KAIRO, TRIBUN - Puluhan ribu warga Mesir kembali turun ke jalan dan berkumpul di Lapangan Tahrir, Kairo, Rabu (25/1) bertepatan dengan setahun pergolakan yang akhirnya menumbangkan rezim Husni Mubarak. Ribuan massa telah berkumpul di Lapangan Tahrir sejak Selasa malam. Mereka berasal dari berbagai lapisan masyarakat.
Warga mendirikan tenda dan meneriakkan slogan-slogan menentang Dewan Agung Militer yang mengambil alih kekuasaan sejak Februari 2010, setelah Husni Mubarak mengundurkan diri sebagai presiden.
"Angkatan Darat Mesir membunuh kami di Tahrir, dan saya tidak takut mengatakannya," kata seorang warga, Khaled Abdallah seperti dikutip kantor berita Reuters.
"Tentara dan polisi membunuh kami dan membungkam suara revolusi. Tetapi saya katakan kepada Anda bahwa suara revolusi tidak bisa dibungkam," tambahnya.
Pemrotes juga mengusung berbagai spanduk dengan pesan beragam dan hal ini mencerminkan keragaman sikap dan pendapat mengenai apa makna aksi massal di Lapangan Tahrir hari ini.
Diperluas
Satu di antara tuntutan utama pengunjuk rasa adalah pencabutan penerapan undang-undang darurat. Selama berkuasa hampir 30 tahun, Husni Mubarak berkali-kali berjanji akan mencabut undang-undang darurat namun kemudian gagal menepatinya.
Undang-undang darurat telah diberlakukan di Mesir hampir berturut-turut sejak 1967.
Namun Ketua Dewan Agung Militer Mohamed Hussein Tantawi mengatakan undang-undang darurat masih akan diterapkan dalam kasus-kasus kebrutalan, namun dia tidak memberikan penjelasan rinci.
Tahun lalu Dewan Agung Militer memperluas cakupan undang-undang darurat dengan memasukkan kasus-kasus mogok kerja, gangguan lalu lintas dan penyebaran informasi palsu.
Tanggal 25 Januari sebelumnya dikenal sebagai Hari Kepolisian, tetapi sekarang oleh Dewan Agung Militer dinyatakan sebagai Hari Revolusi yang rencananya akan diwarnai dengan pesta kembang api dan pameran dirgantara. Pasukan keamanan mengatakan mereka mewaspadai segala bentuk usaha melakukan sabotase perayaan. Kementerian Dalam Negeri mengatakan polisi tidak diterjunkan di lokasi-lokasi unjuk rasa.(rtr/bbc/son)