Nobel 2016

Bikin Mesin Lebih Tipis dari Rambut, Tiga Peneliti Ini Menangkan Nobel Kimia

Nobel Kimia tahun 2016 diberikan pada tiga ilmuwan yang meletakkan fondasi untuk menciptakan mesin terkecil di dunia, lebih tipis dari rambut manusia

Bikin Mesin Lebih Tipis dari Rambut, Tiga Peneliti Ini Menangkan Nobel Kimia
nobelprize.org
Jean-Pierre Sauvage, Sir J. Fraser Stoddart, dan Bernard L. Feringa, pemenang Nobel Kimia 2016. 

BATAM. TRIBUNNEWS.COM -Nobel Kimia tahun 2016 diberikan pada tiga ilmuwan yang meletakkan fondasi untuk menciptakan mesin terkecil di dunia, mesin yang ribuan kali lebih tipis dari rambut manusia.

Mesin terkecil itu kini memungkinkan Jerman membuat senyawa anti-kanker combretastatin A-4 yang dijanjikan menyembuhkan kanker tanpa merusak sel sehat.

Adalah Jean-Pierre Sauvage, Sir Fraser Stoddart, dan Bernard Feringa yang berperan memicu pembuatan mesin tingkat molekuler itu.

Mesin berskala nano sebenarnya sudah diimpikan sejak tahun 1950-an. Richard Feyman, fisikawan peraih nobel, mengungkapkan bahwa mesin macam itu akan memnbawa masa depan cerah.

Mesin itu menjadi nyata lewat tahapan penelitian yang rumit, memakan waktu setidaknya 30 tahun hingga benar-benar bisa diaplikasikan.

Sauvage memulai dengan inovasi berharga pada tahun 1983, membuat dua cincin molekuler yang bisa dimanipulasi dengan mudah. Ia memodifikasi sedemikian rupa sehingga cincin itu mengelilingi satu sama lain.

Kemudian, tahun 1991, Stoddart menciptakan roda molekuler. Roda itu bisa berputar dengan axis tertentu, didayai oleh tumbukan molekul di sekitarnya. Bagusnya lagi, roda itu bisa menyimpan informasi.

Feringa kemudian berhasil membuat motor molekuler pada tahun 1999. Inovasinya menyempurnakan usaha dua ilmuwan sebelumnya, mewujudkan mesin molekuler.

Dari inovasi itu, bisa tercipta semacam mobil nano yang bisa bergerak di lintasan mikroskopik membawa muatan tertentu.

Sara Snogerup Linse, anggota komite nobel, mengatakan, penciptaan mesin terkecil di dunia ini penuh tantangan. Ilmuwan harus bisa menciptakan molekul yang ikatannya mudah dimanipulasi.

"Tantangan lain adalah molekul yang cenderung ingin mencapai kesetimbangan. Jadi, sangat sulit menciptakan gerakan molekul pada arah tertentu," katanya seperti dikutip Washington Post, Rabu (5/10/2016).

Penemuan motor molekuler ini sama revolusionernya dengan penemuan motor elektrik pada 1830 yang kemudian memicu beragam inovasi seperti kereta, pesawat, hingga mesin cuci.

Feringa yang menjadi profesor kimia organik di University of Groningen mengatakan bahwa dirinya merasa terkejut saat menerima nobel.

"Saya merasa seperti Wright Brother yang terbang untuk pertama kalinya 100 tahun lalu. Orang berkata, mengapa kita butuh pesawat? Dan sekarang kita berada dalam Boeing 747 dan Airbus," katanya.

Feringa mengungkapkan, mesin terkecil di dunia ini membuka banyak kemungkinan penerapan. Pada saat yang sama, harus dipastikan bahwa inovasi ini diperlakukan dengan baik, bertujuan untuk kemanusiaan. (*)

Editor: Agoes Sumarwah
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved