Arab Saudi Alami Defisit, Proyek 20 Miliar Dolar AS Dibatalkan dan Sejumlah Kementrian akan Dilebur

Pemerintah Arab Saudi melakoni berbagai cara demi mengurangi defisit anggaran.

Arab Saudi Alami Defisit, Proyek 20 Miliar Dolar AS Dibatalkan dan Sejumlah Kementrian akan Dilebur
KOMPAS.com
Abraj Kudai, sebuah hotel terbesar di dunia akan dibuka di kota Mekkah, Arab Saudi tahun depan. 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, RIYADH- Pemerintah Arab Saudi melakoni berbagai cara demi mengurangi defisit anggaran.

Salah satunya, negara eksportir minyak terbesar di dunia ini disebut berencana membatalkan sejumlah proyek dengan nilai investasi sekitar 20 miliar dolar AS.

Sumber yang mengetahui rencana tersebut membisikkan, bahwa Pemerintah Saudi sedang mengkaji ribuan proyek senilai 260 miliar riyal atau setara 69 miliar dolar AS.

"Dan kemungkinan membatalkan sepertiga dari nilai proyek tersebut," ujarnya seperti dilansir Bloomberg, Rabu (7/9/2016).

Langkah ini bakal berimbas pada penyediaan anggaran untuk beberapa tahun ke depan.

Tak hanya itu, Arab Saudi juga disebut akan melebur sejumlah kementerian dan menghapus beberapa departemen.

Pemerintah mengambil langkah ekstrim yang belum pernah dilakukan sebelumnya demi mengendalikan defisit anggaran yang membengkak jadi 16 persen dari produk domestik bruto pada tahun lalu.

Saudi juga membatasi penggunaan subsidi bahan bakar serta memotong miliaran dollar belanja pemerintah.

Meski demikian, Dana Moneter Internasional alias The International Monetary Fund (IMF) memperkirakan, kekurangan penerimaan alias shortfall akan turun di bawah 10 persen dari PDB pada 2017 mendatang.

Namun, Kementerian Keuangan dan pejabat Kementerian Ekonomi dan Perencanaan menolak berkomentar terkait rencana tersebut.

Sebelumnya, Pangeran Mohammed bin Salman berencana melakukan perombakan ekonomi terbesar dalam sejarah kerajaan untuk mengurangi ketergantungan ekonomi pada minyak setelah harga anjlok.

Rencana itu termasuk menjual saham di raksasa minyak Aramco.

"Strategi diversifikasi ekonomi yang dilakukan baru akan menghasilkan dalam jangka menengah hingga jangka panjang. Dalam jangka pendek, yang diupayakan adalah hidup di tengah kondisi harga minyak yang rendah, dengan memangkas sejumlah pengeluaran, dan pembiayaan yang tersisa melalui penjualan utang," ujar Raza Agha, Kepala Ekonom VTB Capital untuk Timur Tengah dan Afrika. (kontan)

Editor: Sri Murni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved