• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 2 September 2014
Tribun Batam

Tim Temukan Ulat Dalam Jeroan Daging

Jumat, 2 Agustus 2013 00:43 WIB

Laporan Tribunnews Batam, Eko Setiawan

TANJUNGPINANG, TRIBUN - Dinas Pertanian dan Perternakan Provinsi Kepri, Dinkes Prov Kepri, Dinkes Kota Tanjungpinang, dan MUI Kepri melakukan sidak ayam mati kemarin (tiren) dan daging yang tidak layak konsumsi di kawasan Pasar Bintan Centre, Kamis (1/8/2013) pukul 06.00 WIB.

Dalam sidak tersebut, ditemui seekor ulat yang hinggap dalamdaging jeroan pedagang yang hendak dijual. Daging tersebut lalu diambil dan dibersihkan lagi. Menurut pedagang di lokasi, daging itu bukanlah bukanlah daging kemarin.

"Itu daging potong tadi pagi, kami tidak mau jual jeroan yang kemarin," ucap pedagang saat disidak oleh tim.

Menurut pedagang, jika pada jeroan ditemukan ulat itu wajar saja. Diketahui, jeroan tersebut adalah tempat mengendapnya sisa makanan yang belum sempat dikeluarkan oleh sapi.

Setelah diperiksa lagi, tidak ada yang terlihat berbahaya. Namun tim dari Dinkes langsung mengambil sampel daging untuk diperiksa di laboratorium.

"Kami minta sedikit dagingnya, ini sebagai contoh untuk dicoba dilap nanti," ucap salah satu tim dalam Sidak tersebut.

Selain daging, tim yang melakukan sidak ini juga memeriksa ayam-ayam yang dijual di Pasar Bintan Centre. Honismandri, dokter Hewan sekaligus Kepala Bidang Peternakan menuturkan, sidak pagi itu merupakan sidak lanjutan yang dilakukan tim gabungan dari beberapa intansi terkait.

Dikatakannya, malam sebelumnya, sudah ada tim yang mengecek di tempat pemotongan hewan. Di sana mereka memeriksa, apakah tempat pemotongan tersebut sudah sesuai dengan setandar yang berlaku.

"Ini merupakan Sidak lanjutan. Sebelumnya, tim yang lain juga sudah kami bagi. Mereka melakukan pantauan di rumah potong yang ada di kawasan Kijang, Tanjunguban, dan Tanjungpinang. Dan kami di sini mengecek kembali, apakah pemotongan dan daging yang mereka jual adalah daging yang dipotong tadi," ucapnya.

Sedangkan fungsi MUI yang ikut dalam sidak ini yaitu memerhatikan urat-urat leher ayam yang belum terputus. Karena jika ayam tersebut masih ada salah satu leher yang belum terputus, maka ayam tersebut tidak layak untuk dikonsumsi.

"Itu adalah haram, kalau menurut Islam. Karena sudah ada penelitian dari beberapa dokter di dunia. Jika kita menyembelih hewan dengan mengucapkan basmalah (Bismilah), maka virusnya kan mati," ujar Khairuddin Nasution, Wakil Direktur LPPOM MUI Kepri.

Untuk di Tanjungpinang dan Bintan, baru ada lima tempat pemotongan hewan yang sudah berstatus halal dan memenuhi keriteria dari pemerintah dan MUI. Sedangkan puluhan lainya, masih samar-samar.

Khairudin berharap, kedepannya pemerintah bisa memfasilitasi masalah ini dengan cara membantu memberikan pembelajaran untuk cara-cara yang baik bagai mana memotong hewan yang benar.

"Yang sudah masuk standarisasi halal baru ada lima rumah saja. Sedangkan masih puluhan tempat potong yang belum memenuhi standarisasi," jelas Khairuddin.

Said Jaafar Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Prov Kepri yang ikut serta dalam sidak pagi itu mengimbau kepada masyarakat untuk mengonsumsi daging yang halal. Sebab dengan adanya label halal itu membuat kita tidak was-was dan khawatir untuk memakannya.

"Yang halal itu tentunya lebih baik, kita menghimbau kepada masyarakat agar selalu berhati-hati membeli daging yang akan dikonsumsi," lanjutnya.

Terakhir Said menceritakan, dibandingkan tahun sebelumnya, tahun ini sudah banyak kemajuan, walaupun masih ada ditemukan daging yang berulat. "Tahun ini lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya," jelas Said.

Editor: Candra P. Pusponegoro
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
87172 articles 3 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas