Citizen Journalism

Tamu Istimewa Dari Suriah

hadirnya Mansyur (5 tahun) dan Syarif (3 tahun). Keduanya adalah kakak beradik yang menarik perhatian seluruh keluarga KBRI

Tamu Istimewa Dari Suriah
Istimewa/ Putut Prabantoro
Mansyur dan Syarif ikut berfoto dengan Dubes RI untuk Korea Utara Bambang Hiendrasto ( tengah ---- berpeci dan berdasi merah putih ) setelah upacara HUT Ke-70 Kemerdekaan RI di KBRI di Pyongyang, Senin (17/8/2015) 

Catatan Perjalanan Teguh Santosa dan AM Putut Prabantoro dari Perhimpunan Persahabatan Indonesia – Korea Utara (PPIK) mengunjungi Pyongyang, Korea Utara untuk menghadiri Konferensi Asia Pasifik Reunifikasi Damai Korea dan perayaan ulang tahun ke-70 Hari Pembebasan Korea.

Dari kunjungan itu, ada beberapa cerita ringan yang dikumpulkan Putut Prabantoro, yang juga Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa).

--

Perayaan ulang tahun ke-70 Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2015 memiliki arti yang sangat istimewa bagi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Pyongyang, Korea Utara.

Sekalipun upacara bendera diikuti oleh seluruh seluruh staf KBRI beserta keluarganya yang hanya berjumlah 34 orang, keistimewaan pesta itu sangat terasa.

Kado istimewa yang pertama adalah hadirnya Mansyur (5 tahun) dan Syarif (3 tahun). Keduanya adalah kakak beradik yang menarik perhatian seluruh keluarga KBRI termasuk Dubes RI untuk Korea Utara, Bambang Hiendrasto beserta ibu yang tidak segan-segan melayani kedua anak kecil ini.

Kedua anak kecil itu adalah tamu yang sangat istimewa karena merupakan putra dari Dubes Suriah untuk Korea Utara, Tammam Sulaiman.

Kehadiran Mansyur dan Syarif tanpa didampingi kedua orangtuanya. Adalah Castini, warga Indonesia, yang menjadi pengasuh selama ini, yang menjadi tokoh sentral kedua anak tersebut.

Castini yang aslinya Indramayu ini telah beberapa tahun menjadi pengasuh Mansyur dan Syarif saat mereka masih berada di Suriah.

Menurut penuturan perempuan Indramayu itu, awalnya ia menjadi pembantu di Suriah tahun 2010 dan ikut keluarga Sarona, ibu kandung dari Izis – isteri dari Tammam Sulaiman. Karena merasa cocok, isteri Maksudi ini kemudian dibawa serta ke Korea Utara untuk mengasuh Mansyur dan Syarif.

“Syarif yang sedikit-sedikit bisa berbahasa Indonesia, sementara Mansyur belum bisa. Dalam percakapan sehari-hari, saya menggunakan bahasa Arab dengan keduanya. Kedekatan saya dengan kedua kakak beradik ini memang seperti ini. Mereka selalu ikut kemana saja saya pergi karena sehari-hari saya memang pendamping utama mereka,” ujar Castini dengan bangga.(*)

Editor: Iman Suryanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved