Warga Batam Dirampok di Singapura

"Korban tak Terdaftar di KUPVA, Harusnya Tukar Valuta di Indonesia Saja"

"Kami cek data, ada sekitar 128 pelaku KUPVA di Kepri, nggak ada nama Kang Tie-Tie sebagai pemilik yang teregistrasi," kata Kepala BI Kepri, Gusti.

tribunnews batam/alvin
PT Niaga Lestari Money Changer, Nagoya Batam, Kepulauan Riau (Kepri) tempat Kang Tie Tie bekerja, Senin (17/11/2014). 
Laporan Tribunnews Batam, Anne Maria
TRIBUNNEWSBATAM.COM, BATAM- Alasan Kang Tie Tie, korban perampokan di Singapura, membawa mata uang asing hingga‎ mencapai nilainya miliaran rupiah dari Batam ke Singapura masih menjadi pertanyaan.
Pria yang diduga melakukan aktivitas berkaitan dengan money changer itupun tidak terdaftar sebagai Pelaku Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing (KUPVA).
Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kepri, Gusti Raizal Eka Putra, mengatakan dari data yang dimiliki, pihaknya tidak ditemukan identitas atas nama tersebut.
"Kami cek data, ada sekitar 128 pelaku KUPVA di Kepri, nggak ada nama Kang Tie-Tie sebagai pemilik yang teregistrasi. Lagipula, kalau dia teregistrasi, harusnya ada pengawalan. Tapi dengan catatan dia harus melapor," ujar Gusti kepada Tribun Batam, Senin (17/11/2014).

Menurutnya, untuk membawa mata uang rupiah dari dalam negeri ke luar negeri diatur oleh BI. Sedangkan untuk valuta asing, pengaturannya harus melapor ke Bea Cukai.

"Kalau mata uang rupiah mau dibawa ke luar, lapornya ke kami. Kalau sampai Rp100 juta tidak perlu lapor, sebaliknya kalau di atas Rp100 juta harus lapor. Sedangkan valuta asing yang dibawa ke luar, pengaturannya di Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), itu laporannya ke Bea Cukai," tutur Gusti.

Jika tidak melapor dan ketahuan, maka yang bersangkutan dapat dikenakan denda.‎ Kegiatan yang dilakukan Kang Tie Tie pun patut dikhawatirkan. Pasalnya, jika ribuan valuta asing yang di bawa dari Batam ke Singapura itu dibuat untuk berbelanja, maka berpotensi merugikan perekonomian lokal.

"Kalau bicara untung ruginya untuk perekonomian kita, tergantung valuta asing itu dibuat apa di sana (Singapura). Kalau ada transaksi di sana, misalnya belanja artinya kan import barang. Kalau terlalu sering membeli barang dari luar negeri bisa jadi defisit transaksi berjalan kita," tutur Gusti mencontohkan.

Oleh sebab itu, menurutnya, perlu dicari tahu lebih dulu alasan pria yang mengalami perampokan tersebut membawa valuta asing itu ke Singapura.‎ Sementara itu, Hendra Asman anggota komisi II DPRD Kota Batam yang sempat mengetahui informasi ‎tersebut mengatakan segera mendudukan permasalahan ini di komisinya.

Sebab, peristiwa yang dialami oleh Kang Tie Tie bukan yang pertama kalinya terjadi di Batam. Padahal, untuk menukarkan valuta asing dapat dilakukan melalui bank di Indonesia saja.

"‎Kami cari tahu dulu soal masalah ini, sekarang saya pribadi baru tahu dari media saja, posisi saya juga masih di Jakarta. Nanti akan kita bicarakan di Komisi II, kita cari tahu sama-sama kok bisa terulang lagi kasus yang begini," kata Hendra Asman.

Hendra yang juga menjadi tokoh Tiong Hoa itupun mengaku tidak mengetahui identitas mengenai Kang Tie Tie.

"Di perkumpulan tidak ada tahu, nanti kalau saya sudah dapat informasi dia siapa akan saya konfirmasikan," ucap Hendra.

Tak cuma Hendra,‎ Amat Tantoso yang juga warga Tionghoa sekaligus pelaku KUPVA mengatakan tidak pernah tahu dengan nama Kang Tie Tie di lingkungannya. Amat Tantoso bahkan sempat menghimbau kepada para pengusaha valas di Kepri, agar berhati-hati saat hendak menukarkan uang ke Singapura.

"Saya baca tadi berita online, tapi nggak kenal juga sama Kang Tie Tie. Semoga kejadian perampokan semacam ini tidak terulang lagilah, jika ada penukaran atau transfer uang dengan jumlah banyak, sebaiknya pengusaha valas di Kepri bisa melalui bank di Indonesia saja," kata Amat Tantoso lewat BlackBerry Messengernya.
Editor: Sri Murni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help