Saat Kredit Lagi Loyo, Perbankan Justru Raup Income Besar dari E-banking

Saat permintaan kredit masih sepi, perbankan terus menggenjot pemasukan komisi (fee based income) dari berbagai layanan.

Saat Kredit Lagi Loyo, Perbankan Justru Raup Income Besar dari E-banking
www.linkedin.com
Ilustrasi e-banking 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Saat permintaan kredit masih sepi, perbankan terus menggenjot pemasukan komisi (fee based income) dari berbagai layanan.

Salah satu andalan perbankan yakni fee based income dari layanan perbankan elektronik (e-banking).

Beruntung, seiring era digitalisasi, transaksi e-banking tumbuh pesat dan kebal perlambatan ekonomi. Dus, sejumlah bank besar percaya diri mematok pertumbuhan bisnis tinggi di lini bisnis e-banking.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan, transaksi e-banking BCA tumbuh lebih tinggi ketimbang transaksi di anjungan tunai mandiri (ATM) yang tumbuh 10-20 persen di semester I 2016.

Direktur Kredit BCA Rudy Susanto menambahkan, volume transaksi e-banking BCA mencapai 5 juta kali saban hari. “Bahkan pernah satu hari 15 juta transaksi,” ujar Rudy.

Lonjakan transaksi e-banking juga dialami PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI). Senior EVP IT BNI Dadang Setiabudi menyatakan, pertumbuhan transaksi e-banking BNI tumbuh pesat ketimbang tahun lalu.

Pertumbuhan tersebut didominasi oleh transaksi internet banking yang melonjak 50%. Disusul pertumbuhan transaksi SMS atau mobile banking yang tumbuh 40%.
"BNI TapCash juga tumbuh 40 persen,” jelas Dadang kepada KONTAN, pekan lalu.

Transaksi e-banking PT Bank Mandiri juga tumbuh pesat. Direktur Bank Mandiri Rico Usthavia Frans mengatakan, pihaknya optimistis mampu meningkatkan volume transaksi elektronik sebesar 20 persen hingga akhir tahun 2016.

Gambaran saja, nilai transaksi melalui mobile banking, internet banking dan uang elektronik Bank Mandiri menembus Rp 400 triliun per Juni 2016, naik dari Rp 330 triliun di Juni 2015. Di semester I 2016, volume transaksi mencapai 278 juta kali.

Hal yang sama dialami PT Bank Rakyat Indonesia (BRI). Dus, Direktur Konsumer BRI Sis Apik memasang target pertumbuhan fantastis.

BRI menargetkan pertumbuhan mobile banking sebesar 154 persen, internet banking naik sebesar 117 persen, dan uang elektronik BRIZZI melesat sebesar 146 persen sampai akhir tahun 2016.

Agar pertumbuhan tetap pesat, BRI menyiapkan tiga strategi untuk mendongkrak pertumbuhan bisnis e-banking. Salah satunya yaitu menambah produk atau fitur baru yang menghasilkan fee based income. BRI juga tengah meracik program untuk akselerasi peningkatan user dan transaksi.

Tak mau kalah, BNI pun telah menyiapkan beberapa strategi. Salah satunya yakni memanfaatkan layanan perbankan tanpa kantor (branchless banking) BNI.

Caranya, melalui kerjasama dengan pihak pemerintah daerah (pemda) untuk mengembangkan layanan e-commerce.

BNI juga mengembangkan sistem pembayaran pemda yang terintegrasi dengan e-banking. Strategi lain, menggandeng mitra TapCash BNI di industri pendidikan serta menambah agen. (kontan, Shuliya Indriya Ratanavara)

Editor: Sri Murni
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help