjadi orangtua kedua disekolah. Jangan, sampai dalam masalahnya curhatnya ke orang yang tidak jelas, bisa bahaya nanti. Maka, dari itu kita ciptakan kondisi frendly tadi,"ujarnya seraya menjelaskan sedikit teknis memantau anak didiknya selama disekolah.
Selain itu lanjut Retno, pondasi agama, perhatian orangtua serta pergaulan di lingkungan sekitar si anak tentu sangat menentukan sikap siswa itu sendiri nantinya. Bahkan, orang tua harus lebih memperhatikan pergaulan anaknya terutama di lingkungan luar sekolah.
"Mendidik anak tidak cukup kasih uang saja, tetapi komunikasi orang tua harus aktif dalam memperhatikan anaknya. Sehingga, anak merasa tidak kehilangan itu,"ujarnya.
Menyikapi soal kasus pelajar Mona, Ia menilai itu sangat kompleks dan sudah menjadi lingkaran setan. Dan dalam kasus itu tidak bisa begitu saja kita menyalahkannya. Namun, yang salah adalah kita semuanya.
"Ya kita semualah yang harus bertanggung jawab dalam kasus itu,"katanya.
Menurutnya, banyaknya tindakan pelajar yang menyimpang itu disebabkan banyak faktor Seperti, lemahnya pondasi agama di sekolah, keluarga dan lingkungan. Lalu lemahnya perhatian orang tua kepada anaknya, dalam arti tidak adanya persinggungan langsung atau komunikasi terhadap anak.
"Lalu pergaulan diluar, baik dan benar itu beda tipis, jadi ini perlu dikontrol. Yang tak kalah penting adalah faktor IT atau globalisasi teknologi canggih. Seperti, pemberian handphone canggih dan lainnya, itu mempermudah segala sesuatunya. Itu membahayakan si anak jika tidak digunakan sebagaimana mestinya,"ungkap dengan mencontohkan.
Jika ada ditemukan kasus serupa, menurutnya, sebaiknya dikaji, digali dan ditelusuri terlebih dahulu. Lalu panggil anak dan orangtuanya sehingga solusi yang diambil untuk si anak itu nantinya berkualitas.
"Melihat banyaknya masalah pelajar, seyogyanya sekolah harus ada psikolog untuk mengatasi masalah pelajarnya. Jadi, kejadian itu menjadikan pembelajaran buat kita semuanya. Dan semoga tidak terulang lagi,"harapnya.