KALEIDOSKOP KEPRI 2015

Polemik 'Byar-Pret' di Tanjungpinang Buat Warga Pukul Pejabat dan Lempari Kantor PLN

Kami sudah muak akan kondisi listrik yang terus padam selama ini

4. Lampu Jalan Mati, Pinang Seperti Kota Mati

Warga Tanjungpinang menggelar unjuk rasa di depan kantor PLN Tanjungpinang, Kepuluan Riau (Kepri), Senin (16/3/2015).

Krisis listrik yang terjadi di Tanjungpinang dan Bintan menjadi pilihan sulit bagi PLN Area Tanjungpinang. Apalagi setelah warga menggelar aksi demonstrasi, Senin lalu dan berlanjut pada pertemuan panas antara Manager Teknik PLN Kanwil Riau-Kepri, sehari setelahnya, beberapa perubahan dilakukan PLN.

Pemadaman listrik di rumah-rumah warga tidak sering terjadi lagi pada Rabu (18/3) kemarin. Namun, Kota Tanjungpinang gelap gulita pada malam hari yang merupakan beban puncak pemakaian listrik. Mesin pembangkit yang ada hanya mampu memasok 40,8 megawatt (MW), sementara beban puncak membutuhkan setidaknya 53 MW.

Suasana gelap gulita tersebut terlihat di jalan-jalan kota sehingga ibukota Kepri itu seperti kota mati. Suasana terang sekadarnya hanya dari lampu penerangan di seki8tar pemukiman, teras rumah atau kompleks ruko serta lampu kendaraan yang langsir di jalanan.

Sementara, hampir seluruh lampu penerangan jalan umum (PJU) mulai dari daerah pasar hingga Batu 16 atau perbatasan kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan dipadamkan oleh pihak PLN. Lampu-lampu jalan di median jalan sama sekali tidak dinyalakan.

"Kami memang memadamkan lampu-lampu jalan dan pelanggan-pelanggan besar. Ini dilakukan untuk menghemat daya," ungkap Majuddin, pelaksana tugas (Plt) Manager Area PLN Tanjungpinang, Rabu (18/3) sore.

Tidak cuma lampu jalan, listrik di hotel-hotel dan kantor-kantor pemerintah juga dimatikan. Di Kantor DPDR Kepri dan Kantor Gubernur Kepri, listrik hanya dinyalakan selama jam kantor. Di atas jam kantor sampai keesokan harinya, listrik dipadamkan langsung dari PLN.
"Listrik menyala dari pukul 08.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB. Setelah itu listrik dipadamkan," kata seorang staf teknis di Kantor DPRD Kepri.

Akibatnya, para pegawai yang pekerjaannya menumpuk, terpaksa harus mengurut dada, menunda pekerjaannya hingga esok hari. "Padahal kami rencananya mau lembur, terpaksa tidak jadi," ungkap Meri, seorang pegawai di Kantor Gubernur Kepri.

Aksi unjuk rasa yang diwarnai insiden dan ketegangan antara warga dan PLN ini cukup mempengaruhi kerja perusahaan setrum pleat merah itu. Kendati upaya yang dilakukan belum banyak, namun para teknisi PLN berusaha sekuat tenaga untuk mengurangi durasi pemadaman listrik secara bergilir.

Dalam kesepakatan dengan Gubernur Kepri HM Sani di Gedung Daerah Tanjungpinang, Selasa (17/3) lalu, PLN berjanji akan menambah daya 3 megawatt pada Rabu (18/3). Namun, daya listrik yang dihasilkan baru mencapai 600 kilowatt.

"Kami sudah berusaha menambah daya 3 megawatt dari tiga unit mesin diesel. Saat ini masing-masing mesin baru mampu memasok daya 200 kilowatt. Kami ingin meningkatkannya agar setiap mesin bisa memasok daya 1000 kilowatt atau 1 megawatt," jelas Majuddi.

"Mesin-mesin tersebut sudah lama kami datangkan dari Semarang. Selama ini kami tidak mengoperasikannya. Sekarang baru kami pakai," kata Majuddin. Ia tidak menjelaskan kenapa mesin diesel itu menganggur selama ini.

Majuddin menambahkan, ketiga mesin ini memang belum mampu mengatasi defisit listrik dan pemadaman pemadaman masih terus terjadi sampai tanggal 6 April 2015. Tapi durasinya dikurangi. Setiap hari, listrik hanya padam sekali saja dan lamanya pemadaman tiga jam. (Tribun Batam/tom)

Halaman
Penulis:
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved