Keduanya Berbagi Kisah Seperti Alur Sebuah Film

Nihayah mengaku dulu banyak juga hinaan yang dirasakannya. Tapi itu membuatnya terus belajar hingga ke perguruan tinggi, walaupun tak tamat.

Keduanya Berbagi Kisah Seperti Alur Sebuah Film
Tribunnewsbatam.com/Muhammad Ikhsan
Nihayah Binti Abu Bakar (54) tampak khidmat melihat Andi Rinawati (16) menulis di atas buku. Kedua wanita perkasa ini sama-sama tak memiliki kedua tangan. Rasa senasib begitu mengakrabkan nenek dan gadis ini.

"Saya berharap Rina bisa terus maju hingga tamat kuliah. Saya sempat kuliah di Fakultas Ekonomi dulu, tapi tak selesai. Mudah-mudahan Rina nantinya bisa," ujarnya.

Ibu Rina, Andi Nurmadiah nampak tersenyum dan mengaminkan, doa Nihayah kepada anaknya. Nihayah dan Rina nampak sama-sama mirip dalam melakukan apa saja.

Hal ini yang membuat Nur optimis anaknya bisa menjadi seperti apa yang didoakan nenek itu. Nihayah punya segudang cerita motivasi bagi Rina. Ia pun punya hal-hal yang bisa dijadikan semacam wejangan.

"Saya datang ke sini menemui Rina, saya merasakan dia sama-sama seperti saya. Makanya ingin sekali bertemu. Saya bangga dengan Rina yang bisa sekolah. Yang jelas Rina jangan minder dan tetap semangat," ujar wanita yang pernah memerankan film serial "Bunda Tersayang" di SCTV tahun 1996 itu.

Nihayah mengaku dulu banyak juga hinaan yang dirasakannya. Tapi itu membuatnya terus belajar hingga ke perguruan tinggi, walaupun tak tamat.

"Tahun 81 bapak saya meninggal, namun kondisi kesehatan ibu saya juga kurang bagus. Makanya saya memilih tinggal bersama ibu saya. Daripada terjadi sesuatu dengan ibu saya, saya akhirnya mundur dan memilih melakukan hal lain seperti ngajar ngaji dan lainnya. Dulunya saya ikut kakak perempuan," ungkap Nihayah yang hanya sampai semester 1 di Fakultas Ekonomi Universitas Riau itu.

"Pengalaman waktu kuliah pertama kali di Pekanbaru menurutnya masih terkenang. Di Kampus waktu kami tes digedung olahraga di Pekanbaru, di Stadiun bertingkat saya duduk. Orang kira saya pengemis dan melempar kan koin untuk saya. Saya sabar saja. Tapi pernah terbersit di pikiran saya untuk jadi pengemis. Saya bisa nulis, saya bisa melakukan hal lain dengan kaki," sebutnya.

Walaupun hanya dengan menggunakan kedua kakinya. Ia memasak, melakukan pekerjaan rumah tangga, bahkan hingga menyulam. Ia pun menjadi wanita yang mandiri, tidak tergantung dengan siapa pun bahkan ia memutuskan untuk membantu ekonomi keluarga dengan berdagang, pulang baik Tanjungpinang-Singapura di masa mudanya.

"Saya di rumah biasa mengerjakan apapun sendiri. Tapi kalau di luar, di depan umum, untuk makan atau mengerjakan sesuatu saya biasa ada yang bantu," ujarnya.

Nihayah merasa banyak pandangan orang jika melihatnya makan pakai sendok dengan kaki.

Halaman
12
Editor: Candra P. Pusponegoro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved