Listrik di Ranai Natuna Makin Parah, 8 Jam Hidup 8 Jam Mati!

Mati selama delapan jam, hidup selama delapan jam. Begitulah situasi kelistrikan yang terjadi di Ranai, Natuna, dan sekitarnya saat ini.

Listrik di Ranai Natuna Makin Parah, 8 Jam Hidup 8 Jam Mati!
tribunnews batam/m ikhsan
Sejumlah pengendara di Ranai, Natuna, berhenti di persimpangan lampu merah. Warga di kota ini hanya bisa menikmati listrik dengan jadwal delapan jam hidup dan delapan jam mati. 

Laporan Tribunnews Batam, M Ikhsan

TRIBUNNEWSBATAM.COM, NATUNA- Mati selama delapan jam, hidup selama delapan jam. Begitulah situasi kelistrikan yang terjadi di Ranai, Natuna, dan sekitarnya saat ini. PLN Rayon Ranai pun mengumbar janji jika hal ini masih akan terjadi dua bulan kedepan hingga Maret 2015.

Namun masyarakat nampaknya mulai tidak tahan. Dunia usaha kecil dan menengah di Natuna pun lesu dan terancam bangkrut.

"Rusak ya perbaiki lah. Kenapa harus nunggu lama sampai dua bulan kemudian, mau datangin mesin ya datangin. Kami nggak harus disuruh merasakan siksaan pemadaman delapan jam mati dan hidup delapan jam ini tiap harinya," ujar Syaifurahman, warga di Jalan Sudirman, Ranai yang bekerja toko itu.

Belum lagi usaha laundry rumah tangga yang dijalankan Mak long di Jalan Air Lebay. Akibat pemadaman 'edan' ini ia pun sudah untuk melakukan aktivitas menyeterika hingga menyalakan mesin cuci. Akhirnya diakuinya terpaksa ia menaikkan upah cucian dari Rp150 ribu per bulan menjadi Rp180 ribu per bulan bagi para pelanggan.

"Kami pakai genset mahal kali pengeluaran, harga BBM kan mahal. Kalau malam mati lampu kami nggak bisa kerja," ujarnya.

Selain itu usaha warung yang juga dijalankannya terpaksa tutup sementara, karena kerjaan menumpuk akibat pemadaman listrik delapan jam tersebut. Selain itu warung yang biasa menyajikan minuman es itu pun punya kesulitan mendinginkan esnya di kulkas sehingga produktifitas jualan berkurang selama dua bulan terakhir

"Sepanjang sejarah ini yang paling parah. Dulu waktu dikelola PT Tiga Bintang, Ranai sempat kirisis listrik juga sih, tapi matinya sehari hidupnya tiga hari. Kalau sekarang PLTD yang dijalankan Bima Golden Powerindo itu sering rusak dan malah lebih para delapan jam hidup mati," ujar Mak Long.

Masih di jalan Sudirman, Afwan pemilik Warung Internet dan toko perlatan kantor mengaku usahanya cukup lesu. Pasalnya ia tidak memberlakukan penggunaan genset saat listrik padam, karena perhitungan operasional yang cukup tinggi.

"Ya kalau padam, harus gimana lagi terpaksa saya tutup. Biasanya karyawan saya ada tiga di Warnet ini, saat ini tinggal dua. Operasional yang saya dapatkan sekarang berkurang, tidak cukup untuk menggaji banyak karyawan. Memang katanya sampai Maret tahun depan, tapi saya gak yakin, pasti akan ada kerusuhan nih," ungkap Afwan. 

Staff PLN Rayon Ranai, mengatakan pihaknya saat ini masih menunggu kebijakan usai penggantian manajer. Manajer PLN Rayon Ranai, Denny Arsadi saat ini sudah bertugas di Jakarta.

"Manajer yang baru belum datang, kami cuma nunggu kebijakan, soalnya mesin PLTD cuma empat unit yang difungsikan," ujar salah seorang staff bagian distribusi PLN Rayon Ranai.

Bupati Natuna, Ilyas Sabli pun mengaku belum ada langkah lanjutan, dan masih menunggu janji PLN hingga bulan maret tahun depan. "Mereka sudah jelaskan ke kami akan datangkan mesin baru," ujar Ilyas 

Dipastikan selama dua bulan kedepan, warga Ranai akan terus 'disiksa' hidup mati listrik delapan jam bergantian tiap hari.

Editor: Sri Murni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved