Sosialisasikan Penyakit Atresia Bilier, Reni: Jangan Seperti Anak Saya

ika terlambat, maka satu-satunya jalan adalah dengan transplantasi hati yang mungkin akan menelan biaya sampai Rp 1 miliar

Sosialisasikan Penyakit Atresia Bilier, Reni: Jangan Seperti Anak Saya
Sanggar Mawar Tanjoeng membagikan pamflet tentang penyakit Atresia Bilier di Karimun 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, KARIMUN - Bermula dari pengalaman pribadi ketika anaknya didiagnosa mengalami penyakit atresia bilier, Reni Wahyudi merasa terpanggil untuk mensosialisasikan penyakit itu ke masyarakat.

Bersama 24 orang rekan-rekannya sesama anggota Sanggar Mawar Tanjoeng, Kecamatan Kundur, Reni menggelar sosialisasi mengenai Atresia Bilier di pertigaan SDN 003/004 Tanjungbatu, Kundur.

Mereka membagikan brosur dan pamflet berisikan tentang Atresia Bilier kepada setiap warga yang mereka jumpai.

"Anak saya diketahui mengidap Atresia Bilier pada umur dua bulan setelah menjalani pengecekan dan telah menjalani operasi kasai pada usia 74 hari di Johor, Malaysia. Saat ini kondisi anak saya sudah membaik dan sudah bisa bermain seperti anak-anak seusianya. Tetapi, ia masih harus melakukan cek kesehatan setiap bulannya," ujar Reni.

Reni juga mengatakan, kondisi tubuh anaknya yang dulu warna kuning, kini sudah mulai menghilang karena empedunya sudah mulai bekerja lagi.

Atresia Bilier adalah suatu kondisi bayi yang saluran empedunya tidak terbentuk dengan sempurna.

Kondisi itu bisa terjadi pada saluran empedu yang ada di dalam maupun di luar liver atau hati. Kondisi ini menyebabkan tidak mengalirnya cairan empedu ke usus dua belas jari sebagaimana mestinya.

Sehingga cairan empedu yang terus diproduksi liver dan hati akan menumpuk di area liver dan hati. Kondisi ini berujung kepada kegagalan fungsi liver dan hati.

"Jika dapat diketahui dari awal, dapat dilakukan operasi Kasai pada penderita. Yaitu dengan membuat saluran pembuangan. Namun, operasi hanya boleh dilakukan pada usia bayi kurang dari 3 bulan. Jika terlambat, maka satu-satunya jalan adalah dengan transplantasi hati yang mungkin akan menelan biaya sampai Rp 1 miliar," kata Reni.

Kondisi ini terjadi pada bayi di awal kelahiran. Tidak ada solusi kesembuhan pada penderita Atresia Bilier selain dengan mengganti liver atau hati melalui transplantasi hati.

Namun, jika ditangani dengan segera, masih ada upaya yg bisa dilakukan yaitu dengan membuat saluran empedu baru. Prosedur ini biasa disebut "operasi kasai" .

"Atresia Bilier bukanlah penyakit menular dan bukan penyakit keturunan. Atresia Bilier pada bayi dapat diketahui dari tanda-tandanya antara lain tubuh, mata bayi kuning selama lebih dari dua minggu, tinja berwarna putih dempul dan berat badan tidak tumbuh secara normal," terangnya. (yah)

Penulis: Rachta Yahya
Editor: Alfian Zainal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help