Banyak Warga Kepri Gagal Masuk Sekolah Polisi Gara-gara Penyakit Ini

Wakapolda Kepri mengingatkan Dinas Pendidikan Provinsi Kepri agar melakukan pemeriksaan penyakit THT dan kulit agar lulus masuk sekolah polisi

Banyak Warga Kepri Gagal Masuk Sekolah Polisi Gara-gara Penyakit Ini
tribunbatam/thom limahekin
Wakapolda Kepri Kombes Yan Fitri 

BATAM. TRIBUNNEWS.COM, BATAM - Wakapolda Kepri Kombes Pol Yan Fitri Halimansyah mengaku gembira, Kepri kini sudah memiliki Sekolah Polisi Negara (SPN) sendiri berlokasi di Tanjungbatu, Kabupaten Karimun.

Sebagai salah satu putra terbaik Kepri, perwira polisi kelahiran Tanjungpinang ini sempat miris, anggota polisi yang bertugas di Polda Kepri minim rekrutan putra-putri Kepri.

Yan bahkan mewanti-wanti anaknya untuk tidak ikut tes masuk Polri dari daerah lain. Melainkan dari Kepri sendiri. Ada suatu kebanggaan baginya, jika putra-putri Kepri bisa lolos menjadi polisi dan mengabdikan diri untuk daerah tempat tinggalnya di Kepri.

"Sekian tahun ada Polda Kepri, tapi tak ada SPN. Masih gabung dengan SPN di Pekanbaru," kata Yan, dalam rapat koordinasi Dinas Pendidikan Provinsi Kepri, beberapa waktu lalu di Batam.

Itu sebabnya, Yan gembira dengan kehadiran SPN di Kepri. Dengan begitu, dia berharap peluang putra-putri Kepri yang ingin menjadi polisipun semakin besar.

Di sisi lain, kehadiran SPN itu juga bisa melatih generasi pemuda Kepri menjadi pribadi yang tangguh.

"Di SPN yang ada di Tanjungbatu itu, sekitar 200 orang bisa diambil dari putra-putri Kepri. Jadi setelah lulus SMA, anak ini sudah tahu arah tujuannya mau kemana," ujarnya.

Kendati demikian, Yan juga memberikan masukannya kepada Dinas Pendidikan Provinsi Kepri. Agar dilakukan pemeriksaan kesehatan seperti THT dan kulit, untuk siswa tingkat akhir jenjang sekolah menengah atas.

Pasalnya, kedua penyakit inilah yang sering kali membuat gagal pendaftar, saat tes masuk Polri.

"Pada waktu dilakukan pemeriksaan kesehatan, dibuka bajunya. Ternyata ada masalah kulit. Makanya kami harapkan pemeriksaan kesehatan seperti THT dan kulit, bisa dilakukan untuk anak-anak kita yang sekarang kelas 3 SMA atau SMK," kata Yan.

Dalam rapat koordinasi itu, Yan juga memberikan masukannya kepada Disdik terkait permasalahan generasi muda saat ini. Mulai dari rendahnya nilai kebangsaan dan kearifan lokal, rendahnya moralitas hingga masalah narkoba.

"Masalah narkoba. Kita harus hati-hati. Mengenalkan barang itu kepada pelajar. Di Surabaya, anak SD sudah banyak yang kena narkoba," ujar laki-laki yang pernah menjabat Kapolrestabes Surabaya itu.

Yan menilai, masalah narkoba merupakan hal yang serius dan perlu dipikirkan secara khusus. Jika guru tidak memberikan perhatiannya kepada anak didik soal bahaya narkoba, generasi muda kedepan dikhawatirkan tidak memiliki masa depan yang lebih baik.

"Soal radikalisme juga perlu diperhatikan. Tanamkan nilai-nilai kebangsaan terhadap anak didik. Jangan sampai setelah lulus sekolah, mereka tidak punya arah. Ketemu kelompok tertentu, merasa nyaman kebutuhannya terakomodir, disuruh melakukan tindakan radikal, mau saja," kata Yan. (*)

Penulis: Dewi Haryati
Editor: Agoes Sumarwah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help