Sisa Makanan Kami Diolah Jadi Gas

Orang-orang Thailand ramah dan senang bertemu dengan ‘orang asing’ dari Indonesia.

Sisa Makanan Kami Diolah Jadi Gas
Tribunnewsbatam.com/Istimewa
Gabriela Rosari Rindra Kartini, mahasiswi program studi Sistem Informasi di Universitas Internasional Batam (UIB).

Penulis: Gabriela Rosari Rindra Kartini

Sudah lebih dari tiga bulan saya beserta 8 peserta lain berada di Thailand, yang dikenal dunia sebagai ‘Land of Smiles’. Pertanyaan umum yang biasanya dilontarkan oleh kawan baik dari Indonesia maupun Thailand, “Gimana sih rasanya di Thailand? Gimana sih orang-orang Thailand itu? Enak gak di sana?”

Orang-orang Thailand mirip dengan orang Indonesia parasnya. Seringkali orang Thailand sendiri mengira kami orang lokal. Apalagi, jika kami menggunakan sepatah-dua patah Bahasa Thailand seperti untuk memesan makanan, menanyakan harga, dan meminta potongan harga.

Kami dibekali pengetahuan dasar Bahasa Thailand oleh pihak kampus supaya dapat ‘hidup’ di sini. Lumayan, bisa dapat harga lokal loh!   

Thailand. Orang-orangnya ramah. Teman-teman di sini senang bertemu dengan ‘orang asing’ seperti kita. Mereka berusaha untuk berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Sebagian ada yang lancar ada juga yang kurang lancar.

Tapi, mereka tak malu untuk berbicara. Salut! Rasa saling menghargai juga kental terasa di sini. Banyak kaum transgender yang bisa bekerja di manapun mereka mau, kaum penyuka sesama jenis juga bebas mengakui pasangannya.

Tak ada yang mengolok, tak ada yang melemparkan senyum sinis. Udara di sini menurut saya panas dan pengap. Walaupun hujan turun, itu tidak terlalu berpengaruh. Mungkin karena kami tinggal di bagian selatan Thailad, yang berada di daerah tropis.

Kampus disini nyaman dan besar. King Mongkut's University of Technology Thonburi (KMUTT) merupakan kampus ‘terhijau’ urutan pertama di Thailand. Lingkungan kampus dirawat dengan apik dan pelajarnya pun disiplin menjaga kebersihan.  

Di sini, tempat sampah tersedia dan tersebar di seluruh titik. Ada lima jenis tempat sampah, untuk yang masih bisa digunakan ulang dan yang tidak bisa. Seperti aluminium foil yang sudah dipakai, plastik bekas pembungkus makanan, dan sebagainya.

Untuk yang berupa toxic atau racun, untuk sisa-sisa praktik. Sebagai catatan kampus kami di sini adalah kampus teknik dan sisa makanannya sampah organik. Ada yang unik dari kantin kampus kami.

Halaman
12
Editor: Candra P. Pusponegoro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved