Pencaker di Batam Tinggi, Serikat Pekerja Diminta Kurangi Demonstrasi dan Mogok Kerja

Sekretaris Komisi ‎IV DPRD Batam meminta agar aksi demonstrasi dan mogok pekerja tidak banyak dilakukan.

Pencaker di Batam Tinggi, Serikat Pekerja Diminta Kurangi Demonstrasi dan Mogok Kerja
Facebook/dwi irawan
Para pencari kerja berdesakan di Batamindo, Mukakuning, Batam, Jumat (5/2/2016). 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, BATAM- Melihat tingginya angka pencari kerja (Pencaker) di Batam, Sekretaris Komisi ‎IV DPRD Batam yang membidangi tenaga kerja, kesehatan dan pendidikan, Udin P Sihal‎oho, meminta agar aksi demonstrasi dan mogok pekerja tidak banyak dilakukan.

Dia menilai, aksi tersebut berpengaruh pada investasi di Batam.

Udin menyarankan agar pengurus serikat pekerja, juga dapat mencermati kondisi investasi dan pencaker saat ini.

"Saran saya, sebaiknya para pengurus serikat pekerja juga mencermati kondisi terkini.

Demo harus diminimalisir. Mogok kerja boleh dilakukan, selama tidak ada jalan lain. Demo dan mogok hanya alternatif terakhir," ucap Udin.

Sebaliknya, menurut legislator PDI Perjuangan itu, serikat pekerja justru bisa berperan untuk mendorong peningkatan investasi di Batam.

Contohnya, serikat pekerja ikut menjaga investasi agar tidak hengkang dari Batam.

"Serikat pekerja bisa membantu lewat kenyamanan investor. Kondisi saat ini memang sulit, perlu peran semua pihak,"kata Udin lagi.

Sementara ketua komisi IV, Riky Indrakari menambahkan peran pemerintah juga penting dalam hal ini.

Riky menilai pemerintah kota pun perlu melindungi tenaga kerja yang memang warga Batam asli.

"Pemko lewat disnaker bisa mendorong‎ supaya perusahaan-perusahaan mengutamakan para pencaker Batam. Bukannya mempekerjakan tenaga kerja asing. Atau yang dari luar Batam," ucap Riky.

Apalagi, saat ini skill para pekerja di Batam pun sudah mumpuni dan tak kalah saing dengan tenaga kerja asing.

Pemerintah juga harus bisa mencegah masuknya para pencaker luar Batam, utamanya yang tidak memiliki skill.

"Harus ada upaya untuk itu juga, karena cukup banyak juga arus orang masuk dari luar. Umumnya mereka unskill. Itu kalau yang dari dalam, kalau dari luar yah diminimalisir TKA itu. Pekerja kita mampu kok, kalau sekarangkan untuk ngelas, tool maker rata-rata masih pakai tenaga kerja dari India itu," tutur Riky.‎ (*)

Penulis: Anne Maria
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved