Bisnis Olahan Kakao Kini Masuki Masa Suram, Sejumlah Industri Tutup Usaha

Euforia dan semarak bisnis olahan kakao dalam tiga tahun terakhir mulai terhenti. Bahkan, masa depannya tampak pahit.

Bisnis Olahan Kakao Kini Masuki Masa Suram, Sejumlah Industri Tutup Usaha
pemeriksaanpajak.com
Kakao 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Masa suram tengah melanda industri pengolahan kakao atau biji coklat.

Euforia dan semarak bisnis olahan kakao dalam tiga tahun terakhir mulai terhenti. Bahkan, masa depannya tampak pahit.

Kesulitan mencari bahan baku biji kakao akibat penurunan produksi dalam negeri membuat kapasitas produksi industri olahan kakao merosot.

Beberapa perusahaan bahkan memutuskan untuk tidak lagi berproduksi.

Dengan perkiraan produksi biji kakao lokal tahun ini sebanyak 350.000 ton, kebutuhan industri mencapai 850.000 ton. Alhasil, industri olahan kakao harus mencari sebagian besar pasokan bahan baku kakao dari impor.

Piter Jasman, Ketua Umum Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI), menyatakan, krisis pasokan kakao terjadi karena produksi biji kakao di Tanah Air saat ini hanya 250 kilogram (kg) per hektare (ha) dari total luas kebun kakao sekitar 1,4 juta ha.

Padahal, sebelumnya produksi biji kakao bisa mencapai 500 kg per ha.

"Perkebunan sudah tua dan produktivitas rendah," ujarnya, Rabu (13/7/2016).

Ironinya, pemerintah seolah abai terhadap komoditas ini. Buktinya, dalam pemangkasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2016, anggaran pengembangan tanaman kakao dipangkas dari Rp 1,2 triliun menjadi Rp 325 miliar.

Opsi untuk impor pun juga semakin sulit dilakukan. Selain dikenai bea masuk sekitar 5%, negara eksportir kakao dunia, seperti Pantai Gading dan Ghana, juga mulai mengurangi produksi biji kakao.

Halaman
12
Editor: Sri Murni
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved