ANAK HILANG DI BATAM

Kisah Empat Sekawan hingga Akhir Hayat

"Mama... minta uang Rp 2 ribu." Itulah kalimat terakhir Aprilyus Ama Mado (5), kepada orangtuanya Yosef Boli dan Yasinta Kewa.

Kisah Empat Sekawan hingga Akhir Hayat
tribunnewsbatam.com/argyanto
FOTO- Para orangtua memegang foto empat anak yang dinyatakan hilang, Rabu 27 Februari 2013. Empat bocah itu kemudian ditemukan tewas dalam mobil rusak, Kamis 28 Februari 2013 sore hari.
Laporan Tribunnews Batam, Ahmad Yani/Dewi Haryati

TRIBUNNEWSBATAM.COM, BATAM-  "Mama... minta uang Rp 2 ribu." Itulah kalimat terakhir yang diucapkan Aprilyus Ama Mado (5), kepada orangtuanya Yosef Boli dan Yasinta Kewa. Sebelum ditemukan tewas mengenaskan bersama tiga bocah sepermainannya, Elsan (6), Ferson (4), dan Wihelmus Rudi (3),di dalam sebuah mobil usang, Aprilyus sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli jajanan.

Bocah yang pada 25 April 2013 mendatang  berulang tahun ke-5 itu pun langsung bergegas dengan riang meninggalkan sang mama. Menurut cerita Yasinta, ibu Aprilyus, anaknya itu suka bermain mobil-mobilan di rumah, tapi kadang kala keluar bersama teman-temanya untuk bermain layaknya anak-anak kampung.

"Terakhir saya melihatnya dia minta uang, saya bagi dia Rp 2 ribu. Setelah saya bagi, ia bermain sama teman-temannya. Mama minta uang Rp 2 ribu, saya kasih. Itu yang terakhir saya kasih," ucap Yasnita, menirukan perkataan anaknya Aprilyus yang kini tinggal kenangan.

Yasnita tidak menaruh curiga ketika kali terakhir ia berpamitan kepadanya. Setahu dia ia langsung bermain setelah jajan makanan di sekitar Pasar Cik Puan. "Saya nggak tahu jajan apa, makan apa yang ia beli saat itu," ujarnya masih dengan nada lemah kepada Tribun yang menemuinya saat menunggu proses otopsi di RSOB di Sekupang, Batam, Jumat (1/3).

Keempat jenazah bocah diotopsi setelah ditemukan meninggal bersama-sama di dalam sebuah mobil siap scrap di belakang Pasar Cik Puan. Keempatnya dinyatakan hilang semenjak Rabu (27/2) siang, atau 30 jam sebelum penemuan. Polisi masih melakukan penyidikan mengungkap kasus menghebohkan itu.

Yasnita mengakui, anaknya, Aprilyus, paling suka makan telur. Bahkan  lauk makan sehari- hari, Aprilyus tak masalah ketika harus makan telur dengan kecap. "Anak saya itu, anaknya gak milih-milih makan. Tapi ia paling suka makan telur," tambah Yasnita

Aprilyun belum bersekolah. Yasnita berencana akan memasukkan anaknya itu ke Taman Kanak-Kanak (TK) di tempat ia tinggal setelah usianya menginjak lima tahun. Namun harapa orangtuaanya itu kini hanya tinggal kenangan karena kejadian tragis pada akhir Februari itu. Ia harus meninggalkan keluarganya bersama tiga rekan sepermainannya, yang dalam sehari-harinya juga tinggal dalam satu rumah bedakan di Kampung Durian, Kelurahan Sadai, Bengkong.

Yasnita  mengakui, karena mereka tinggal dalam satu rumah yang disekat-sekat menjadi beberapa pintu, keempatnya juga menjadi empat sekawan dalam bermain. "Mereka berempat bermain gak pernah pisah bang, mereka sering bermain bersama. Saya nggak mennyangka mereka seperti itu bersamaan juga di dalam mobil usang itu," tambah Yusnita. Ya, atas kehendak Yang Kuasa, ternyata Aprilyus, Elsan, Ferson, dan Rudi merupakan kawan tak terpisahkan, seakan rela bersama hingga akhir hayatnya.

Cerita lain juga dikisahkan Andreas Alosius dan Sutami, orangtua Wilhelmus Rudi. Rudi, panggilannya adalah bocah yang paling muda diantara empat bocah yang mengalami nasib naas di mobil usang di Pasar Cik Puan itu. Di mata orangtuanya, Rudi memang masih terkesan manja.

Rudi memiliki kebiasaan menangis jika meminta sesuatu. Meski demikian, ketika bermain bersama tiga rekannya yang lebih besar, ia pun mampu menyesuaikannya. "Dia kan masih kecil, kalau minta sesuatu, seperti susu, makan, beli jajan, pasti menangis dahulu," ujar Andreas, dengan mataa berkaca-kaca, menggenang anaknya itu. Karena itulah, ketika sehari semalam tak ditemukan, yang ada di bayangan pun hanya bagaimana rengekan sang anak ketika besama orang lain.

Wilhelmus Rudi merupakan anak kedua dari Andreas Alosius dan Sutami. Sebagai anak bungsu, banyak hal yang masih teringat jelas di pelupuk mata kedua orangtua. Menurut mereka, yang menonjol, meski laki-laki, Rudi dikenal suka main masak-masakan, di samping bermain mobil-mobilan, dan robat-robotan di rumahnya.

Ia tak menyangka kepergiannya bersama kawan-kawannya pada Rabu (27/2) siang merupakan kali terakhir ia lihat. "Saya ngak menyangka bisa jadi begini. Ia suka main robot, juga mobil- mobilan. Lalu pergi bareng kawannya," ucap Andreas yang menyatakan bahwa anaknya bermain paling jauh hanya sekitar komplek Pasar Cik Puan, atau sekitar 200 meter dari rumahnya.

Meski kerap keluar kampung, namun ia tak lupa untuk pulang pada saat makan siang. "Dia biasa makan siang sekitar pukul 12.00. Malamnya pukul 19.00 baru mau makan," kata Sutami, sang mama.

Jhon Perera, kakek dari Elsan, Ferson, dan Wilhelmus Rudi, merupakan salah satu orang yang paling kehilangan dengan musibah ini. Dari ketiga cucunya itu, Jhon paling terngiang dengan polah tingkah Rudi, cucunya yang paling kecil. "Si kecil itu suka nyusu. Kalau mau nyusu, dia pulang ke rumah. Kalau sudah pulang satu, pulang semua," kenangnya.

Jhon maupun orangtua dari keempat bocah belum sepenuhnya menerima penyebab kematian anaknya itu. Namun, mereka masih harus besabar menunggu proses hukum maupun medis yang dilakukan polisi.  (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved