Tribun Corner

Kisruh Investasi Emas Lagi

Investasi dengan keuntungan menggiurkan terus memukau masyarakat kendati kadang tidak masuk akal.

Kisruh Investasi Emas Lagi
Tribunnewsbatam.com/Yusuf Riadi
B Richard Nainggolan (dua dari kiri) Wapimred Tribun Batam didampingi Manajer Redaksi, Alfian Zainal (paling kanan), menerima cinderamata dari Marco Poetra Kawet, Head of Capital Market Information Centre Batam, Selasa (20/8/2013) di kantor Redaksi Tribun Batam. Dalam kunjungannya, BEI bersama Masyarakat Ekonomi syariah (MES) terus menyosialisasikan investasi pasar modal yang aman. 

Investasi dengan keuntungan menggiurkan terus memukau masyarakat kendati kadang tidak masuk akal. Iming-iming seperti ini sudah sering membuat banyak orang terperangkap. Modusnya bermacam-macam. Mulai dari multilevel marketing, saham bodong, koperasi, perkebunan, valuta asing, leasing hingga emas.

Namun anehnya, kendati korban terus berjatuhan, praktik-praktik seperti ini tetap berkembang dan terbuka. Bahkan, para korban juga termasuk aparat hukum yang sebenarnya bisa membedakan apakah investasi semacam itu legal atau ilegal.

Kemarin kekisruhan produk berlabel investasi terjadi lagi. Sekitar 2.500 nasabah PT Gold Bullion Indonesia (GBI) yang menawarkan investasi emas, kehilangan Rp 1,2 triliun. Caranya tak jauh-jauh dari modus serupa dari perusahaan sejenis.

Nasabah ditawarkan investasi melalui skema emas fisik dan gadai emas berupa pembiayaan kepemilikan emas. Dalam skema ini, nasabah hanya membayar 40 persen dari total harga emas yang dibeli. Sisanya dibayar oleh perusahan dan nasabah diberikan surat bukti gadai serta kontrak dari GBI.

Kontrak gadai emas itu berlaku selama empat bulan dan tiap bulannya nasabah dapat dividen 2,5 persen dari harga emas yang dibeli meski emasnya dipegang oleh bank. Tentu saja berbeda dengan gadai yang sebenarnya, seperti yang dilakoni Perum Pegadaian. Nasabah justru membayar bunga dari gadai yang sebenarnya pinjaman itu.

Sudah bisa dibayangkan, bagaimana investasi rumit seperti ini hanya lancar di awal. Selain untuk memancing agar nasabah menginvestasikan uang lebih besar lagi, atau menarik investor lain, juga cara untuk mengelabui konsumen yang sudah menghayal akan uangnya yang berlipat-lipat.

Begitu mandeg, lalu terjadilah kepanikan. Kemana konsumen mengadu? Inilah masalah besarnya. Bila mengadukan ke kepolisian, secara pidana pelaku bisa dihukum, tetapi uang belum tentu --bahkan mustahil-- bisa kembali. Karena perusahaan sebenarnya tidak memiliki apapun,kecuali memutar-mutar uang nasabah untuk jangka waktu tertentu.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tentu juga sulit menangani hal ini karena perusahaan tersebut tentunya hanya memiliki izin tertentu, seperti perdagangan umum biasa. Perusahaan itu sebenarnya bukanlah lembaga jasa keuangan karena bila mereka mengajukan izin, tentunya akan ditolak oleh pemerintah.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada tanggal 3 Maret 2013 lalu sebenarnya sudah membatalkan izin GBI karena menyimpang dari izin yang diberikan. Izinnya menjual emas secara business to business (B to B) bukan ritel. Namun, masyarakat umum tentunya tidak paham perbedaan keduanya.

Berbagai kasus investasi alap-alap yang sering membawa banyak korban seperti ini memang demikian karena dari awal nawaitunya adalah untuk mengeruk uang masyarakat.

Hal ini harus menjadi perhatian pemerintah. Terutama sekali pentingnya izin satu pintu sehingga proses perizinan lebih sederhana serta penerapan laporan berkala dari perusahaan-perusahaan yang berhubungan langsung dengan publik.

Apa boleh buat. Kelemahan utama masyarakat kita adalah lemah dalam pemahaman hukum sehingga mudah tergiur oleh manisnya iming-iming. Padahal, cara kerja perbankan sebenarnya bisa menjadi pedoman bahwa transaksi keuangan itu bukanlah hal yang sederhana.

Rumus investasi itu sebenarnya sangat sederhana. Tidak ada investasi yang bisa mendatangkan untung besar, cepat dengan cara yang mudah dan tanpa risiko. Kalau hal itu memang ada, maka semua orang di dunia ini pastilah sudah kaya raya.

Penulis: Alfian Zainal
Editor: Candra P. Pusponegoro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved