Zona Abu-Abu Memberikan Ruang Oknum Untuk Bermain Dan Tawar-Menawar

Warga binaan kasus narkoba sering kali mendominasi di setiap rumah tahanan (rutan).

Zona Abu-Abu Memberikan Ruang Oknum Untuk Bermain Dan Tawar-Menawar
Tribun Batam/Istimewa
Direktur Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Mawar Saron Batam, Tredi Wibisaka SH. 

Oleh: Tredi Wibisaka, SH*

Warga binaan kasus narkoba sering kali mendominasi di setiap rumah tahanan (rutan). Setidaknya begitulah yang terjadi di empat rutan di dua kota. Yakni tiga rutan DKI Jakarta (Cipinang, Salemba, Pondok Bambu) dan satu rutan di Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau atau rutan Batam

Sudah sekitar empat tahun terhitung sejak tahun 2010 sampai sekarang November 2014, penulis bersama Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Mawar Saron rutin melakukan penyuluhan hukum mengenai hak-hak tersangka di rutan.

Berdasarkan daftar konsultasi yang penulis dapatkan, rata-rata memang kasus narkoba yang paling banyak menjadi warga binaan. Kebanyakan dari warga binaan yang tersangkut dengan kasus narkoba adalah “penguna”.

Rata-rata mengunakan sabu-sabu dan ganja, dengan barang bukti yang berkisar antara 0,2 gram sampai dengan 0,6 gram. Para pengguna tadi umumnya dijerat mengunakan pasal 111 Jo. pasal 112 Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

Yang selanjutnya disebut dengan UU Narkotika dengan ancaman hukuman minimal empat tahun dan paling tinggi dua belas tahun penjara.

Penyidik kepolisian nampaknya “membabi buta” dan menyamaratakan pengguna dengan penanam, pemelihara, pemilik, dan penyimpan. Seharusnya pengguna lebih layak dijadikan korban yang harus dipulihkan.

Alangkah boros negara ini harus membiayai penguna yang jumlahnya ribuan atau mungkin jutaan di seluruh Indonesia. Apabila masing-masing dikenakan hukuman paling rendah empat tahun penjara.

Bayangkan! Banyak biaya yang harus dikeluarkan negara untuk memberi makan seorang saja bila terpenjara selama empat tahun dengan ilustrasi perhitungan sebagai berikut;

Empat tahun jumlahnya sebanyak 1.460 hari. Dengan tiga kali makan per harinya sudah cukup terasa nominalnya. Misalnya harga nasi per bungkus Rp5.000,00 maka totalnya 1.460 hari x 3 x Rp5.000,00 = Rp21.900.000,00.

Halaman
12
Editor: Candra P. Pusponegoro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved