Citizen Journalism

Alumni Coady Serasa Bisa Pindahkan Gunung

Setelah mengikuti training kepemimpinan di lembaga Dr. Moses Coady serasa mampu memindahkan gunung.

Alumni Coady Serasa Bisa Pindahkan Gunung
tribunnewsbatam.com/facebook
Rina Dwi Lestari seorang PNS dan dosen di UMRAH Tanjungpinang sedang berada di Antigonish Kanada mengikuti program training di kampus DR Coady
Tulisan Rina Dwi Lestari, Widyaiswara Pemprov Kepri

GUNUNG kan ku daki lautan pun kan ku seberangi. Pepatah ini rasanya pantas untuk menggambarkan seorang Pegawai Negeri Sipil dengan jabatan Widyaiswara atau pengajar untuk memenuhi indikator utama yaitu berapa banyak jam terbang mengikuti diklat. 

DENGAN semangat itulah saya tetap siap mengikuti diklat meski harus terbang  selama 30 jam untuk mencapai  kota Antigonish, Kanada. Rasa lelah dalam perjalanan sirna dengan kebahagiaan mendapatkan beasiswa melalui pendaftaran online ke situs Coady International Institute yang didukung oleh Canadian International Development Agency (CIDA). 

Berkat semangat dan dukungan Pemrov Kepri, akhirnya saya menyelesaikan kursus dengan tema Advocacy and Citizen Engagement dan Good Governance and Social Accountability Tools. Tiga minggu lebih, terhitung 7 Mei sampai 1 Juni 2012, saya merasakan diklat di negeri orang.

Meski hanya berpenduduk 5.000 jiwa, Kota Antigonish ternyata menyimpan sejarah yang hebat bagi Kanada. Rakyat Kanada menamai Antigonish Movement,  gerakan yang dimotori oleh Dr. Moses Coady dan Pendeta Jimmy Tompkins pada 1920. Antigonish Movement merupakan respon terhadap kemiskinan yang menimpa petani, nelayan, penambang, dan kelompok yang kurang beruntung lainnya di Kanada Timur. 

Bermula dari sejarah inilah lahirnya Universitas St Francis Xavier (St.FX). Untuk menghormati  Dr. Moses Coady maka dibentuklah sebuah lembaga  bernama Coady International Institute pada 1959.
Lokasi Kampus Coady yang berada di tengah Kota Antigonish dan gaya bangunan sangat terkesan ramah dan anggun dengan dikelilingi pohon Maple berdaun hijau dan merah. 

Begitu memasuki area luar gedung Coady, kita disambut oleh patung pendiri Coady, Dr. Moses Coady. Kita seperti dibawa ke masa lalu dengan keberadaan plang foto-foto lama kegiatan Dr Coady  dan ukiran tulisan yang berisi kutipan kalimat-kalimat bijak Dr.Coady.

Kalimat-kalimat bijak ini seperti memberikan energi positif bagi pelajar di kampus ini. Kutipan ini dengan mudah kita baca yang diletakkan dekat patung seperti lembaran buku " Masters of their own destiny. They will use what they have to secure what they have not."

Tulisan lain ditulis diatas pilar yang berbentuk seperti runtuhan koloseum, "In a Democracy People don't sit in the Social and Economic Bleachers; The all play the Game."

Memasuki dalam gedung, saya semakin dibuat jatuh hati. Petuah yang ditulis ternyata bukan hanya dari Dr Coady, tapi juga dari tokoh dunia seperti Mother Teresa dan mantan-mantan  direktur serta testimony alumi Coady yang berhasil menjadi pemimpin di negaranya.

Coady menyimpan magis yang bisa menularkan pengetahuan berbasis masyarakat dan membangun kapasitas melalui pendidikan kepemimpinan. Tidak heran jika lembaga ini mampu bertahan dan sampai saat ini lebih dari 5.500 pelajar dari 130 negara telah lulus dari program yang ditawarkan Coady.

Banyak cerita dari alumni Coady yang membuat mereka seperti bisa "memindahkan gunung" sepulang dari Coady International institute. Ini terbukti banyak alumni yang mengalami peningkatan karir sepulang dari Coady. Mereka juga berhasil mendapat penghargaan internasional dan bisa bekerja di lembaga internasional seperti fasilitator Amy dan Tadors.

Coady juga memiliki magnet untuk  membawa alumni untuk kembali. Malah ada peserta hampir lebih dua kali datang diklat ke tempat ini. Ada juga dua generasi dalam satu keluarga  mengikuti kursus di Coady.
Bahkan setelah 39 tahun meninggalkan Coady, mereka datang lagi ke Coady menggunakan tiket hadiah pensiun. Sepertinya mereka telah mendapatkan rahasia besar yang tersimpan di kampus ini.(*)


Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved