Minggu, 2 Agustus 2015

Elpiji Langka, Harga Per 3 Kilogram Tembus Hingga Rp 18 Ribu

Sabtu, 11 Mei 2013 14:00

Elpiji Langka, Harga Per 3 Kilogram Tembus Hingga Rp 18 Ribu
Tribunnewsbatam.com/Muhammad Ikhsan
Antrean pembelian elpiji di Kabupaten Bintan Kepri beberapa waktu lalu

TRIBUNNEWSBATAM.COM, BATAM - Tan A Kong terkaget-kaget saat gudang penyimpanan gasnya dibuka paksa saat sidak Komisi II DPRD Batam, Jumat (10/5/2013). Ketua Komisi II, Yudi Kurnain yang datang bersama sejumlah anggota Komisi II lainnya langsung membuka gudang berolling door hijau tersebut ketika melihat banyak tumpukan gas elpiji 3 kilogram.

Gudang yang berada di Ruko Centre Park Blok A No 10 Batam ini sebenarnya menyatu dengan warung kecil yang juga milik pria itu. Namun, kontras dengan bagian depan warung, ia hanya menaruh dua tabung gas elpiji 3 kg.

Sementara di bagian gudang justru ada 50-an tabung gas 3 kg. Meski memampangkan harga jual sebesar Rp 15 ribu, kenyataannya Tan A Kong tertangkap basah menjual gas tersebut seharga Rp 18 ribu. "Yah Rp 18 ribulah, saya juga dapatnya mahal kok," ujarnya spontan.

Mengaku baru saja mendapatkan kiriman dari agennya hari itu, ia mengaku sudah membeli gas dari agen seharga Rp 15 ribu. Harga tersebut terpaksa dikeluarkannya, agar agen PT Amartha Anugrah Mandiri yang menaungi pangkalan miliknya memberikan lebih banyak pasokan gas.

"Saya beli dari lori saja sudah Rp 15 ribu. Mereka (agen) sih nggak minta. Saya jugakan ditanya sama pelanggan kok nggak jual gas. Kalau saya bayar harga normal, pasokan gas yang dikasih cuma sedikit," ujarnya beralasan.

Biasanya, untuk harga normal per tabung dari agen itu Rp 12.750, dan per hari jatah pasokan gas yang diterimanya sebanyak 90 tabung. Namun sudah beberapa waktu terakhir ini, ia hanya mendapatkan jatah 70-an tabung.

"Makin dikit dikasihnya kalau kami menunggu dengan sistem yang sesuai. Makanya ngasih Rp 15 ribu biar dapat banyak. Saya juga maunya jual harga normal, biar nggak dikomplain orang, tapi mau bagaimana lagi," tambahnya.

Halaman12
Editor: Candra P. Pusponegoro
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas