KALEIDOSKOP KEPRI 2015

Polemik 'Byar-Pret' di Tanjungpinang Buat Warga Pukul Pejabat dan Lempari Kantor PLN

Kami sudah muak akan kondisi listrik yang terus padam selama ini

2. Usai Bertemu Gubernur, Manager PLN Riau-Kepri Dipukul

Demo warga ke PLN Tanjungpinang

Kemarahan warga Tanjungpinang terkait krisis listrik di wilayah Pulau Bintan, Selasa (17/3) berlanjut. Manager Teknik PLN Kantor Wilayah (Kanwil) Riau-Kepri Pintor Rumapea datang ke Tanjungpinang untuk bertemu dengan Gubernur Kepri H Muhammad Sani di Gedung Daerah.

Namun, kehadiran Pintor tersebut berujung kericuhan. Massa yang datang mengepung Gedung Daerah sejak pagi, meluapkan kekesalannya setelah pertemuan dua jam tersebut. Pintor mendapat bogem mentah dari seorang pelaku unjuk rasa usai pertemuan.

Kejadian tersebut membuat Pintor kecewa, namun dia mengaku tidak bisa berbuat banyak. Pintor yang datang dari Pekanbaru sehari setelah aksi demonstrasi Solidaritas Masyarakat Peduli Aksi PLN, sehari sebelumnya, juga tidak mau memperpanjang urusan tersebut ke aparat penegak hukum.

"Dua kali saya dipukul. Saya kira, dia yang pukul saya itu ahli pukul. Saya bukan ahli pukul," ucap Pintor pelan sambil menundukkan kepala.

Pintor mengaku heran pada orang yang telah memukulnya itu. Sebab, ia tidak mengetahui apa alasan dirinya dipukul. Ia pun tidak mengenal orang yang memukulnya.

Tiba-tiba saja orang itu langsung mendaratkan tinjunya di rahang sebelah kanan Pintor saat hendak naik ke mobil.

"Saya heran. Saya dipukul setelah pembahasan masalah ini dengan Pak Gubernur sudah mencapai hasil. Jangan main hakim sendiri. Cukup saya sajalah yang dipukul. Selanjutnya jangan anggota saya dan Majuddin (Plt Manager PLN Tanjungpinang_red) dipukul lagi. Sebab itu akan mengganggu pekerjaan. Nanti kalau kami pulang kampung karena merasa terancam, bagaimana dengan listrik di sini," ungkap Pintor.

Melihat Pintor dipukul, Majuddin terlihat mulai tidak tenang. Dia tampak gelisah dan selalu melihat ke luar Gedung Daerah untuk mengantisipasi masyarakat yang menyerobot masuk dan bertindak kasar kepadanya.

Sebab, sehari sebelumnya, Majuddin juga di-bully dan menjadi bahan olok-olok saat warga berdemo.

Setelah insiden pemukulan itu, aparat keamanan yang berjaga seakan tersentak dan mendadak. Sejumlah pejabat PLN yang ikut perundingan, kemarin, langsung mendapat pengamanan ketat. Pintor yang hendak naik mobil terpaksa digiring kembali masuk ke Gedung Daerah.

Suasana kembali tegang ketika beberapa tokoh Solidaritas Masyarakat Peduli Aksi PLN, seperti Raja Mansyur Razak, Andi Cori Fatahuddin dan Suhardi Mukhlis, juga masuk kembali ke Gedung Daerah.

"Sebagai ketua koordinator aksi, saya siap bertanggung jawab atas ulah anggota saya. Memang saat kami sedang membaca hasil putusan dalam pertemuan tadi, banyak anggota tidak puas. Kebetulan saja Bapak lewat. Makanya ada anggota tak kuasa menahan emosi," ungkap Cori.

"Kalau bapak mau lanjutkan masalah ini ke proses hukum, ya, silahkan. Saya siap bertanggung jawab," kata Cori pasang badan.

Usai pertemuan lanjutan itu, Pintor dan Majuddin segera dievakuasi aparat keamanan. Sebab, ada gelagat keduanya akan diserang lagi.
Aparat keamanan menuntun keduanya melalui pintu belakang Gedung Daerah, ke kediaman Gubernur Kepri di samping Gedung Daerah dan memasukkan mereka ke mobil secara sembunyi.

Saat mobil itu hendak keluar dari halaman Gedung Daerah, sejumlah anggota solidaritas berlari mendekat. Mereka mengantongi batu dan hendak melempari mobil yang ditumpangi Pintor dan Majuddin.

Namun, aksi mereka dihadang oleh polisi dan anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kepri.

"Woi, jangan tahan anggota kami. Lepaskan mereka," teriak puluhan anggota solidaritas menghardik polisi dan anggota Satpol PP yang berusaha menangkap anggota solidaritas yang mau melempar mobil.

Solidaritas Masyarakat Peduli Aksi PLN yang berunjuk rasa, Senin lalu, memang mengepung Gedung Daerah sejak pagi. Warga datang karena ingin mengawal pembicaraan gubernur dengan Dodi, terkait krisis listrik di wilayah Pulau Bintan yang membuat kemarahan warga sampai di puncaknya.

Jumlah warga yang datang memang tidak sebanyak saat berunjuk rasa di Kantor PLN Tanjungpinang sehari sebelumnya. Namun, reaksi mereka tidak kalah keras. "Pokoknya Tanjungpinang harus terang..!" teriak Ujang, seorang anggota solidaritas tersebut.

Teriakan tersebut disambut oleh anggota solidaritas lainnya.

Suasana di Gedung Daerah memang sudah mencekam sejak awal. Para pegawai PLN Area Tanjungpinang dan rombongan yang datang diarahkan secara diam-diam ke dalam Gedung Daerah. Mobil-mobil yang bertuliskan semboyan dan logo PLN diminta untuk diparkir agak jauh dari Gedung Daerah.

Andi Cori Fatahuddin, koordinator Solidaritas Masyarakat Peduli Aksi PLN dan kawan-kawan berusaha memasuki Gedung Daerah lewat pintu samping untuk mengikuti pertemuan tersebut. Upaya mereka itu dihadang anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kepri.

"Kami mau masuk juga untuk ikut pertemuan. Kami mau lihat hasil pertemuannya seperti apa," teriak Cori.

Pertengkaran mulut yang nyaris berujung adu fisik hampir terjadi di antara kedua belah pihak. Namun, perseteruan tersebut akhirnya diredam oleh Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Tanjungpinang, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) M Dwita Kumu.

Setelah berunding singkat, beberapa perwakilan diizinkan mengikuti pertemuan tertutup tersebut. (Tribun Batam/tom)

Halaman
Penulis:
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved