PRAHARA DEMOKRAT

Loyalis Anas Mulai Marak Mundur dari Struktur Partai Demokrat

Loyalis Anas Urbaningrum mulai ambil sikap undur diri dari jabatan struktur di Partai Demokrat di daerah-daerah.

TRIBUNNEWSBATAM.COM- Para loyalis  Anas Urbaningrum, mantan Ketua Umum DPP Partai Demokrat, mulai melakukan gerakan mundur dari jabatannya. Ketua DPC Partai Demokrat   Kabupaten Blitar,  Jawa Timur, Heru Sunaryanto menyatakan siap mengundurkan diri.

Heru bahkan mengaku tidak takut kehilangan jabatannya sebagai Ketua DPRD Kabupaten Blitar. Dia menyatakan, siap menerima konsekuensi apapun terkait pernyataannya ini. "Saya hanya melawan kezaliman," ujarnya melalui sambungan telepon, Minggu (23/2).

Heru saat ini masih menjalankan ibadah umroh di Tanah Suci. Ia baru kembali ke tanah air pada 2 Maret mendatang. Heru menegaskan, akan ada gerakan besar yang disusunnya untuk merespon penetapan Anas sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Heru masih enggan mengungkapkan gerakan apa yang dimaksud. Ia hanya menyebut akan ada konsolidasi kader Partai Demokrat di Kabupaten Blitar untuk membela Anas. Heru juga membuka kemungkinan gerakan ini menular ke beberapa DPC di sekitar Kabupaten Blitar.

"Akan ada gerakan, kami akan turun. Saya belum bisa mengungkapkan apa bentuk gerakannya.  Ada beberapa cara untuk merespon situasi ini. Saya bicara dalam konteks Blitar. Yang jelas tunggu saya kembali dari umroh," imbuh Heru.

Menurut Heru, penetapan Anas sebagai tersangka sarat kepentingan politis. Dia menilai kasus yang membelit Anas merupakan kasus perdata. Namun, lanjutnya,  KPK memaksakan menjadi kasus korupsi.
"Kasus (gratifikasi) itu perdata yang dipaksa jadi korupsi," katanya. Dikatakan, ada 'musuh' di dalam partai. Di internal partai, menurutnya, ada elite yang memang sejak awal berusaha mendongkel Anas.
Bagi Heru, rencana muncur dari jabatan itu berkaitan komitmen terhadap partai yang dibesarkannya. "Ini mengusik hati nurani saya. Saya bela Anas. Itu komitmen saya," ujarnya.

Dia menyesalkan beberapa elite partai terang-terangan menginginkan Anas melepas jabatannya. Menurut Heru, pernyataan itu  malah memperkeruh suasana. "Bukan rahasia, penetapan (Anas sebagai tersangka) ini beraroma politis. KPK mendapatkan tekanan politik luar biasa. Tetapi yang saya sayangkan, ada internal partai ingin mendongkel Anas," ungkapnya.

Situasi yang menyudutkan Anas ini, menurutnya membuat kader akar rumput kecewa. Terlebih, Anas merupakan putra daerah Blitar yang sangat dibanggakan. "Saya akan lawan elite partai itu. Saya bahkan tidak takut pada DPP," tegasnya.

Heru sudah menyiapkan doa khusus untuk Anas agar dikuatkan hatinya. "Saya berdoa agar dia (Anas) tegar dan kuat. Selain itu saya juga punya doa bagi elite PD di Jakarta agar dibukakan pintu hatinya. Biar mereka sadar atas apa yang sudah mereka perbuat," kata Heru.

Sikap serupa disampaikan Ketua DPC Demokrat Cilacap, Triadianto, yang telah menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya. Ia bertekat  akan selalu mengunjungi Anas selama menjalani proses hukum.

"Saya bertujuan setiap hari di sini. Ketika Mas Anas mundur saya juga mundur sebagai Ketua DPC Kabupaten Cilacap," ujar Tridianto ketika ditemui di rumah Anas, kawasan Jalan Teluk Langsa, Duren Sawit, Jakarta,  Minggu.

Tridianto mengaku terinspirasi perkataan Anas ketika mengundurkan diri yaitu apa yang dilakukannya merupakan awal perjuangan. "Apa yang dialami Mas Anas adalah penzaliman yang sudah direncanakan dan dibungkus dengan hukum. Saya berharap mari sama-sama kita selamatkan lembaga KPK yang independen. Pimpinan KPK sudah tak independen dan sudah bermain politik," kata Tridianto.

Mundurnya sejumlah kader Partai Demokrat karena mengikuti jejak Anas Urbaningrum ditanggapi dingin oleh Partai Demokrat. Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Max Sopacua, mengatakan setiap kader memiliki hak untuk keluar dari Demokrat.

"Terserah mereka saja mundur, itu pilihan mereka," kata Max. Ia yakin kondisi itu tidak mempengaruhi elektabilitas partai. Ia yakin partai Demokrat akan kembali normal.

Menurut Max, apa yang terjadi di Partai Demokrat juga dialami partai lain. "Seperti di Partai Golkar, kadernya ada yang menyebrang ke Partai Nasdem," katanya.

Wakil Direktur Eksekutif Partai Demokrat, Rahmat Hidayat,  juga menyatakan mundur dari keanggoataan Partai Demokrat. Rahmat mengaku tidak menemukan politik santun, cerdas, dan bersih di Partai Demokrat. Namun orang dekat Anas Urbaningrum itu  mengaku belum berpikir untuk pindah partai. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved