Embarkasi dan Debarkasi Batam 2013

Makanan Merpati Jadi "Obat Mandul"

Kepercayaan bangsa India, Iran dan Turki, siapa yang memberi makan burung-burung merpati putih tadi, yang bersangkutan akan mendapat berkah.

Makanan Merpati Jadi
Tribunnewsbatam.com/Candra P. Pusponegoro
Warga muslim sedang memberikan makanan pada burung-burung merpati yang berada di sekitar Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi. Setiap usai salat berjamaah, banyak umat muslim menyempatkan waktunya untuk memberikan makanan pada burung merpati tersebut. 

MEKKAH, TRIBUN - Ibadah haji dapat juga disebut muktamar budaya internasional. Sebab jemaah haji yang bertamu ke baitullah berasal dari berbagai penjuru dunia, dengan latar belakang budaya yang beragam.

Pelbagai perilaku masing-masing jamaah menyatu. Mulai yang halus, santun hinga yang terkesan keras. Semisal saudara kita, jemaah haji dari benua Afrika dan Turki, sudah terbiasa berjalan dengan cara melangkahi kepala tatkala orang-orang sedang sujud salat.

Tapi, saya juga bertemu orang Jawa yang dikenal berbudaya santun dan lembut. Mereka ketika melewati para jemaah di masjid, dengan cara terbungkuk-bungkuk sambil tangannya ke bawah sambil senyam-senyum.

Teman saya dari Jawa itu, saat lewat di depan shaf jemaah yang jumlahnya ribuan seperti memberi salam sambi mengucapkan kata-kata permisi. Anda dapat bayangkan berapa lelahnya saudara kita tadi.

Karena mereka melewati jemaah dari ujung ke ujung. Nah, itu yang saya maksud kebiasaan, budaya dan tingkah laku orang di seluruh penjuru dunia itu muncul.

Kita bisa menyaksikan bagaimana kasarnya orang Arab ketika mau memasuki masjid. Apalagi dibanding dengan fisik orang-orang Indonesia yang rata-rata kecil, terkadang ada yang tersenggol sedikit saja langsung terjatuh.

Masya Allah. Lantas ada lagi perilaku dan kepercayaan aneh lainnya dari saudara kita dari India. Mungkin Anda terkekeh jika menyaksikan keanehan-keanehan itu.

Seperti si India yang saya sebutkan tadi. Sebagian orang India punya semacam keyakinan kalau jenazah dibungkus dengan kain kafan yang sudah dicuci dengan air zam-zam akan lebih baik.

Karenanya, orang India jika ke tanah suci menyempatkan diri membeli kain kafan satu pices (seukuran kebutuhan untuk orang meninggal), lantas dicucinya dengan air zam-zam di depan rumah kelahiran Nabi Muhammad sehabis salat Lohor.

Sehabis Lohor kain kafan tadi mereka bentangkan untuk jemur di jalanan yang selalu ramai dilalui orang-orang. Caranya, 3-4 orang memegang ujung kain kafan yang sudah dibentangkan tadi, sambil direnteng dan dikibas-kibaskan di tengah terik panas matahari.

Halaman
12
Editor: Candra P. Pusponegoro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved