Kapal Pinisi Karya Napi Karimun Banjir Pujian

Pengapnya jeruji besi tidak sampai membuat kreativitas warga binaan alias Napi di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Tanjungbalai Karimun, mati.

Kapal Pinisi Karya Napi Karimun Banjir Pujian
tribunbatam/rachta yahya
Hasil kerajinan warga binaan di Rutan Karimun, Kamis (18/8/2016). 

BATAM. TRIBUNNEWS.COM, KARIMUN - Pengapnya jeruji besi tidak sampai membuat kreativitas warga binaan alias Napi di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Tanjungbalai Karimun, mati.

Sebaliknya puluhan hasil kerajinan tangan berkualitas tetap mampu mereka hasilkan.

Hal itu terlihat saat Rutan Kelas IIB Tanjungbalai Karimun memamerkan hasil kerajinan tangan warga binaan mereka saat perayaan Dirgahayu Kemerdekaan RI, Rabu (17/8/2016) yang dihadiri Wakil Bupati Karimun Anwar Hasyim dan sejumlah FKPD Karimun

seperti Wakil Ketua I dan II DPRD Karimun, Azmi dan Bakti Lubis, Kakanwil DJBC Khusus Kepri Parjiya, Kapolres Karimun AKBP Armaini, Sekda Karimun Arief Fadillah dan lainnya.

Pelbagai jenis kerajinan tangan seperti puluhan miniatur kapal pinisi, satu set perabotan kursi, miniatur motor gede (moge) dan lemari yang kesemuanya terbuat dari bahan kayu, mampu menyedot perhatian para tamu penting di Kabupaten Karimun itu.

Kepala Rutan Kelas IIB Tanjungbalai Karimun, Haswen mengatakan semua kerajinan tangan berkualitas itu murni hasil keterampilan warga binaannya. Hal itu sesuai dengan misi Kementerian Hukum dan HAM RI untuk mengikis kesan seram Rutan dan Lapas. Sebaliknya tetap memberikan pendidikan salah satunya keterampilan.

Meski terbilang berkualitas, kerajinan tangan warga binaan tersebut belum dipasarkan secara profesional melainkan hanya melalui mulut ke mulut. Kebanyakan pembeli adalah kerabat warga binaan yang datang berkunjung. Masalah harganya, pihaknya juga tidak mematoknya.

“Kalau suka beli, kalau tidak apa-apa juga. Yang terjual nanti uangnya buat beli bahan lagi untuk dipakai lagi oleh warga binaan,” terang Haswen.

Untuk memperoleh skil kerajinan tangan tersebut, tidak kepada semua warga binaan diberikan, melainkan kepada yang memiliki bakat saja. Untuk mengetahui bakat warga binaan, manajemen rutan melakukan tes wawancara perihal minat dan bakat seorang warga binaan.

“Karena tidak semua warga binaan memiliki minat. Kebetulan saat ini, kita baru punya program kerajinan tangan, perkayuan dan cetak batako. Itu di luar ada batakonya,” kata Haswen seraya menunjuk ke arah luar rutan.

Haswen berharap keterampilan yang diperoleh warga binaan selama menjalani masa hukuman di Rutan Kelas IIB Tanjungbalai Karimun bisa bermanfaat bagi mereka apabila sudah bebas nanti. Sehingga warga binaan bisa langsung beradaptasi kembali dengan dunia luar dan tidak berpikir untuk kembali ke rutan. (*)

Penulis: Rachta Yahya
Editor: Agoes Sumarwah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help