Ketika Orang-orang Minang Sempat Takut Menggunakan Nama Asli Daerah Mereka

Menjelang Orde Baru runtuh, ketakutan sejarah meluntur sehingga orang Minang semakin berani menunjukkan dirinya meskipun tidak terang-terangan

Ketika Orang-orang Minang Sempat Takut Menggunakan Nama Asli Daerah Mereka
IPPHOS
Demonstrasi Aksi Massa Mahasiswa menyampaikan nota anti PRRI dan intervensi asing kepada Duta Besar Amerika H. Jones pada 25 Maret 1958. Pemerintah pusat kemudian menumpas gerakan PRRI lewat Operasi 17 Agustus yang dipimpin Letnan Kolonel Ahmad Yani. Setelah peristiwa tersebut, orang-orang Sumatera Barat seolah takut membuka diri sebagai orang Minang karena khawatir dikait-kaitkan dengan PRRI. 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM - Tidak ada nama yang lahir dari ruang kosong. Kepahitan, resesi, krisis, hingga perasaan bahagia mengilhami munculnya nama yang disematkan kepada jabang bayi.

Di Indonesia, dinamika politik memberi pengaruh penting dalam pemilihan nama-nama itu.

Marilah kita berangkat dari peristiwa Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia. Kala itu, terjadi hubungan yang tidak harmonis antara pemerintah pusat dan daerah sehingga Letnan Kolonel Ahmad Husein memproklamasikan berdirinya PRRI pada 15 Februari 1958.

Itu setelah orang-orang sipil didukung militer bertemu di Sungai Dareh, Sumatra Barat. Syafruddin Prawiranegara ditunjuk sebagai perdana menteri. Pemerintah pusat kemudian menumpas gerakan PRRI lewat Operasi 17 Agustus yang dipimpin Letnan Kolonel Ahmad Yani.

Setelah peristiwa tersebut, orang-orang Sumatera Barat seolah takut membuka diri sebagai orang Minang karena khawatir dikait-kaitkan dengan PRRI. Mereka memikul beban sejarah.

Untuk memutus beban itu, mereka tidak lagi memberi nama anak mereka dengan menggunakan bahasa Arab yang sebelumnya identik dengan orang Minang.

Mereka juga menghilangkan nama-nama lokal, seperti Piliang, Koto, dan Chaniago. Sebagai penggantinya, muncul nama-nama serapan dari Eropa, Latin, dan Rusia.

Maka, pada tahun-tahun setelah peristiwa PRRI itu, banyak orang Minang bernama sejenis Adilov, Azinov, Roberto, Hendri, Netty, Isabella, Maria, atau Kenedi.

Nama-nama itu kadang dibentuk berdasarkan bulan lahir, peristiwa, meniru orang ternama, atau penggabungan nama orangtua.

Misalnya muncul orang Minang bernama Philips Jusario Vermonte atau Imelda Maidir. Ada juga Donal Fariz yang kini aktif di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum.

Halaman
12
Editor: nandrson
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved