Sabtu, 25 April 2015
Home » Jiran

Margareth Teacher 1925-2013, Iron Lady dari Toko Kelontong

Selasa, 9 April 2013 16:00

Margareth Teacher 1925-2013, Iron Lady dari Toko Kelontong
Tribunnewsbatam.com/Net
Margareth Teacher 1925-2013, Iron Lady dari Toko Kelontong

Begitu juga ketika ia pensiun pada bulan November 1990, Teacher telah mengubah wajah negeri sekaligus namanya. The Iron Lady. Ia seorang negarawan dunia paling terkemuka di abad ke-20. Teacher dikenal sebagai wanita besi karena kecenderungannya menabrak kebiasaan, bahkan aturan.

Misalnya soal konsensus pascaperang antara politisi, manajemen dan serikat pekerja. Konsensus yang menurutnya hanya membuat Inggris tertinggal di Eropa dan Amerika. Teacher dikagumi kawan dan lawan. Berhasil membuat ekonomi Inggris meroket, melawan blok Uni Soviet kendati ia adalah pengagum Mikhail Gorbachev.

Di balik manajemen kerasnya, ekonomi Inggris justru bangkit karena dia terus mendorong wirausaha sehingga ia tidak disukai para buruh. Kebijakan straight jacket untuk mendorong efisiensi menimbulkan banyak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), tetapi sekaligus memulai era kerja keras.

Reputasi yang paling terkenal dari Teachers adalah ketika ia menolak perundingan dengan Argentina dan langhsung mengirim pasukan tempur untuk mengusir negara itu dari Kepulauan Falkland pada musim semi tahun 1982.

Terlahir dengan nama Margaret Hilda Thatcher, pada tanggal 13 Oktober 1925 di sebuah pasar di Lincolnshire Grantham. Ayahnya, Alfred Roberts, adalah seorang penjaga toko yang kemudian menjadi walikota. Istrinya, Beatrice seorang metodis gereja yang taat. Keduanya bekerja keras dan menabung untuk membeli toko sendiri.

Pengaturan keuangan yang ketat inilah yang mempengaruhi Teacher dalam memimpin negara, membongkar gaya hidup Victorian yang kerap dengan kemewahan dan foya-foya. Keberadaan Teacher di setiap jamuan sering membuat kaum bangsawan risih.

Selalu tampil sederhana dengan blazer dan topi mungil di kepalanya. Meski keras, tapi wanita pintar iini sangat menyukaui sastra, terutama puisi. Sejak kecil, ia paling sering mengliping puisi yang sering dikutipnya di kemudian hari.

Halaman123
Editor: Candra P. Pusponegoro
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas