Kamis, 27 November 2014
Tribun Batam

Detik-detik Ustadz Jeffry Al Buchory Sebelum Meninggal Dunia

Sabtu, 27 April 2013 22:39 WIB

Detik-detik Ustadz Jeffry Al Buchory Sebelum Meninggal Dunia
Tribunnewsbatam.com/Istimewa
Ustadz Jeffry Al Buchory
TRIBUNNEWSBATAM.COM, JAKARTA - Empat jam sebelum tewas kecelakaan tunggal dengan di Jl Gedung Hijau Raya pukul 01.07 WIB, Jumat (26/4/2013), Ustadz Jeffry Al Buchory (Uje) ngopi bareng. Ia bersama adik dan dua rekannya untuk menyiapkan kegiatan Ramadan dan syuting di Arab Saudi pada Mei 2013 mendatang.

Kala itu datang SPG rokok, Uje pun beli dua bungkus tapi membayar seharga satu slop. Uje juga membayar parkir empat sepeda motor dengan uang Rp 100 ribu yang kembaliannya diserahkan ke petugas parkir. Itulah amalan terakhir Uje sekaligus menjadi contoh terbaik yang ia tunjukkan di akhir hayatnya.

Sebelum meninggal, Uje juga sudah memberikan isyarat kepada orang-orang terdekatnya. Sang Ibunda, Tatu Mulyana tak menyangka pesan Uje agar dirinya tidak menangis. Beberapa saat sebelum pergi ngopi bareng temannya, adalah menjadi pesan terakhirnya.

"Dia bilang, Umi jangan menangis, masih banyak yah air matanya? Kalau Uje mah sudah habis," ucap Tatu. Uje yang beberapa hari ini mengalami sakit meriang, sempat menuturkan keinginannya untuk beristirahat dari aktivitasnya sebagai pendakwah.

"Dia bilang mau istirahat ceramah dulu,terus Umi bilang masa istirahat ceramah," ucap Tatu sambil terisak. Kepada sang istri, Pipik Dian Irawati Popon, isyrat Uje sangat jelas.

Beberapa hari lalu Uje minta kepada istrinya agar apabila meninggal ia dimakamkan dekat makam ayahnya di TPU Karet Tengsin Jakarta Pusat. "Terus istrinya bilang, 'hus... kok Abi ngomongnya begitu. Dan, ternyata benar sekarang dia telah meninggal," ucap Tatu menirukan Pipik.

Kepada sahabatnya, Ustad Solmet, Uje juga sudah memberikan isyarat. Dua hari lalu, Ustadz Solmed yang mengaku menjadi murid Uje diminta untuk meneruskan dakwahnya. "Ketika bertemu dua hari lalu, kita berdua berpelukan sambil menangis. Ketika itu Uje memberikan cincin dan kopyah. Dia bilang, Met teruskan dakwah ya," ujar ustad Solmet.

Uje juga berpesan kepada sahabatnya, Opick, penyanyi lagu-lagu Islami. Tiga hari sebelum meninggal, pelantun lagu 'Tombo Ati' itu menuturkan Uje selalu merasa dirinya banyak kesalahan dan kekurangan. "Dia bilang, kalau saya yang ceramah terus, siapa dong yang mau ceramahin saya," kata Opick menirukan ucapan Uje.

Opick menilai sahabatnya tersebut memang sudah menyadari akan pergi meninggalkan mereka yang masih hidup. Opick juga melihat Uje melakukan taubat sebelum meninggal. "Saya merasakan kalau Uje sudah menyadari kepergiannya. Ada ruang taubat yang begitu besar di penghujung hidupnya," tuturnya.

Uje juga sudah menunjukkan petanda akan meninggal kepada putri sulungnya, Adiba Khanza. Seminggu lalu ketika ia pulang dari pesantren, tiba-tiba Uje yang sedang sakit meminta Adiba melihat ke dalam toilet.

"Pas Abi (panggilan Uje) lagi sakit, aku tiba-tiba disuruh ke toilet. Kata Abi, ada teman di toilet. Katanya, kenalin dong om, yang suka jaga Abi," kata Adiba menirukan Uje.

Meski merasa bingung, Adiba tetap melaksanakan perintah ayanhnya. Ia pun masuk ke toilet, namun tak melihat apa-apa. "Abi maksa, tapi aku enggak lihat apa-apa, cuma pantulan cahaya doang," ungkap Adiba.

Luka Parah di Wajah  

Adik kandung Uje yakni Deki Fajar Siddiq menuturkan, pada Jumat malam sekitar pukul 21.00 WIB, kakaknya mengajak untuk minum kopi di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Uje yang sudah beberapa hari sakit dan tak kemana-mana, beralasan ingin keluar rumah.

Sidik sempat melarang kakaknya, namun Uje ngotot. Istri Uje juga melarang agar tak naik sepeda motor. "Waktu naik motor, istrinya juga bilang, Abi (ayah) enggak usahlah," ucap Tatu menuturkan ucapan Pipik.
 
Uje yang berkeras lalu mengendarai sepeda motor sport Kawasaki ER6n dengan kapasitas mesin 650 cc menuju Kemang. Bersama adik dan dua temannya, Uje minum kopi di Cafe Codefin yang berada di Jl Raya Kemang Nomor 8, Jaksel. Di cafe tersebut, Uje membicarakan rencana acara pada bulan Ramadhan nanti serta rencana syuting di Arab Saudi pada Mei mendatang.

Sebelum pulang, Deki sempat bertanya apakah Uje kuat naik motor. Namun Uje mengatakan kuat. Mereka pun berkonvoi empat motor menuju ke rumah Uje di Rempoa, Bintaro dengan melewati Pondok Indah. Deki sempat tertinggal dari rombongan.

Kapolres Jakarta Selatan Kombes Wahyu Adiningrat mengatakan, motor Uje melaju dari arah timur menuju Bundaran Pondok Indah dan kemudian masuk ke Jl Gedung Hijau Raya yang mengarah ke Pondok Pinang.

"Sepeda motor yang ditumpangi Uje oleng dan kemudian menyerempet trotoar. Motor tidak terkendali dan kemudian menabrak pohon palem persis di depan rumah No 17," ujar Kombes Wahyu.
 
Kasat Lantas Polres Metro Jaksel AKBP Hindarsono mengatakan, karena kecepatan motor cukup tinggi, terjadi benturan keras. Uje terpental sekitar 3-4 meter dan sepeda motornya terus berjalan sejauh 30 meter. Posisi terakhir almarhum berada dalam keadaan terlungkup.

Oleh rekan-rekannya, Uje di bawa ke RS Pondok Indah yang berjarak sekitar 1 km. Uje dirawat sekitar 30 menit dan kemudian menghembuskan nafas terakhir. Setelah dinyatakan meninggal korban kemudian dibawa ke RS Fatmawati untuk dilakukan visum, namun keluarga menolak sehingga visum tidak jadi dilakukan.

AKBP Hindarsono menjelaskan, Uje mengalami luka parah di bagian wajah sebelah kiri dan tangan. "Diperkirakan almarhum mengantuk, kecapekan tapi memaksakan membawa motor sendiri," ujar AKBP Hindarsono. Hindarsono juga menyebut lokasi tempat terjadinya kecelakaan bukanlah daerah yang rawan kecelakaan. Jalan juga tidak dalam kondisi rusak. Di lokasi kejadian juga tidak ditemukan bekas rem.

Pingsan

Jenazah Uje selanjutnya dibawa ke rumah duka di Perum Bukit Mas, Jl Narmada III, Rempoa, Bintaro, Tangerang Selatan. Ratusan orang melayat ke rumah duka. Usai dimandikan dan dikafani, jenazah Uje disholatkan di Masjid Istiqlal yang diikuti ribuan jamaah. Sholat jenazah dipimpin Wakil Imam Besar Masjid Istiqlal,  Syarifudin Muhammad.

Menteri Agama Suryadharma Ali tak kuasa membendung air matanya ketika berpidato di depan ribuan umat di Masjid Istiqlal. "Semoga Allah SWT mengampuni Ustadz Jeffry dan semoga Allah SWT memberikan penggantian kepada kita semua. Selamat jalan ustadz," ujar Suryadharma Ali sambil menangis.

Sang istri, Pipik Dian hanya terpekur melihat keranda suaminya menjadi rebutan ribuan massa yang hendakmemegang. Bibirnya gemetar dan air matanya terus meleleh.

Jenazah Uje dimakamkan di TPU Karet Tengsin, Jakarta Pusat dalam satu liang dengan sang ayah, almarhum H. Ismail Modal, yang meninggal dunia 11 Oktober 1992. Prosesi pemakakam dipimpin Ustadz  Solmet.

Usai pemakaman, Pipik yang terus menangis akhirnya jatuh pingsan. Ia langsung dipapah kembali ke rumahnya. Tiba di rumah, Pipik terus menangis sambil mengelus foto Uje dengan dikelilingi kerabat. "Nggak mau, nggak mau, aku mau ikut Abi, mau ikut Abi aja, udah janji udah janji. Mau ikut Abi aja, Abi udah janji perginya sama-sama," ujar Pipik sambil menangis.
 
Anggota keluarga yang lain juga tampak mencoba menenangkan Pipik dengan membimbingnya membaca istighfar berulang-ulang. "Abi, maafin Umi. Umi mau ikut," ujarnya lirih. Ustad Jefri meninggalkan empat anak  yakni Adiba Khanza Az-Zahra, Mohammad Abidzar Al-Ghifari, Ayla Azuhro, Daud Baurah. (tribunnews/bah/zul/nic/eri/wil)
Editor: Candra P. Pusponegoro

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas