Senin, 22 Desember 2014
Tribun Batam
Home » Jiran

Kisah Heroik Tragedi Boston, Carlos Lari Mendekati Korban Bom

Kamis, 18 April 2013 08:30 WIB

Kisah Heroik Tragedi Boston, Carlos Lari Mendekati Korban Bom
www.washingtonpost.com
Carlos Arredondo, seorang aktivis antiperang.
TRIBUNNEWSBATAM.COM, BOSTON - Muncul kisah heroik saat tiga buah bom meledak di event lari marathon di Boston, Amerika Serikat. Carlos Arredondo, seorang aktivis antiperang langsung melompat pagar untuk menolong pelari yang bergelimpangan bersimbah darah.

Carlos secara sigap menggunakan pakaian dan handuknya untuk menyumbat pendarahan korban ledakan. Padahal tidak sedikit di antara penonton yang berusaha menyelamatkan diri.

"Saya melompat pagar setelah ledakan pertama dan semua melihat darah dan orang orang dengan kaki yang hilang," katanya kepada ABC News. "Aku melihat orang dewasa, jauh lebih muda dari diriku sendiri wanita, pria, cukup banyak orang berhamburan."

Dalam satu foto yang tersiar, Carlos membantu seorang korban yang kakinya terluka dan bersimbah darah bersama petugas medis. Dia terus berbicara kepada korban agar tidak kehilangan kesadaran. Dalam foto terlihat dia menekan arteri kaki pria yang kakinya putus itu.

Ketika bom meledak, Carlos dan istrinya Melida Arredondo berada di tribun VIP dekat Boylston Street garis finis maraton. Mereka sedang menunggu pelari terakhir dari Garda Nasional, mewakili pelari dari Fallen Maine, organisasi yang didirikan untuk menghormati marinir yang tewas sejak serangan teror 11 September 2001. Salah satu pelari didedikasikan dalam lomba maraton khusus untuk putra Carlos.

"Ada darah di lantai, darah di mana mana. Lalu apa yang Anda lihat adalah tulang di mana mana, maksud saya di mana-mana" katanya.

Carlos segera berlari dan bertindak setelah bom meledak. Aksinya dapat dilihat dalam serangkaian foto dan video di lokasi ledakan. Dia membantu korban yang tergeletak dan membuka jalan bagi petugas medis untuk merawat luka korban.

Dia terguncang dan gemetar saat mencengkeram bendera Amerika Serikat yang ternoda oleh darah. Istrinya sangat emosional karena teringat akan kematian putranya.
Dibungkus panci presto

Para agen federal AS, Selasa (16/4/2013), memusatkan perhatian pada bagaimana pengeboman di dekat garis finis Maraton Boston, Senin lalu, dilakukan. Mereka telah mengetahui bahwa panci presto digunakan untuk mengemas bahan peledak, paku, dan pecahan peluru mematikan lainnya dalam ledakan itu. Namun, mereka masih tidak tahu siapa pelakunya dan apa motifnya.
 
Kantor berita AP melaporkan, sebuah buletin intelijen yang diterbitkan untuk aparat penegakan hukum dan diedarkan pada Selasa malam memuat sebuah foto panci presto yang hancur dan tas hitam yang robek, yang menurut para agen FBI merupakan bagian dari sebuah bom.

"Dugaan tentang tersangka dan motifnya tetap terbuka lebar," kata Richard Deslauriers, agen FBI yang bertugas di Boston, dalam sebuah konferensi pers. Dia bersumpah untuk "mengejar sampai ujung bumi subyek atau orang yang bertanggung jawab atas kejahatan tercela ini."

FBI dan sejumlah lembaga penegak hukum AS lainnya berulang kali memohon kepada warga masyarakat untuk memberikan foto foto, video, atau sesuatu yang mencurigakan yang mereka mungkin lihat atau dengar.
 
Deslauriers meminta masyarakat untuk memberitahukan sesuatu yang mencurigakan, seperti mendengar seseorang yang mengungkapkan minat akan bahan peledak atau keinginan untuk menyerang lomba lari maraton itu, atau melihat seseorang yang membawa tas berat warna gelap di lomba itu atau mendengar ledakan misterius baru baru ini.

Puluhan korban ledakan masih berada di rumah sakit, banyak yang mengalami luka menyedihkan, sehari setelah ledakan kembar di dekat garis finis maraton itu menewaskan tiga orang, melukai lebih dari 170 orang lainnya, dan membangkitkan kembali ketakutan akan terorisme. Seorang gadis usia 9 tahun dan anak laki laki usia 10 tahun termasuk di antara 17 korban yang dalam kondisi kritis. (tribunnews/ap/km)
Editor: Candra P. Pusponegoro

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas