Penembakan Diduga Akibat Cemburu Budi Kepada Istrinya

Budi Satria (29) dikenal tetangga sebagai sosok yang ramah dan tidak menunjukkan perilaku janggal.

Penembakan Diduga Akibat Cemburu Budi Kepada Istrinya
Tribunnewspalembang.com/Istimewa
FOTO KELUARGA - Pasangan suami istri, Budi Satria (29) dan Martalia (19), dan Raihan (2,5). Budi dan Martalia ditemukan tewas berpelukan di ranjang dalam kamar rumah di Perumahan Talang Kelapa, Blok 4, RT 28/07, Kelurahan Talang Kelapa, Kecamatan Alang Alang Lebar (AAL), Palembang, Sumatera Selatan, Senin (15/4/2013) sekitar pukul 15.00 WIB.
TRIBUNNEWSBATAM.COM, PALEMBANG - Budi Satria (29) dikenal tetangga sebagai sosok yang ramah dan tidak menunjukkan perilaku janggal. Ia diketahui bekerja sebagai sopir pemimpin sebuah perusahaan perkebunan.

Kendati jarang berada di rumah, Budi dikenal cukup mudah bergaul dengan masyarakat sekitar. Sekitar dua minggu yang lalu, Senin (1/4), Budi masih sempat membantu warga menjemput sejumlah paket sembako yang akan dibagi-bagikan ke warga perumahan.

"Orangnya baik, mudah bergaul, karena dia juga masih muda ya. Pergaulannya dengan warga gampang akrab. Karena jarang di rumah saja, tapi komunikasinya baik kok. Tanggal satu lalu sempat bantuin menjemput sembako untuk dibagi-bagikan kepada  warga, karena kita tidak ada mobil, dia bantuin," ujar Drs John RW, warga sekitar.

Bibi Budi, Rama, ditemui di kamar mayat RSMH palembang, mengatakan, sebelum kejadian tersebut sekitar pukul 19.00 Budi sempat menelepon dan membicarakan masalah dengan istrinya.

"Saat itu Budi menceritakan bahwa banyak laporan dari tetangga mengenai istrinya. Karena itu ia ingin membicarakannya dengan saya," tuturnya.

Menurut Rama mungkin saja Budi cemburu mendapat banyak laporan dari tetangga. "Jika masalah uang, mereka tidak pernah kekurangan. Akan tetapi untuk kejadian pastinya saya masih belum tahu," kata dia.

Budi, istri, anak dan nenek Lia diketahui telah dua kali pindah kontrakan di kompleks perumahan yang sama, Perumnas Talang Kelapa, RT 28 RW 7. Sebelum menegontrak di rumah yang ditempatinya saat ini, tepatnya di blok 4, ia mengontrak di sebuah rumah di blok 7.

Di rumah yang baru ditempatinya selama lebih kurang tiga bulan ini, sang istri, Marditalia sering bergaul dengan warga. Tepat di depan rumah terdapat sebuah warung, di sana Lia, sapaan sang istri bercengkrama dengan warga sekitar.

"Istrinya sering ngobrol di warung itu. Bisa membaur dengan masyarakat sekitar," terangnya.

Saat kejadian, pasangan suami istri yang meninggalkan seorang anak ini ditemukan berada di dalam kamar dengan kondisi kepala berlumur darah bekas tertembus peluru senjata api. Warga menduga kejadian terjadi ketika subuh. Suara tembakan tidak terdengar jelas tersamarkan oleh suara hujan yang mengguyur pagi itu.

Keduanya ditemukan ibunya Lia, Murni sekitar pukul 17.00. Televisi yang berada di dalam kamar ditemukan dalam kondisi menyala.

"Suaranya (letusan senjata api, Red) mungkin tersamarkan hujan. Nenek ini mungkin juga menduga kalau letusan itu suara tv, sore baru tahu setelah nenek masuk ke kamar, dan teriak melihat keduanya, masyarakat pun datang melihat," ungkap John.

Terkait kepemilikan senjata api yang diduga menjadi alat untuk melakukan penembakan, Jhon tidak mengetahui dari mana senjata itu diperoleh Budi. Akan tetapi, ia menduga senjata itu sebagai pegangan yang bersangkutan untuk membela diri karena terkait pekerjaannya.

"Mungkin karena pekerjaannya itu, kan sering keluar masuk perkebunan di luar kota, dan dia juga supir bos perusahaan perekbunan itu, barang kali untuk jaga-jaga," ucapnya menduga asal senjata api yang ditemukan di lokasi kejadian. (tribun sumsel/iam)

Editor: Candra P. Pusponegoro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved