Minggu, 23 November 2014
Tribun Batam

Tak Terima Pensiunan, Seorang Warga Kundur Curiga ke Bank dan PT. Pos Indonesia

Selasa, 24 April 2012 23:28 WIB

Laporan Tribunews Batam, Ahmad Yani.

TRIBUNEWSBATAM, TANJUNGBATU
- Kepala Kantor PT. Pos Indonesia Tanjungbatu, Kundur, Firman mengakui dana nasabah Lh (60) yang sudah cair. Namun belum diserahkan ke nasabah ada indikasi oknum PT. Pos Indonesia bermain.

"Korban (Lh red), sudah melaporkan ke saya permasalahnya. Dan kita sudah mengambil langkah, menghentikan pemotongan sementara. Karena memang berdasarkan keterangan korban mereka belum menerima. Dan dana itu sudah cair. Dan nasabah itu  sudah mengajukan tembusan ke saya,"kata Firman saat ditemui tribun dikantor PT. Pos Indonesia di Tanjungbatu, Selasa (24/4).

Menurut Firman, saat ini pihaknya masih menunggu dari pihak BTPN atas protes  dari nasabah yang dirugikan itu.

"Yang jelas, oknum PT. Pos Indonesia di Tanjungbatu ini, sudah kita proses. Dan pihak Bank juga kemungkinan ada yang terlibat. Kita tidak menuduh,  karena pihak Bank menitipkan SK pensiunan ini ke oknum PT. Pos di Tanjungbatu, yakni Yanto,"kata Firman terbata-bata.

Firman mengakui, nasabah warga Kundur Lh (60) korban,  saat meminjam dana pensiunan  tidak pernah dihubungi pihak BANK dari pengajuan peminjaman hingga sampai ke pencairan. Seharusnya pihak Bank harus mengkonfirmasi ke nasabah itu. 

"Menurut keterangan Lh (60) kemarin,  ia tidak pernah sama sekali dihubungi  pihak bank dari pengajuan sampai ke pencairan. Padahal itu hak nasabah, Itukan hak korban. Tau-tau dengar kabar uangnya sudah cari,"aku  Firman yang juga baru mengetahui kasus ini terkuak di kantor posnya.

Firman menambahkan, seharusnya pihak BAnk menelpon  atau mendatangi nasabah yang punya SK tersebut.  "Padahal punya SK itu Lh (peminjam,red). Apapun alasanya nasabah itu harus tahu. Dalam arti telpon atau didatangi nasabah. Apa mungkin perjanjian kredit bisa diwaliki oleh oknum pos. Padahal SK itu punya nasabah. Dan Lh tersebut tidak pernah menandatangi berkas-berkas ini. yang menandatangi yaitu oknum pos itu (Yantio,red). Saya tidak menuduh bank. Intinya kenapa tau-tau ada, langsung keluar. Dan tidak pernah diterima nasabah,"kata Firman. 

Firman pun selaku kepala kantor Pos Indonesia merasa sedih mendengar oknum pos bermain dan menipu.  "Saya sedih, mau nangis melihatnya. Saya tidak tahu berapa nominalnya. Kami tidak tahu berapa yang dipinjam. Karena kami hanya memotong saja"ungkap Firman.

Saat ini  Yanto, oknum PT. Pos Indonesia sedang  di proses di PT. Pos Indonesia di Batam Centre. Menurut Firman lagi, saat ia  mulai mengendel semua pembayaran, saat itu ia mulai melihat ada permasalahan. Ia mengakui, yang jelas ia tidak pernah memotong dana nasabah yang melapor yakni Ny Lh.

"Saya berharap pihak BTPN segera secepatnya memberikan tangapan. Kita memang ada kerja sama dengan beberapa Bank termasuk BTPN. Dalam MOU di PT. Pos untuk peminjaman tidak ada. Namun, kita hanya mengusulkan dan mengurus berkas dan dokumen bagi nasabah pensiuanan yang mau meminjam melalui PT. Pos Indonesia. Dan pihak pos hanya memotong saja,"ungkap Firman.

Firman mengungkapkan, statusnya seperti  bendahara dan tidak mengetahi berapa yang dipinjam nasabah. Dan ia hanya  tukang potong saja.

Menurut Firman, nasabah harus juga mempertanyakan ke BTPN. Karena dari awal memang ia melihat prosedurnya sudah salah dari pengajuan hingga ke pencairan.  Sekarang yanto (oknum Pos yang terlibat) sudah diproses di Batam. Secara intens kita  memproses,"kata Firman.

Namun, dana masabah warga Kundur yang hilang diduga diselewengkan beberapa oknum ini, menurut pengakuan Firman, oknum PT. Pos Indonesia tidak akan bisa bermain sendiri, jika tidak ada bantuan dari pihak Bank.

"Tidak mungkin oknum pos kita, segampangnya mengajukan pencairan. Kalau tidak ada kemudahan dari pihak Bank. Saya akui dia (Yanto,red) salah. Yanto  ini semacam calo,"kata Firman.

Saat ini, Firman menjelaskan bahwa korban yang menuntu yakni Lh minta SK pensiunan itu dikembalikan oleh pihak Bank. Padahal pihak Bank pun sudah mencairkan dana ini. Namun belum diterima nasabah yang meminjam itu.

"Tuntunan korban meminta sk pensiunnya kembali. "Sekarang lagi proses, uangnya tidak dapat SKNya di tahan. Mereka minta SKnya dikembalikan lagi. Karena dana yang sudah cair itu tidak pernah ditanda tangani oleh peminjam itu. Saya tahu, oknum saya bermain,"beber Firman

Firman pun menyesalkan, kepa Yanto, Oknum PT. Pos Indonesia di. Tanjungbatu sudah bekerja sekitar 24 tahun ini terlibat dalam hal yang memalukan PT. Pos Indonesia.

"Yanto sudah senior disini. Ia sudah lama bekerja  24 tahun. Saya kebetulan baru 10 bulan pindahan dari Tanjung Balai. Saya belum kenal betul saya sama Yanto. Disini (PT. Pos Indonesia di Tanjungbatu,red). Yanto merupakan  juru bayar dana penisun. Selama ini lancar-lancar  saja tak ada masalah. Pegawai saya yang paling baik lah,"jelas Firman. 
Editor: Dedy Suwadha

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas