Agar tak Saling 'Memangsa', Hotel Baru Harus Buka Segmen Pasar Baru

PHRI menyatakan hotel-hotel baru harus memiliki segmentasi berbeda dari hotel yang sudah ada untuk menghindari persaingan tidak sehat.

Agar tak Saling 'Memangsa', Hotel Baru Harus Buka Segmen Pasar Baru
Sky-Inn Express Hotel di Perumahan Buana Vista Batam Centre 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, SEMARANG- Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Tengah menyatakan hotel-hotel baru harus memiliki segmentasi berbeda dari hotel yang sudah ada untuk menghindari persaingan tidak sehat.

"Khusus untuk di Kota Semarang, kami menyambut baik keinginan Wali Kota mengenai memperbolehkan hotel baru masuk Semarang selama segmentasi berbeda dari hotel yang sudah ada," kata Ketua PHRI Jawa Tengah Heru Isnawan di Semarang, Jumat (16/9/2016).

Dia bilang, langkah tersebut penting dilakukan mengingat akhir-akhir ini semakin banyak hotel baru yang masuk ke Jawa Tengah khususnya Semarang dan Solo.

Bahkan, dalam waktu dekat ini akan ada beberapa hotel berbintang yang masuk ke Kota Magelang.

Tidak menutup kemungkinan kondisi ini juga akan terjadi di beberapa kota lain di Jawa Tengah. Padahal, seharusnya hotel berbintang tidak harus ada di setiap daerah.

"Seharusnya antara daerah satu dengan yang lain saling menguntungkan, misalnya kalau hotel di Semarang kan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan tamu yang akan melakukan perjalanan ke Kendal, Demak, maupun daerah-daerah sekitar," katanya.

Kondisi tersebut juga berlaku di Solo. Masyarakat yang akan melakukan perjalanan ke wilayah Solo Raya dapat memanfaatkan hotel yang ada di Solo.

Dengan demikian, pembangunan hotel di Jawa Tengah tidak sampai menjamur seperti yang mulai terlihat akhir-akhir ini.

"Kalau ini dibiarkan tentu akan menjadi perang tarif, berbeda jika masing-masing hotel memiliki segmentasi berbeda misalnya khusus pelancong atau khusus melayani MICE (pertemuan, insentif, konvensi, dan pameran)," katanya.

Diakuinya, untuk di Jawa Tengah sejauh ini kontribusi MICE masih lebih tinggi dibandingkan dengan kontribusi dari tamu pelancong. Dari rata-rata okupansi 38-39 persen, kontribusi MICE sebesar 60 persen sedangkan sisanya pelancong.

Menurut dia, jika dibandingkan antara omzet MICE dengan pelancong lebih tinggi dari MICE karena hampir seluruh kegiatan dilakukan di hotel.

"Kalau MICE kan makan di hotel tiga kali sehari, mereka juga melakukan kegiatan selama beberapa hari. Berbeda dengan pelancong yang biasanya pagi-pagi sudah check out," katanya. (kontan)

Editor: Sri Murni
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help