Gempa
Rabu Pagi, Aktivitas Warga Aceh Masih Normal
Wargapun berhamburan ke luar rumah karena sempat muncul peringatan bahaya tsunami.
TRIBUNNEWSBATAM.COM, ACEH - Gempa besar mengguncang Banda Aceh dan kota-kota lainnya di Nanggroe
Aceh Darussalam, Rabu dini hari. Wargapun berhamburan ke luar rumah karena
sempat muncul peringatan bahaya tsunami.
Pagi ini, aktivitas warga Banda Aceh dan Aceh besar mulai normal. Topik utama cerita pagi adalah kepanikan.
"Saya lagi tidur," cerita seorang warga tentang gempa 7,1 SR pukul 01.30. "Istri saya membangunkan. Saya tanya kok goyang".
"Goyang apa.. Ini gempa. Ayo lari ..," hardik sang istri. Seketika, mereka kabur ke luar rumah.
"Saya ketiduran, Bang," cerita yang lainnya. "Saya tidak tahu apa-apa".
Gempa dini hari itu, untungnya, tidak membawa kerusakan besar. Sebagian
besar warga Aceh tertidur lelap ketika gempa datang. Pasalnya, sejak
berbagai kasus penembakan warga sipil, kota-kota di Aceh tidur lebih
cepat, toko dan warkop tutup, warga takut ke luar rumah.
Di Wisma Permata Hati, Aceh Besar, cerita cukup seru. Karyawan hotel
berlarian ke kamar-kamar tamu, menggedor pintu kamar, sebelum mereka
sendiri lari menyelamatkan diri.
"Untung gempanya tidak lama," kata karyawan wisma tersebut.
Pada saat tsunami besar menewaskan lebih 200 ribu orang pada Desember 2004, memang terjadi gempa besar.
Gempa kali ini pun diwarnai peringatan BMKG mengenai ancaman tsunami walau kemudian dicabut setelah aktivitas mereda.
Beda dari gempa kali ini, gempa dengan tsunami besar tujuh tahun lalu
berlangsung sporadis dan dalam tempo hampir satu jam. Kali ini cuma
beberapa menit saja.
"Dulu pohon kelapa bergoyang, air di bak mandi tergoncang, piring dan
sendok berbunyi, dan bumi bergoyang membuat kita mabuk seperti naik
perahu di tengah badai," kata seorang warga tentang gempa tahun 2004.