Hukrim
Hotel Kelas 'Melati' Order Solar Dari Penimbun BBM
Aksi penimbunan Bahan Bakar Minyak (BBM) belum juga berkurang, meskipun berbagai peringatan telah disampaikan petinggi kepolisian di Batam.
TRIBUNNEWSBATAM, BATAM - Aksi penimbunan Bahan Bakar Minyak (BBM) belum juga berkurang, meskipun berbagai peringatan telah disampaikan petinggi kepolisian di Batam.
Gudang-gudang maupun tangki-tangki penimbunan masih dioperasikan oleh sejumlah pemain minyak. Tak hanya di wilayah pinggiran, di sekitar pusat kota pun penampungan ribuan liter BBM yang tidak tepat peruntukannya, gampang ditemukan.
Sejumlah hotel kelas melati di Nagoya dan Jodoh, menyatakan masih tetap menggunakan solar dari pasokan para penampung. Sejumlah pengelola hotel itu menyatakan pasokan tetap lancar.
"Masih lancar suplainya Bang. Bahkan harganya masih Rp 8000 per/liter. Kalau beli kepenimbun, kita nggak repot seperti membeli ke SPBU yang ditunjuk. Hanya tinggal tunggu saja di Hotel, solar sampai sesuai permintaan,"ujar salah seorang karyawan Hotel di kawasan Nagoya kepada Tribun.
Dijelaskan, hotelnya memang tidak biasa membeli solar dengan harga industri melalui SPBU yang ditunjuk Pertamina. Mereka memilih mengorder kepada para penimbun yang diduga biasa menyedot BBM bersubsidi untuk dijual dengan mendekati harga industri.
Masih adanya penyelewengan BBM jenis solar kepada pelaku penimbun juga diakui oleh sejumlah petugas SPBU. Solar yang semestinya dijual ke masyarakat itu, dianggap lebih menggiurkan ketika dijual ke para spekulan maupun penimbun.
Menurut petugas SPBU di kawasan Batu Ampar, misalnya, solar biasa dijual kepada penimbun seharga Rp 5.300, lebih mahal dari harga jual subsidi Rp 4.500 per liternya.
"Kami hanya menjalan tugas dari bos. Dapat jugalah komisi sedikit-sedikit. Tapi kita tidak bisa jual sembarang kalau belum ada kerjasama dengan bos," ujar petugas itu, Senin (19/3).
Secara umum, aksi pelaku penimbunan BBM masih terlihat marak di sejumlah gudang, seperti di daerah Mecem Tanjung Sengkuang, Barelang, Sagulung, Batu Aji, Tanjung Piayu dan Dapur 12.
Hanya saja, jika aktivitas mereka selama ini lebih terbuka, kini terkesan lebih hati-hati dan tersamar. Mereka umumnya tidak lagi menggunakan modus dengan memodifikasi tangki kendaraannya untuk menguras solar hak masyarakat.
Kini dengan kerjasama tertentu dengan pengusaha SPBU, pasokan solar ke penampungan atau gudang bisa dilakukan lebih rapi dan 'aman' dari tudingan mencurigakan.
Berdasarkan pantuan di wilayah pinggir, seperti di Sagulung, aksi penimbunan BBM jauh lebih marak. Di sana ada gudang penimbunan BBM dibangun di dalam kawasan perusahaan shipyard atau galangan kapal.
Seperti di kawasan galangan kapal Tanjunguncang, gudang penimbunan BBM berada di dalam kawasan sebuah PT. Gudang itu berjarak lebih kurang 1 kilometer (km) dari pintu masuk yang sengaja dibuatkan portal.
Dalam kawasan dua perusahaan galangan kapal itu terdapat dua gudang penimbunan BBM yang dibangun hanya bersebelahan dengan dibatasi seng. Kini satu gudang sudah dirobohkan dan hanya tinggal satu gudang. Untuk masuk ke tempat itu petugas pengaman disiagakan.
"Kami hanya bertugas mengamankan areal perusahaan, untuk kegiatan penampungan BBM, kami tidak tahu pasti. Bahkan pemilik gudang ini kami juga tidak tahu,"ujar salah satu security.
Praktik penimbunan juga ditemukan di tempat lain, tak jauh dari lokasi itu. Hanya untuk aktivitas di gudang ini BBM tidak diantar langsung ke dalam gudang, namun sejumlah kendaraan besar yang hendak menyuplai ke gudang cukup standby menunggu pembeli datang.
Para pembeli biasanya membawa jerigen atau wadah dimana kemudian BBM yang mereka beli langsung diambil dari kendaraan besar yang berjajar itu. Beberapa warga mengaku aktifitas ini sudah berlangsung lama. Setiap makan siang pasti ada kegiatan pemindahan BBM dari tangki trailer ke jerigen.