Pilkada Kepri 2015

Batam Jadi Kota Paling Rawan di Kepri dalam Hal Politik Uang

Dari 986 kasus politik uang di Kepri, terdapat 482 kasus di Batam dan 209 di Bintan.

Batam Jadi Kota Paling Rawan di Kepri dalam Hal Politik Uang
Istimewa
Ilustrasi politik uang saat pilkada 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, TANJUNGPINANG- Pemilihan kepala daerah (Pilkada) akan digelar 9 Desember mendatang.

Menjelang pesta demokrasi ini digelar, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kepri mengeluarkan prediksi potensi kerawanan Pilkada berdasarkan 5 komponen yang dipetakan dari data-data yang diambil dalam pemilihan legislatif dan pemilihan presiden sebelumnya.

Dalam kegiatan Sosialisasi Pengawasan (Progress Report) Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Kepri Tahun 2015 di Hotel Laguna, Rabu (25/11/2015) sore, komisioner Bawaslu Indrawan Susilo memetakan lima komponen potensi kerawanan Pilkada itu.

Kelima komponen kerawanan tersebut adalah keamanan, politik uang, ketersediaan faslitas Pilkada, netralitas aparatur sipil negara (ASN) dan keterlibatan penyelenggara Pilkada.

Salah satu poin yang mendapat penekanan dari Indrawan adalah potensi kerawanan di sejumlah tempat pemungutan suara (TPS).

Potensi kerawanan ini ditengarai cukup tinggi akan terjadi dalam Pilkada di Kepri.

"Di Kepri, ada 477 TPS yang dimasukkan dalam TPS rawan. Dari jumlah ini, ada sekitar 283 TPS itu terdapat di Batam. Kasus yang terjadi misalnya terkait penggunaan hak pilih, pemalsuan dokumen dan lain-lain," jelas Indrawan.

Kendatipun demikian, Indrawan sendiri sudah memastikan bahwa Bawaslu Kepri sudah mengantisipasi potensi kerawan itu.

Salah satu strategi yang ditempuh adalah mengaktifkan peran petugas TPS untuk memantau kondisi TPS-nya.

"Kami sengaja merekrut petugas TPS yang berasal dari daerah sekitar TPS sehingga dia bisa mengontrol TPS tersebut. Kami jamin, petugas TPS ini bersifat netral. Kami juga menegaskan agar setiap petugas TPS memeliki telepon seluler untuk mempermudah komunikasi dan koordinasi," ungkap Indrawan.

Halaman
12
Penulis: Thom Limahekin
Editor: Sri Murni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help