Dream House : Rumah Impian Tanpa Kejutan Dan Ketegangan
Tribun Batam - Minggu, 5 Februari 2012 13:52 WIB
Tribun Batam/ Istimewa
Salah satu Adegan Di Film Dream House
Tribun Batam/ Istimewa
Tribun Batam/ Istimewa
Laporan Tribunnews Batam, Iman Suryanto
TRIBUNNEWSBATAM - Jika diminta untuk menyebutkan film horor/thriller yang membangun kengerian berlatarkan lokasi sebuah "rumah", mungkin akan langsung tersebut berpuluh bahkan beratus judul film yang menggunakan setting -dan judul- serupa.
Dari yang klasik seperti The Amytiville Horror (1972), sampai usaha terbaru dalam menghadirkan teror yang setipe itu hadir lewat Dream House (2011).
Sebuah film thriller terbaru yang diperkuat oleh jajaran bintang kelas-A Hollywood seperti Daniel Craig, dan Aktris yang pernah memenangkan Oscar Rachel Weisz (The Constant Gardener) dan nomine Oscar Naomi Watts (21 Grams), serta disutradarai oleh Jim Sheridan, Sutradara film ini pernah menjadi nomine Oscar sebagai penulis naskah terbaik lewat filmnya yang berjudul In America.
Dengan deretan sineas-sineas jempolan yang berada dibalik film ini, apakah lantas Dream House menjadi sebuah thriller brilian yang menjanjikan? Seharusnya seperti itu, tetapi apa yang kita temui kemudian berbalik seratus delapan puluh derajat.
Plot Film Dream House itu sendir dimulai saat seorang editor disebuah penerbitan buku di New York bernama Will Atenton (Daniel Craig) memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan memulai karir barunya sebagai penulis novel.
Ia memilih untuk pindah dan tinggal bersama istrinya, Libby (Rachel Weisz) dan dua orang putrinya Trish dan Dee Dee (diperankan oleh kakak-beradik sungguhan Taylor dan Claire Geare) di sebuah rumah baru di Inggris.
Satu hal yang mereka tidak ketahui, ternyata rumah yang mereka tempati adalah rumah bekas lokasi tragedi pembantaian sebuah keluarga yang tragis. Ann Peterson (Naomi Watts) tetangga seberang rumah mereka yang sepertinya mengetahui misteri dibalik semuanya, memilih untuk tutup mulut.
Suatu saat pembunuh berantai yang pernah membantai keluarga penghuni rumah sebelum keluarga Will, kembali dengan ancaman maut. Celakanya saat itu, Will tengah berada jauh dari keluarganya. Will pun kemudian harus berpacu dengan waktu untuk mengungkap misteri, sekaligus menghadapi kenyaan paling pahit dalam hidupnya.
Bagi yang sering menyaksikan film bertema serupa, mungkin akan langsung mengetahui bagaimana film ini akan berjalan -dan berakhir- hanya dengan membaca sinopsisnya saja.
Sayangnya, hal ini diperburuk dengan trailer yang mengumbar spoiler dan penggarapan dari Jim Sheridan yang tidak mampu 'menambal' plot yang sangat basi di film ini.
Keunggulan dari film setipe yang biasanya mengandalkan twist ending yang mengejutkan pun gagal di film ini. Karena twist biasanya adalah kejadian yang tidak penonton duga dan film ini sangat mudah diduga ke mana arahnya.
Penonton akan langsung dengan mudah dapat menebak kisahya dari paruh awal film ini.Twist "basi" yang dihadirkan di naskah filmnya juga membuat Sheridan seperti sadar untuk segera saja mengungkap 'twist' dari film ini di pertengahan film, tanpa harus menunggu film berakhir. Tetapi setelah twist terungkap, lantas apalagi yang diharapkan dari film ini selanjutnya sampai setengah akhir?
Nyaris juga tidak tampak ketegangan disepanjang durasi film ini. Padahal dengan seting rumah dengan wallpaper- nya yang cukup creepy dan sosok dua putri dari Will yang sebenarnya bisa dimaksimalkan untuk menghadirkan misteri dan ketakutan tersendiri, film ini mampu tampil dengan lebih greget.
Bahkan sekedar untuk menyaksikan penampilan akting apik dari 3 bintang utamanya yaitu Craig-Watts-Weisz pun juga tidak bisa dijumpai disini. Bakat mereka seakan disia-siakan oleh Sheridan, bahkan untuk sekedar mengangkat reputasi film ini di box office pun, film ini ternyata gagal total.
Tema dan kisah yang se-'basi' apapun sebenarnya bisa tampil dengan menarik andai saja sineasnya pandai mengakalinya dengan mengolah materi 'basi' tersebut' menjadi sesuatu yang lebih segar.
Sayang sekali padahal film ini sebenarnya masih menyimpan potensi itu layaknya sebut saja film ber-materi yang hampir sama yaitu Shutter Island karya Martin Scorsese yang sangat baik dalam penggarapannya, tetapi sayangnya tidak mampu tampil di film ini.
Editor : imans_7811