Derita Nelayan Batam Korban Reklamasi

Diami Batam Sejak 1962 Hingga Kini Listrik-Airpun tak Disalurkan Pemerintah

"Saya datang ke Batam pertama kali tahun 1962 dari Nusa Tenggara. Belum ada lagi Otorita Batam, saya sudah tinggal disini."kata Anton.

Diami Batam Sejak 1962 Hingga Kini Listrik-Airpun tak Disalurkan Pemerintah
tribunnews batam/dewi haryati
Suasana kampung Penembi, Kelurahan Belian, Batam Centre, beberapa waktu lalu. 

Laporan Tribunnews Batam, Dewi Haryati

TRIBUNNEWSBATAM.COM, BATAM- Seorang tetua Kampung Penembi, Batam Centre, Anton Saga (73) yang tak lain adalah bapak mertua Sawaludin, sebenarnya termasuk orang pertama yang tinggal di Batam.

Laki-laki bertubuh kurus ini sudah sekitar 45 tahun tinggal di kaki Bukit Arang Kampung Penambi. Diapun sudah memiliki cucu dan cicit di sana.

"Sudah 3 keturunan kami tinggal di sini. Saya datang ke Batam pertama kali tahun 1962 dari Nusa Tenggara. Tahun 1970-nya saya tinggal di kampung ini. Belum ada lagi Otorita Batam, saya sudah tinggal di sini," kata Anton kepada Tribun Batam saat menyambangi kediamannya beberapa waktu lalu.

"Tahun 1974, saya tanam pohon-pohon kelapa dekat sini. Kadang kalau berbuah, itulah yang kami jual. Dapat 20 biji, kami jual ke pedagang kelapa. Dapatlah sekitar Rp 80 ribu," sambungnya.

Namun selama waktu itu, keberadaan mereka seperti tak diperhatikan pemerintah. Untuk penerangan listrik mereka masih mengandalkan lampu petromax. Alhasil anak-anak mereka yang berstatus pelajar, terpaksa belajar di dalam kegelapan.

"Di sini ada 7 anak yang sekolah. Lima SD, 2 smp. Kalau belajar, mereka pakai lampu petromax juga," kata Sawaludin, menantu Anton.

Tak ayal lagi di kala malam, rumah-rumah warga yang terletak di kaki bukit gelap gulita. Jikapun ada penerangan, itupun hanya sebentar karena bantuan generator listrik.

Ironi, padahal lokasi kampung ini berjarak tidak jauh dari pusat pemerintahan Kota Batam. Namun kehidupan masyarakatnya seperti terpinggirkan. Sejauh ini belum ada pejabat pemerintah yang datang melihat keadaan warga di sana.

"Inilah rumah kami, kayunyapun sudah mau lapuk. Kadang kami iri juga, orang yang tinggal di pulau saja dikasih bantuan pemerintah. Kami macam tinggal di pulau jauh saja. Padahal kantor wali kotapun masih tampak dari sini," ujarnya.

"Ada bantuan rumah tidak layak huni (RTLH). Yang tak ada penerangan, dikasih penerangan walaupun dari tenaga surya. Kalau kami tak ada sama sekali. Apa rumah kami termasuk ruli ya?," kata Sawal bingung.

Kesulitan hidup mereka tidak sampai disitu, untuk memenuhi kebutuhan mencuci, mandi, dan bersih-bersih, mereka masih terbantu dengan keberadaan sumur di belakang kaki bukit. Namun untuk mengambil air sumur itu, mereka tetap harus menggunakan perahu.

"Ada sumur di belakang bukit. Kalau ambil air kami naik perahulah. Baru diisi ke jeriken yang ada, bawa lagi pulang ke rumah," ujarnya.

Besar harapan Sawal, pemerintah mau membuka mata untuk melihat keberadaan warga di Kampung Penambi ini. Meski dalam beberapa bantuan seperti raskin, dan bantuan langsung tunai, ada beberapa warga yang mendapatkan jatah, namun itu masih bisa dihitung dengan jari.

Tags
Batam
Editor: Sri Murni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help