Selasa, 23 Desember 2014
Tribun Batam

Kapal Perintis Sabuk Nusantara 30 Masih Sandar di Sedanau

Rabu, 18 Januari 2012 14:38 WIB

Kapal Perintis Sabuk Nusantara 30 Masih Sandar di Sedanau
Tribun Batam/ Istimewa
Gubernur Kepri HM Sani bersama unsur muspida lainnya melukan peninjauan terhadap kapal perintis Sabuk Nusantara 30 di Tanjungpinang beberapa waktu lalu

Laporan Tribunnews Batam, Tom

TRIBUNNEWSBATAM, PINANG
- Pelayaran kapal Perintis Sabuk Nusantara 30 yang diwarnai masalah kekurangan bahan bakar mendapat tanggapan Kepala Biro Humas Pemerintah Provinsi Kepri, Misbardi.

Ia mengatakan tak ada masalah soal pasokan bahan bakar kapal Pelni Sabuk Nusantara 30 waktu mau berlayar perdana. Sebab, jumlah pasokan bahan bakar yang diisi ke kapal tersebut sudah terpenuhi sesuai permintaan pihak pengelola kapal yakni 38 ton.

"Bahan bakar 80 ton itu untuk kemana? Sesuai perhitungan operator pengelola kapal, untuk satu trip itu hanya butuh kurang lebih 38 ton. Kalau kurang atau lebih hanya beberapa ton saja, maklum kapal baru jalan sehingga terjadi sedikit kekurangan," tulis Misbardi melalui pesan singkat yang dikirim ke Tribun.

Misbardi justru mempertanyakan kebenaran informasi yang diberikan sumber resmi Tribun dari dalam lingkungan Pemprov itu. Dia mengaku, tidak ada seseorang yang lebih tahu soal kapal selain kapten kapal sendiri.

"Menurut kapten kapal hanya perlu 38 ton yang diperlukan untuk satu trip pelayaran. Tidak semua 'orang dalam' tahu. Mana yang dipercaya, sumber lain itu (red) atau kapten kapal?," tanya Misbardi.

Dia kemudian menginformasikan bahwa sekarang kapal hanya butuh cadangan bahan bakar kalau cuaca atau perjalanan kurang bersahabat.

"Kapal sudah aman berlayar. Maklum baru pelayaran perdana, kalau ada salah-salah sedikit itu manusiawi. Coba saja kita dari Batu 5, mau ke Pasar Jalan merdeka, bisa lewat tepi laut, bisa lewat Batu 3, pasti kebutuhan minyaknya beda," jelas Misbardi sedikit mengandai-andai.

Pelayaran perdana kapal Perintis Sabuk Nusantara 30 mengalami kekurangan bahan bakar sehingga sudah dua hari berlabuh di pelabuhan Sedanau karena kehabisan bahan bakar.

Menurut sumber resmi Tribun, kapal tersebut sebenarnya tidak memiliki bahan bakar saat hendak berlayar perdana usai diresmikan Menteri Mangindaan, Senin (9/1) lalu. Padahal, pihak pengelola kapal sudah mengurus pasokan bahan bakar untuk 1 trip pelayaran perdana, sejak seminggu sebelumnya.

"Kapal Perintis Sabuk Nusantara 30 ini baru memiliki bahan bakar pukul 09.00 WIB sebelum mulai berlayar pukul 12.00 WIB. Seminggu sebelumnya kami sudah minta Pertamina memasok bahan bakar dengan harga subsidi karena Sabuk Nusantara ini bukan kapal komersial. Namun, Pertamina tetap menghendaki agar bahan bakar yang dipasok itu dikenai harga non-subsidi atau setengah subsidi dan setengah non-subsidi. Pertamina baru menyetujui harga subsidi beberapa saat sebelum peresmian. Itu baru bahan bakarnya diisi," aku sumber resmi Tribun itu.

Ketiadaan bahan bakar kapal sudah terendus Tribun saat peresmian pelayaran perdana kapal itu. Sumber resmi Tribun ini pun membenarkan kenyataan tersebut. Hanya saja dia mengaku tak membesarkan persoalan mengingat keberadaan Menteri Perhubungan saat itu.

Persoalan ketiadaan bahan bakar saat pelayaran perdana ini pun akhirnya tak terdeksi, apalagi terkesan disembunyikan pula oleh pihak pemerintah provinsi (Pemprov). Ketika dikonfirmasi Tribun kala itu, kepala Biro Humas Kepri Misbardi, membantah keras mengenai masalah ini. Dia malah menegaskan supaya tidak perlu menghadirkan isu yang sebetulnya tida ada.

"Informasi itu tidak benar. Buktinya sekarang kapal siap berangkat, tak ada masalah.  Jangan mengada-ada hal yang sebenarnya tidak ada," jawab Misbardi ketika ditanya saat berada di anjungan Sabuk Nusantara 30, usai menyaksikan upacara Tepuk Tepung Tawar.

Ironisnya, Sabuk Nusantara 30 harus mengisi lagi bahan bakar di pelabuhan Sri Bayintan Kijang padahal baru berlayar beberapa jam saja dari Sri Bintan Pura. Sumber resmi Tribun itu menerangkan, pengisian bahan bakar ini terpaksa harus dilakukan karena hanya sedikit pasokan bahan bakar yang diisi di palabuhan Sri Bintan Pura.

"Kalau Pertamina menyetujui harga subsidi 2 - 3 hari sebelumnya maka tidak mungkin kapal harus singgah lagi di Kijang untuk mengisi bahan bakar. Karena Pertamina baru menyetujui beberapa saat sebelum peresmian maka bahan bakar yang diisi itu tidak banyak," komentar sumber resmi Tribun itu lagi.

Kendatipun sudah diisi, bahan bakar yang dipasok Pertamina pun tidak sesuai permintaan pengelola kapal. Untuk 1 trip pelayaran, pihak pengelola kapal meminta pasokan bahan bakar 80 ton.

Namun, Pertamina sendiri hanya mengabulkan 38 ton dengan perkiraan pasokan bahan bakar sebanyak itu sudah cukup untuk dipakai berlayar dari Tanjungpinang dan tiba kembali di Tanjungpinang.

"Tetapi 30 ton bahan bakar itu tidak cukup. Karena di laut Cina selatan, kapal yang sebenarnya berlayar dengan kecepatan 8 mil per jam itu harus mengurangi kecepatannya karena harus berhadapan dengan ombak setinggi 6 - 7 meter. Maka banyak bahan bakarnya terkuras di perairan ini. Sekarang kapal itu sudah berlabuh 2 hari di Sedanau menunggu pasokan bahan bakar dari depot Pertamina di selat Lampa," jelas sumber Tribun itu seraya menginformasikan bahwa ada 100 penumpang saat ini tengah berada di atas kapal menunggu pelayaran menuju Midai.

Kekurangan bahan bakar ini mengharuskan Johanis Wagio, General Manager (GM) Pelni kota Tanjungpinang sebagai pengelola kapal untuk angkat bicara.

Ketika dimintai keterangan, Selasa (17/1), Johanis hanya mengatakan bahwa kapal Sabuk Nusantara 30 ini merupakan kapal subsidi yang diminta Gubernur Kepri HM Sani kepada Menhub dan baru didatangkan akhir 2011 ini. Karena itu, dia mengharapkan agar harga bahan bakar yang dipasok ke kapal ini pun hendaknya menggunakan harga subsidi.

"Kami juga mengharapkan agar Pertamina pun memasok cukup bahan bakar untuk 1 trip pelayaran, dari Tanjungpinang dan tiba di Tanjungpinang lagi," minta Johanis.
Editor: Iman Suryanto

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas