TribunBatam/

Sebegininya PT Philips di Batam Menghalangi Pekerja Bentuk Serikat

Manajemen sampai mendatangkan kepala sekolah, guru BP dari para pekerja itu berasal. Manajemen juga sempat menghubungi orangtua para pekerja.

Sebegininya PT Philips di Batam Menghalangi Pekerja Bentuk Serikat
tribunnews batam/elhadif
Suasana di pertigaan Panbil- Mukakuning, Batam, Rabu (9/12/2014) saat aksi demo buruh. 

"‎Diusir seperti maling. Sampai ada yang dompetnya, kunci motornya masih tinggal di loker," kata dia.

Tak terima dengan perlakuan tersebut, 54 orang pekerja yang di PHK itupun langsung mengadu kepada Disnaker dan Komisi IV DPRD Kota Batam.

Mereka juga tetap mengirimkan surat pada manajemen untuk membuka ruang komunikasi mengenai masalah itu.

"Manajemen dapat nama-nama yang di PHK dari listing daftar hadir saat rapat pembentukan serikat. Pekerja punya hak. Semua normatifnya tetap akan dijalankan, termasuk ajakan berunding dengan manajemen," ucap Yoni.

Namun jika manajemen tetap mengabaikan hak-hak pekerja, maka mereka akan melakukan aksi mogok kerja.

"Itu adalah hak-hak kami. Kami bisa mempergunakan itu sepanjang manajemen tidak mau bicara," kata Yoni.

Sementara itu, Ketua PUK PT Philips, Muldi Danda mengatakan pekerja sudah melakukan lobi-lobi kepada manajemen dan pengurus serta anggota bipartit saat ingin membuat serikat.

Keinginan mereka tak lepas dari kekecewaan pekerja yang merasa bipartit tidak berfungsi atau tidak menjalankan tugasnya.

"Alasan manajemen menolak katanya sudah ada bipartit, untuk apa serikat. Tapi kami melihat tidak ada kerja bipartit itu. Setelah kami menyatakan akan membentuk serikat, baru mereka tiba-tiba sosialisasi dalam 24 jam," ujar Muldi Danda.

‎Selain kekecewaan tersebut, pekerja pun melihat banyak kejanggalan-kejanggalan di internal perusahaan. Contohnya mengenai kantin perusahaan yang disebut-sebut menyediakan makanan tidak layak bagi pekerja.

"Soal kantin, mereka menyediakan makanan berulat. Tidak layak dimakan manusia. Kami sudah komplain berkali-kali lewat email dan lainnya tapi tidak ditanggapi. Begitu mau berserikan, tiba-tiba kantin berbeda," kata Muldi Danda.

Editor: Sri Murni
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help