Rencana Pembubaran BP Batam

Kadin Batam Bentuk Tim 9 Rumuskan Masa Depan Batam dan akan Bertemu BJ Habiebie

‎ Kadin Batam membentuk tim sembilan untuk ‎membantu memberi masukan kepada pemerintah pusat mengenai usulan Batam ke depan.

Kadin Batam Bentuk Tim 9 Rumuskan Masa Depan Batam dan akan Bertemu BJ Habiebie
tribunnews batam/iseibatam.wordpress.com
Gita Indrawan, akademisi dan pengamat ekonomi Batam 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, BATAM-‎ Kadin Batam membentuk tim sembilan untuk ‎membantu memberi masukan kepada pemerintah pusat mengenai usulan Batam ke depan.

Tim yang terdiri dari enam orang anggota kadin Batam dan tiga akademisi tersebut akan mengundang stakeholder terkait untuk menyerap aspirasi mengenai Batam, serta melakukan audiensi dengan tokoh pembangunan Batam.

Mereka adalah: akademisi terdiri dari Gita Indrawan, Cak Tain‎, dan Ade‎ P Nasution. Sementara Kadin Batam ada Jadi Rajagukguk‎, Abdul Razak, James Simare-mare, Niko Nixon, Ampuan Situmeang, dan Suyono

"Tim sembilan ini akan mengkaji dan meminta masukan dari seluruh stakeholder, termasuk juga mengumpulkan data. Nanti kami akan ke Jakarta bertemu dengan founder Batam Pak Habibie, sebenarnya dulu Mimpi beliau membangun Batam seperti apa. Juga ke menteri keuangan, yang selama ini menaungi BP Batam," ucap Ketua Kadin Batam, Jadi Rajagukguk.

Mereka pun berharap‎ agar pemerintah pusat tidak terburu-buru dalam memutuskan ‎mengenai Batam ke depan.

"Daripada gaduh soal bubar atau tidak BP Batam, atau soal konsepnya, lebih baik kita bicarakan substansinya. Jadi bukan atributnya saja," kata Gita Indrawan, anggota tim sembilan dari perwakilan akademisi.

Menurut Gita, hampir semua lapisan masyarakat, kelompok maupun organisasi mengemukakan pendapat serta memberi satu rekom‎endasi yang membuat Batam lebih baik sejak informasi pembubaran BP Batam digulirkan oleh Mendagri.

‎Namun sayangnya, dalam rapat terbatas yang telah dilaksanakan di Jakarta beberapa kali tidak melibatkan banyak orang daerah yang lebih memahami Batam.

Belum lagi, ada sebuah aturan yang juga tidak pernah diangkat ke permukaan, padahal berhubungan dengan kondisi kekhususan Batam selama ini.

"Kita tidak pernah dengar rapat itu ada membahas juga soal Inpres nomor 13 tahun 2015 tentang kebijakan fasilitas perdagangan bebas di dalam negeri. ‎Kalau semua boleh perdagangan bebas semua, apa gunanya FTZ kita. Jika FTZ Batam cuma insentif dari fiskal, maka mau itu konsep FTZ, KEK, atau bonded zone tidak jadi menarik lagi, karena kita sudah masuk era MEA. Era MEA kan memang tidak pakai pajak lagi, kendalanya paling karena MEA itu hanya negara-negara ASEAN. Memang pengusaha asing yang ada di Batam bukan ASEAN, tapi pekerjaan lebih banyak datang dari Singapura," tutur Gita Indrawan.

‎Gita mengingatkan bahwa Batam dibangun untuk mendorong percepatan ekonomi dan investasi Indonesia.‎

Gita berharap apapun keputusan pemerintah pusat nantinya bisa membuat Batam lebih Berdaya saing.

"Jadi kita harus bisa menarik benang merah dari masalah yang sebenarnya, bukan cuma gadung membubarkan BP Batam atau memajukan Pemko Batam. Apapun namanya, gunanya hanya mengedepankan Batam. Perlu diingat, Batam juga memiliki perbedaan dengan delapan KEK yang ada di Indonesia," tutur Gita. (*)

Penulis: Anne Maria
Editor: Sri Murni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved