Melihat Langsung Tempat Zikir Sufi di Maroko

Negeri Maghrib (Matahari terbenam). Ketika kita mendengar kalimat ini pastinya akan tertuju ke Afrika Utara, tepatnya

Melihat Langsung Tempat Zikir Sufi di Maroko
Foto/ist
Muannif Ridwan sedang berada di depan masjid Hassan II Casablanca-Maroko
Tulisan:  Muannif Ridwan
Mahasiswa S1 Univ. Imam Nafie, Tanger-Maroko

NEGERI Maghrib (Matahari terbenam). Ketika kita mendengar kalimat ini pastinya akan tertuju ke Afrika Utara, tepatnya Kerajaan Maroko. Bagaimana kondisi studi di Maroko? Muannif Ridwan, Mahasiswa S1 Univ. Imam Nafie, Tanger-Maroko asal Riau mengisahkan kepada pembaca Tribun Batam.

MAROKO... sebuah Negara Islam yang ber-madzhab Maliki tulen di ujung barat dunia Islam. Agama Islam di negeri ini dikembangkan dengan menghargai tradisi lokal, seperti yang dilakukan oleh para dai atau wali songo ketika menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Kini Maroko dikenal sebagai negara Arab yang gaul dengan nuansa Eropanya yang kuat, tetapi tak mau kehilangan akar tradisi Arab dan Islam. Kebebasan berpendapat dan tradisi berpikir sangat terbuka di negeri Ibnu Batutah ini. Pemerintah tidak memaksa rakyatnya untuk berpola pikir secara kaku atau seragam.

Barangkali salah satunya adalah karena faktor penguasa Maroko saat ini, Raja Muhammad VI, seorang lulusan Eropa yang berpikiran modern. Ia bertekad untuk memodernkan Maroko, namun tetap melandaskannya kepada ajaran Islam.

Maroko kini mulai banyak diminati para mahasiswa Indonesia untuk belajar berbagai ilmu keislaman. Berbagai manfaat bisa dirasakan mahasiswa Indonesia yang belajar di sana.

Selain mendapat disiplin ilmu yang diambilnya, para mahasiswa juga bisa berlatih berbahasa Perancis. Bahasa Perancis merupakan bahasa kedua penduduk Maroko setelah bahasa Arab. Selain itu, bahasa Perancis juga menjadi mata kuliah wajib.

Salah satu keunggulan Maroko sebagai tempat tujuan belajar adalah ilmu Maqashid Syariah-nya. Maqashid Syariah merupakan ilmu yang menjadikan wisdom (hikmah) sebagai salah satu pertimbangan dalam pengambilan dan penetapan hukum Islam. Imam Syatibhi adalah orang pertama yang mengkaji Maqashid Syariah, bahkan ia dianggap sebagai bapak Maqashid Syariah pertama.

Ia mempunyai karya monumental, Al-Muwafaqaat, kitab inilah yang menjadi santapan dan rujukan utama dalam mengkaji ilmu Maqashid Syariah, terutama bagi ilmuan Maghrib Arabi (barat arab) dan timur tengah lainnya. Hampir seluruh kampus Islam di Maroko membuka jurusan untuk mempelajari Maqashid Syariah. Hampir seluruh kampus Islam di Maroko membuka jurusan untuk mempelajari Maqashid Syariah.

Ada yang menarik lagi. Di Maroko juga dijumpai tradisi yang mirip kenduri seperti layaknya di Indonesia. Karena budaya kenduri yang berkembang di Indonesia itu, konon juga merupakan kenang-kenangan yang dibawa oleh wali Songo. 

Mahasiswa Indonesia juga bisa menikmati kajian tentang tasawuf, karena Maroko dikenal dengan Biladus Sufiyah (negeri para sufi). Termasuk syeikh Tijani, pendiri Tareqat Tijaniyah yang terkenal di tanah air itu makamnya terdapat di Maroko, tepatnya di kota Fez.

Di Maroko, kita bisa melihat bagaimana tempat berzikir para sufi yang disebut dengan Zawiyah. Tempat seperti ini terdapat hampir di setiap sudut kota di Maroko.

Namun saat ini dengan kuatnya arus gerakan "salafi" di Maroko yang sering mem-bid'ah-kan dan menuduh sesat ajaran sufi itu, banyak zawiyah-zawiyah yang sepi ditinggalkan penghuninya. Akan tetapi sejarah telah mencatat, bahwa di negeri Ibnu Batuthoh ini telah bermunculan banyak zawiyah bak jamur di musim hujan. Terlihat dari bangunan-bangunannya yang masih berdiri kokoh dan banyak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara, baik untuk berziarah maupun hanya sekedar berwisata.(*)

Editor: Agus Tri Harsanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved